
Pagi-pagi sekali ibu dua anak itu sudah sibuk membereskan kopernya. Dia memasukkan beberapa potong pakaian dalam koper nya. tak lupa peralatan bayi di sisihkan nya di tas lain.
''Jia? cepat sedikit, ntar keburu siang lho.'' Hongli menghampiri Jia yang tengah berberes dikamarnya.
Seusai semuanya beres. Mereka berlima pun berangkat ke kota B. dari jalur udara.
Zizi sangat tak sabar bertemu dengan ayahnya itu.
''Nyonya sudah tiba!'' Teriak Bi Lyna bahagia dari dalam rumah, yang tak sengaja mendengar suara tawa Jia di luar. Dia berlari membukakan pintu, langkahnya begitu bersemangat.
''Bi Lyna?''
''Nyonya... bagaimana keadaan mu?'' Tanya Bi Lyna lirih, tatkala melihat anaknya yang telah hilang selama 3 bulan lebih tanpa jejak. dia tak kuasa menahan haru. Dilihatnya Jia mendorong sebuah stroller baby. Begitu juga dengan Hongli yang membuntuti Jia dari belakang.
''Bayinya sudah lahir?'' Jia hanya tersenyum dan mengangguk menjawabnya. tanpa berfikir panjang, dia langsung memeluk Jia erat. tak kuasa menahan ke khawatiran nya selama ini.
''Kenapa rasanya begitu familiar? rasanya aku hangat dan aman ketika aku berada dipelukan ini. rasanya aku ingin lebih...'' Gumam Jia dalam hatinya. seperti ada getaran batin antara mereka berdua. Jia langsung membalas pelukan Bi Lyna itu.
Hongli yang melihatnya hanya melirik Bi Lyna tajam. seperti memberi isyarat agar dia melepaskan pelukannya itu. wanita paruh baya dengan nama asli Mi Sa ini langsung melepaskan pelukannya dan menatap Jia kembali dengan lembut. sekilas saling tatap antar anak dan ibu.
''Eh - ehmm, selamat datang kembali Nyonya Jia.'' Bi Lyna sedikit berlari ke ambang pintu. dan menunduk hormat sebagai tanda sambutan. tangannya mempersila masuk ke dalam.
Jiia pun melangkah kakinya kedalam rumah. Namun aneh rasanya, rumah itu kelihatan hening dan sepi. tidak ada tanda-tanda Japhar disini.
''Maaf nyonya. Tuan Japhar sudah berangkat ke kantor sejak tadi pagi. Saya akan mencoba menelfonnya.'' Jelas Bi Lyna seraya menggapai sebuah telfon yang terletak di atas meja kayu itu.
----------------------------------------
Malam tiba, Japhar juga tak kunjung pulang. Hongli telah pamit sejak sore tadi. Sementara Jia masih saja menunggu kepulangan suaminya itu.
''Hari ini cepatlah berlalu...'' Gumam Jia yang berdiri di balkon kamar. Matanya fokus menatap langit-langit malam.
Dia terhenyak kaget saat terdengar suara langkah menghampiri nya.
''Japhar?''
''Kau sudah menunggu lama? Dimana anak ku? Aku ingin melihatnya.'' Ucap Japhar saat melangkah ke arah Jia. Dia terlebih dahulu menghampiri Jia.
''Disana...'' Jia menunjuk ke arah box bayi yang ada di sudut kamar.
''Kau kembali? Baguslah... lain kali jangan pernah kabur lagi dari ku.'' Katanya Lirih sambil menatap Jia sinis.
''Bayiku kembar ternyata... ayah bahkan tak mengetahuinya sayang...'' Japhar membelai kedua pipi bayinya itu.
__ADS_1
Sementara Jia hanya tersenyum melihatnya. Ia memutuskan untuk tidur deluan, daripada harus ribut dengan Japhar malam ini. Dia pun naik ke atas ranjang. Sementara Japhar langsung pergi ke kamar mandi, untuk membersihkan dirinya.
''Kau sudah tidur?'' Seusai mandi, Japhar menghampiri Jia di kasur. Jia membalikan badannya dari Japhar. sebenarnya, matanya enggan terpejam.
''Dimana Hongli? Kau sudah berpisah dengannya? heuh?'' Tanya Japhar dengan nada sedikit menggoda.
Jia hanuabmengabaikannya. Dia tak menjawab pertanyaan aneh itu.
''Ku harap itu jawaban dari 'IYA'.'' Japhar naik ke ranjang, dan terlelap disisi Jia.
---------------------------------------------
Siang hari itu, Japhar berpesan kepada Jia untuk mengantar makan siangnya ke kantor. Seperti yang diperintahkan Japhar, kini dia sudah berada di halaman perusahaan Mi.
Banyak orang sibuk berlalu lalang di depan gedung itu, sementara Jia hanya mengenakan pakaian biasa.
''Budu ah.'' Jia memutar bola matanya jengah saat orang-orang menatapnya heran. Namun dia terlihat tak peduli, dan langsung menaiki lift.
Setibanya di lantai paling atas. dia langsung berlari ke depan pintu ruangan Japhar. dengan sedikit ragu dia membuka pintu itu.
''Sayang... aku mau ini.'' Goda ibu tiri Jia kepada Japhar. mereka terlihat seperti pasangan, bahkan tatapan mereka seperti orang yang sedang mabuk asmara.
''Ibu?'' Gumam Jia dalam hatinya. seketika dia terpaku dihadapan mereka. Japhar mengabaikan kehadiran Jia, dia melanjutkan aktingnya itu.
''Kau harus sopan sedikit dengan istri baru ku.'' Japhar menyeringai.
''Istri?''
''Mulai hari ini kita akan berbagi suami, Jia anak ku....''
''Jia, kalau kamu bisa kenapa aku ga bisa berbuat seperti ini?'' Seringai Japhar sekali lagi, ia menatap Jia sinis.
''Kamu gila? Hah? Dasar perempuan tak tahu diri! kau merebut Ayahku! Kau merebut kebahagiaan ku. Sekarang kamu mau rebut suamiku? Kau memang tak punya hati.'' Teriak Jia sekali lagi, namun hatinya hancur. air mata tak kuasa tertahan.
Japhar terpaku dibuatnya, dia sedikit iba dengan yang dikatakan Jia. Jia langsung menjatuhkan bekal yang dia pegang. Dia berlari keluar, Japhar hendak menggapai tangannya. Namun ia tak bisa.
''Aku ceroboh sekali... aku bodoh, api cemburu ini terlanjur menghanguskan hati ku.'' Japhar tersungkur di lantai ruangan itu.
Sementara Jia, ia turun kelantai bawah dia berpapasan dengan Tian. Tian yang hendak menyapa langsung mengurungkan niatnya.
''Nyonya tunggu!'' Tian akhirnya dapat menggapai tangannya, segera dia menarik Jia kehadapan nya.
''Lepaskan aku!'' Matanya menatap Tian sangat tajam. Tian sedikit ketakutan dibuatnya, akhirnya dia melepaskan tangan Jia.
__ADS_1
''Pasti tuan berbuat kesalahan lagi.''
Jia berlari terus berlari keluar. walaupun semua mata tertuju padanya. Ia tak peduli lagi.
Setibanya di luar, ketika dia hendak menghentikan sebuah taxi yang ada dihadapannya. Sebuah mobil melaju menghampiri nya.
''Jia? kamu kenapa?'' Seseorang keluar dari mobil. Tak lain ia adalah Hongli. Suaranya lirih, tatkala melihat mata adiknya sedikit bengkak karna menangis.
-----
Hongli membawa Jia kedalam mobilnya, Jia mencoba menenangkan dirinya yang senggugukan. Dia mencoba bercerita apa yang terjadi pada nya dan Japhar.
''Kamu kenapa ga kasih tau yang sebenarnya?'' Tanya Hongli penasaran, nada bicara nya terdengar kesal.
''Aku takut dia ga akan percaya dengan ku. Apalagi Sera, adalah adik iparnya sendiri. dia lebih mempercayai Sera.'' Jawab Jia lirih, sembari menghapus air mata di yang terus terjatuh dari pipinya.
Hongli langsung beranjak keluar dari mobil. Kebetulan sekali, dia mendapati Japhar yang terlihat kikuk seperti mencari seseorang di luar gedung perusahaan Li.
''Hongli?'' Mata Japhar langsung tertuju kepada Hongli yang berjalan menghampiri nya.
''Sini kamu!'' Hongli menarik tangan Japhar menuju sebuah gang sepi yang tak jauh dari situ.
''Mau apa kamu?''
''Kamu beraninya menyakiti adik ku! dan sekarang kamu menikah dengan nyonya besar Li. dimana hatimu, manusia?'' Hongli memekikkan kekesalannya di gang sempit dan sepi itu. Sengaja dia mengajak Japhar kesini, agar tak terlihat keributan di sana.
''Kamu yang tak tahu malu. Kamu menikahi adikmu sendiri. berapa kali kamu tidur dengan istriku?'' Japhar menyeringai balik.
''Maksud kamu?''
''Jia yang bilang sendiri, kalau kamu sudah bersama dengannya. aku mengira karna itu Jia pergi dari rumah.'' Jawab Japhar dengan tenang, menjawab semua rasa penasaran Hongli.
''Tuan Mi, seperti nya kamu sudah salah paham. kau melakukan kesalahan besar. menyakiti hati seorang wanita yang tak bersalah.''
Japhar hanya terpaku karna tak mengerti maksud perkataan Hongli barusan.
''Dia sangat mencintai mu. dia ga pernah mengkhianati mu. dia punya alasan sendiri kenapa dia pergi. itu bukan kesalahannya. sebaiknya kamu berbicara dengannya. Jangan pernah menyakiti nya lagi. cam kan kata-kata ku. bersikap dewasalah sedikit.'' Hongli menepuk bahu Japhar yang terpaku, dia berlalu pergi meninggalkan Japhar.
''Apa yang telah ku lakukan? jadi selama ini aku terlarut dalam kesalah pahaman?'' Rintih Japhar dalam hatinya, sambil menatap Hongli yang terus berjalan meninggalkan dirinya.
*
Bersambung
__ADS_1