Pria Tuaku Yang Kaya

Pria Tuaku Yang Kaya
Episode 20 - Mall


__ADS_3

Hari ini Jia untuk pertama kalinya terbangun di sisi Japhar. Ia menatap Japhar yang masih tertidur pulas. Ia tak tega membangunkannya, Tampaknya dia sangat kelelahan.


Jia bergegas turun ke bawah. untuk menyiapkan sarapan. Di dapati nya Bi Lyna yang sudah sedari tadi berada di dapur. Dia segera mengambil pisau dan mulai mengiris tomat.


''Pagi Nyonya.'' Ucap Bi Lyna


Jia tersenyum lembut kepada Bi Lyna. dan melanjutkan irisan tomatnya itu.


''Nyonya... Biar saya saja yang mengirisnya.'' Kata bi Lyna seraya mengambil alih apa yang sedang dikerjakan Jia.


''Engga usah Bi, saya ingin memasak untuk Tuan Japhar.'' Ucap Jia.


Bi Lyna pun mengerti, dan mengerjakan pekerjaan yang lain seperti membereskan rumah terlebih dahulu.


Pukul 06.00


Japhar terbangun dari tidurnya, dan meraba-raba kasur nya. Ternyata Jia sudah bangun lebih awal darinya. Dia segera membersihkan dirinya dan bersiap untuk ke kantor.


Setelah 15 Menit berberes akhirnya Japhar turun kebawah sudah mengenakan pakaian rapi untuk ke kantor. Sementara Jia sudah menyiapkan masakannya dan menunggu Japhar.


Japhar menarik kursi meja makan dan duduk tepat di samping Jia.


''Kau belum bersiap?'' Tanya Japhar.


''Hari Ini, aku akan di rumah saja.'' Jawab Jia sembari mengambilkan sarapan untuk Japhar.


''Kau yang menyiapkan ini semua?'' Tanya Japhar kembali.


''Iya, emang kenapa?'' Jawab Jia kegirangan.


''Engga.''


Jia tampak langsung mengerutkan senyuman nya karna jawaban Japhar.


Seusai sarapan, Japhar segera berangkat ke kantor. Tak lupa berpamitan dengan Jia, Jia mengantarnya hingga depan teras. Tiba-tiba Japhar teringat akan sesuatu.


''Sepulang kerja nanti, aku akan membawa mu berbelanja pakaian untuk dikenakan besok pada acara pernikahan temanmu.'' Ucap Japhar.


''Tapi kan, ku punya... itu sudah cukup.''


Japhar mengelus kepala Jia dengan lembut dan sedikit terkekeh untuk mengatakan sesuatu. ''Pakaian mu itu terlalu kuno dan sederhana.''

__ADS_1


''Eh?''


Mungkin dia melihat cara pakaian ku selama ini yang terlalu kuno, sehingga dia berpikir seperti itu. Pikir Jia seperti itu.


Japhar segera melajukan mobilnya. Di sepanjang jalan ia masih saja teringat akan perkataannya tadi. ''Tapi dia terlihat cantik memakai pakaian sederhana dan hanya memakai make up tipis.'' Batin Japhar


.


.


.


.


.


.


.


Seperti yang dibicarakan Japhar tadi pagi, dia ingin mengajak Jia untuk berbelanja Gaun ke Mall sekalian untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Sore itu keduanya bersiap untuk pergi seusai Japhar pulang.


''Hmmm, Aku pake pakaian gini aja ya.''


''Bi Lyna ga ikut?'' Tanya Jia yang berada di ambang pintu.


''Engga non, Bibi jaga rumah saja.'' Ucap Bi Lyna


Japhar pun segera mengajak Jia pergi dan melajukan mobilnya. Selama di dalam mobil keduanya membatu sedangkan Japhar fokus mengemudi. sesekali keduanya saling curi pandang.


Sesampainya di Mall, Jia menggandeng tangan Japhar. Keduanya tampak akrab layak nya pasutri pada umumnya. Tak peduli cibiran dari sekitar yang melihat mereka. Jia tidak akan pernah malu untuk menggandeng tangan. Keduanya menjadi sorotan di Mall saat itu.


''Akur banget ya Ayah anak itu.''


Kata-kata itu terdengar jelas di telinga Jia yang membuatnya segera menoleh dan menatap tajam orang tersebut.


''Lepasin aja, ntar kamu malu.'' Bisik Japhar


Tak peduli omongan Japhar ataupun orang-orang dia semakin menggandeng nya erat. Ternyata di saat bersamaan Adik dan Ibu Tirinya berada disana juga. Keduanya menyapa mereka.


''Kebetulan sekali kita bertemu disini, sudah lama tak berjumpa. Bagaimana kabarmu Jia?'' Tanya ibunya itu dengan lembut.

__ADS_1


Jia terheran mendengar perkataan Ibunya yang begitu lembut. Mungkin hanya berpura-pura di depan Japhar. Pikirnya


Japhar terlihat acuh.


''Kenapa mereka sangat akrab? Apa mungkin Jia sudah benar-benar jatuh cinta dengan Pria Tua ini?'' Batin anak dan ibu itu. Keduanya berfikir sama.


''Bagaimana kalau samaan? Saya yang traktir belanja.'' Ucap Japhar sombong.


Mereka pun setuju dengan tawaran Japhar dan melangkah ke toko butik untuk membeli sebuah gaun yang akan dipakainya besok.


Setelah lama memilih akhirnya Jia mendapat gaun yang diinginkan, walaupun tak terlalu mewah. Ya, dia memang suka yang sederhana. Gaunnya begitu cocok dengan Jia.


''Bagus sekali.'' Puji Japhar


''Hehe Terima kasih.'' Jawab Jia kegirangan.


Itu adalah Pujian pertama yang didapat dari Japhar.


Ibunya telah membawa banyak tas-tas belanjaan, setelah dirasa cukup.


''Wah banyak banget dibelanjain om Japhar.'' Bisik Jiao kepada ibunya.


Mereka berdua bergunjing di belakang. sementara Jia sudah berjalan ke arah luar bersama Japhar.


''Andai saja dia ayahku, pasti aku bisa belanja sepuasnya.''


''Benar, Juga tuh. Aku juga tak usah susah payah mencari uang ataupun meminta kepada Jia lagi kalau dia menjadi suamiku. Seharusnya dari awal, aku saja yang menikahi nya.'' Celetuk Ibu Tirinya itu.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung -


__ADS_2