
Jia mencium bibir Japhar aktif, tak lama kemudian bibir keduanya terpisah. dia menarik tangan Japhar menuju kamar. Setibanya di dalam kamar, Jia mendorong Japhar hingga jatuh ke ranjang.
Akhirnya pada malam gelap gulita itu mereka menghabisi malam panjang bersama.
''Aku mencintai mu, sayang.''
Keesokan Harinya - - -
Jia terbangun di kamarnya dihiasi remang cahaya sinar matahari pagi itu. dan segera bangkit. Rasanya seluruh tubuhnya ingin patah. Ingin rasanya dia mengambil cuti untuk hari ini.
''Ngga usah deh, daripada numpuk kerjaan.'' Gumamnya kala itu.
.
.
.
.
Setibanya di kantor... Baru saja dia memasuki ruangannya, handphone di dalam saku kemejanya berdering. Dilihatnya seseorang mengirim pesan pada nya. Ternyata yang tak lain adalah kakaknya.
''Kakak?''
Jia sayang, kakak pamit pulang. Jaga dirimu baik-baik disini ya.
''Itu pasti.''
Jia sempat berfikir tadi pagi saat ia hendak bersiap ke kantor, kenapa sampai sekarang dia masih belum hamil? Di benaknya selalu muncul pertanyaan itu.
Mungkin sebaiknya besok aku akan memeriksa ke dokter, apa ada yang salah dengan ku? Atau aku memang tidak bisa punya keturunan? Pikir Jia kala itu.
Namun perubahan nasib terjadi siang itu...
Saat itu jam dinding sudah menunjukkan pukul 12.30 waktunya untuk jam makan siang.
''Kenapa tiba-tiba seperti ini, uhh.'' Gerutu Jia kesakitan.
Jia berjalan menyeret langkahnya, mendadak tubuhnya lemas. dia merasakan mual berat. Sampai seseorang datang membuka pintu ruangannya dengan tergesa-gesa.
''Presdir Jia, ada dokumen yang harus ditanda- '' Suara Ze tertahan, saat melihat wajah Jia yang begitu pucat, menahan sakit.
''Kita ke rumah sakit sekarang!''
__ADS_1
- - -
Jia mulai membuka matanya perlahan setelah 30 menit jatuh pingsan, dia memperhatikan sekitar. Seperti nya dia ada di kamarnya sendiri. Terlihat Ze yang sedari tadi setia menunggunya
''Nyonya, anda tidak kenapa-kenapa?''
''Engga, saya ga kenapa-kenapa. Emangnya ada apa? Apa ada yang salah?'' Tanya Jia keheranan.
''Tadi saya memanggil dokter, dokternya mengatakan kalau anda sedang mengandung.'' Ucap Ze dengan senyum manis tergurat dari bibirnya.
''Akhirnya...'' Batin Jia bahagia.
Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar dengan tergesa-gesa. terdengar deruh nafasnya yang begitu keras tak beraturan setelah berlari cukup jauh.
''Kamu ga apa-apa...'' Kata Japhar dengan lusuh nya menghadap Jia.
''Ga apa-apa kok.'' Ucap nya dengan seutas senyum.
''Kamu, keluar dulu.'' Ze yang tau bahwa kalimat itu tertuju padanya segera beranjak pergi meninggalkan mereka berdua tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
''Aku punya kabar baik loh.''
''Apa itu?''
''Hamil?!''
Hati Jia membludak bahagia, Jia pikir suaminya akan senang mendengar kabar itu. Tapi ekspresi wajah Japhar tidak memperlihatkan wajah kebahagiaan, melainkan tidak senang.
''Kamu kenapa?'' Tanya Jia keheranan sembari memperhatikan wajah suaminya itu kikuk.
''Aku ga ingin anak itu. Segera aborsi bayi itu'' Kata Japhar setengah berbisik.
Jia terkejut mendengar perkataan Japhar barusan. seolah itu bukan Japhar. Japhar tak pernah seperti ini, dia manusia yang punya hati. begitulah pikiran Jia.
''Engga! Ga bakal!'' Jia memundurkan langkahnya menjauh dari Japhar. hingga menatap dinding.
''Berhenti di situ! Jangan sentuh anak ku!''
Japhar pun menghentikan langkahnya ketika melihat wajah istrinya yang begitu ketakutan bak seorang tikus yang ingin di makan oleh singa. Namun wajah nya memucat tak berdaya.
''Tenang dulu... Aku ga bermaksud...''
''Sejak kapan kau menjadi manusia yang tak memiliki hati seperti ini?!'' Japhar terkejut akan perkataan yang dilontarkan oleh istri nya itu.
__ADS_1
''Diam!''
Jia tak kuasa menahan tangisnya. Air mata terus terjatuh dari pipinya. ia senggugukan di pojok kamar itu. Japhar mencoba mendekati nya sekali lagi. dan langsung meraih kedua tangan Jia lalu mencengkeram nya.
''Kamu...''
''Kamu boleh lahirkan anak itu, aku juga bakal bertanggung jawab sebagai ayah dari anak itu dan menyayangi nya sebagai anak ku. Tapi kamu harus menutup grup perusahaan Li untuk selamanya. Kamu setuju? Anak itu, atau perusahaan Li? Itu tergantung kamu, sayang.''
Baaam! Pintu Terbanting
''Siapa?!'' Sentak Japhar terkejut
''Tuan gawat!'' Tian datang dengan terburu-buru nya tanpa melihat situasi
''Eh?''
''Maaf Tuan, aku mengganggu. Tidak seharusnya...''
''Hentikan omong kosong mu, ada masalah apa?'' Tanya Japhar keheranan.
''Proyek kita, di kota X bulan lalu, pembangunan tidak berjalan sesuai rencana. Diduga ada kesengajaan di sebaliknya.'' Jelas Tian, sementara Jia hanya menyimak.
''Siapkan jadwal keberangkatan, kita akan segera kesana. Jangan membuang waktu. Ini masalah serius.''
Tian langsung melaksanakan titah dari Japhar. Dan Japhar segera membereskan kopernya. Jia menghampiri Japhar yang tengah berberes itu.
''Aku akan membantu mu.'' Kata Jia dengan lembut.
''Ga usah!'' Japhar menepis tangan Jia yang hendak mengambil sepotong pakaian.
''Kamu pikirkan saja yang tadi.'' Kata Japhar dengan sinisnya, membuat Jia menjauh.
-
''Tian, ayo berangkat.''
Di perjalanan menuju bandara, Keduanya sama-sama membatu. Japhar hanya memandang kosong keluar jendela, mengingat kelakuannya kepada Jia tadi.
Aku hanya ga ingin anak kita malu, memiliki seorang Ayah yang sudah tua seperti ku ini.
.
Bersambung
__ADS_1