
Japhar pun berlari kembali. Dia segera menyalakan mesin mobilnya yang ada diparkiran belakang gedung. Dengan kecepatan tinggi dia mengendarai mobilnya hingga tiba ke rumah.
''Dimana dia?'' Setibanya dalam rumah, dia langsung sibuk mencari Jia. namun dia tak dapat menemukan Jia. langkahnya menelusuri setiap ruangan yang ada dalam rumah itu.
''Jia?'' Dia membuka pintu kamarnya perlahan dan mendapati istrinya yang tengah sibuk berberes. satu persatu helai pakaian dimasukkan Jia rapi kedalam kopernya.
''Mau kemana kamu?''
''Pisah sama kamu.''
"Ga bakal.''
''Maafkan aku, sayang... selama ini aku telah berbuat kesalah pahaman. kenapa kau tak berbicara sejujurnya? apa yang terjadi padamu?'' Ucap Japhar lirih, dia mencengkeram bahu Jia erat menghadapnya.
''Salah paham? kamu ga salah tuan Mi. selama ini aku yang salah kan? benar begitu...'' Jia menatap Japhar balik dengan seulas senyuman licik nan menyeringai sambil menepis tangan Japhar yang begitu kuat mencengkram nya.
''Cukup!'' Tegas Japhar. wajahnya kelihatan kesal.
''Memang begitu kan selama ini?'' Bantah Jia sekali lagi. Tanpa berfikir panjang, Japhar menariknya hingga terjatuh keatas ranjang.
''Jangan katakan itu lagi. sekarang aku lebih menginginkan dirimu...'' Goda Japhar kepada Jia. Jia yang terkejut langsung membulatkan kedua bola matanya.
Perlahan Japhar membuka kancing baju yang dikenakan Jia. dia menyentuh setiap lekukan tubuhnya dengan ciuman. Jia tak bisa meronta lagi.
''Kamu... kamu minta aja sana sama istri kamu yang satu lagi!'' Jia memekikkan kemarahannya di depan Japhar. walaupun wajahnya sudah memerah, dia berusaha menutupi nya. Japhar yang mendengar perkataan nya langsung tersenyum lebar.
''Minta gimana? orang dia ga istri ku kok.''
''Hah? maksudnya?'' Gumam Jia dalam hatinya. wajahnya terpaku mendengar perkataan Japhar barusan. namun dia enggan bertanya kepada Japhar.
__ADS_1
''Kami hanya bersandiwara depanmu. ntah mengapa, aku terbakar api cemburu ketika kamu mengaku kalau Hongli dan kamu sudah bersama. ternyata...'' Jelas Japhar tanpa pertanyaan dari Jia. namun semuanya menjawab rasa penasaran Jia. Tak semuanya... Jia bukannya lega tapi terlihat kesal.
''Kamu... kau bodoh!'' Kata Jia dengan lantang. sementara Japhar mengabaikannya, jari-jarinya tetap bermain di atas tubuh Jia.
''Iya! aku memang bodoh! aku bodoh dihadapan wanita pertama ku! aku membenci wanita, aku tak tahu harus memperlakukan mereka seperti apa. tapi semenjak kehadiran mu. Bahkan aku sangat-sangat takut untuk kehilangan mu.''
''Kekhawatiran ku membuatku menjadi bodoh seperti ini...''
Seketika Jia membatu mendengar penjelasan dari Japhar. rasanya itu terdengar tulus dari ucapannya. memang dia kelihatan wibawa, sempurna. perawakannya baik, bertanggung jawab dan dapat mengurus perusahaan dengan baik. baik dalam taktik bisnis. Apalagi wajah dan tubuhnya, termasuk perut sixpack dan badan gagahnya tidak terlihat pada usia yang umumnya. Namun dihadapan Jia, tetap saja dia seorang manusia yang bodoh. haus akan cinta. Hatinya bahkan tak bisa menerima cinta.
''Iya! kamu bodoh! aku membenci mu! lepaskan aku...'' Jia meronta kembali, permainan Japhar makin mendalam di atas tubuhnya. Japhar mulai membuka kemeja nya. kini keduanya tak tertutupi oleh sehelai kain pun.
Dia mencium bibir Jia aktif. memainkan lidahnya. Permainan semakin dalam lagi.
''Ah! tidak jangan lakukan itu!''
''Nikmati saja permainan ini. aku sudah lama tak mendengar desahan mu itu.''
''Tapi, mencintai mu itu sangat menyakitkan.'' Rintih Jia dalam hatinya.
Sore itu mereka menghabisi waktu bersama di balik selimut putih.
-------------------------------------------
Japhar yang lelah merebahkan dirinya disamping Jia yang terlihat sangat kelelahan. Dia enggan menatap Japhar. Japhar pun beranjak dan berlalu pergi ke kamar mandi.
-----------------
''Halo kak? Kakak mau datang?'' Jia mengangkat sebuah panggilan dari ponselnya. tak lain pemanggil nya adalah Hongli.
__ADS_1
Jia langsung mematikan telfonnya singkat setelah mengetahui maksud kakaknya itu.
tak lama kemudian, Japhar menghampiri nya. rambutnya masih basah. dia hanya mengenakan sebuah handuk yang menutupi separuh badannya.
''Siapa itu?''
Jia mengabaikan Japhar yang barusan bertanya. dia segera berlari ke kamar mandi tanpa sehelai kain pun.
Malam Harinya, seperti yang dijanjikan. Hongli datang ke rumahnya. Namun kali ini dia membawa Ibu Tiri dan Adik Tirinya Jiao.
''Kakak? Dan kau wanita tua licik...'' Matanya sinis melirik Ibu Tirinya yang hendak menghampiri Japhar saat tiba disana.
''Mulai sekarang hentikan akting ini.'' Tegas Japhar kepada ibu tiri Jia. dia dibuat malu sendiri.
----------------------------------------
Seusai makan malam, Hongli, Jia dan Japhar pergi ruangan yang ada di atas. Ketiganya tampak serius. Berulang kali Jia memainkan jarinya, sambil menatap kesengitan antar Hongli dan Japhar.
''Jadi kamu mau tinggal bersamanya kembali?'' Tanya Hongli. seketika keheningan antar mereka bertiga terpecah.
''Lagipula belum ada kata pisah antar kami.'' Jawab Japhar dengan tenang.
''Asalkan kalian dapat menerima Zizi menjadi bagian keluarga kita. Dan menjadi anak angkat Jia.''
''Aku menerima anak kecil itu kok. Jia juga sudah menganggap nya sebagai anaknya sendiri.'' Ujar Hongli sambil menatap wajah Japhar lekat.
''Terus?''
''Tapi cara kalian menyakiti Jia selama ini, membuatku sedikit ragu.'' Hongli langsung menatap Jia yang sibuk memainkan jarinya, dan menyimak ketegangan situasi.
__ADS_1
Bersambung