Putra Janda Kaya Mencari Papa

Putra Janda Kaya Mencari Papa
Bab 10


__ADS_3

Haris tiba di rumah sakit dan langsung mendapat penanganan dari dokter. Rebecca yang mendapat kabar tersebut sangat panik dan dengan cepat menuju Rumah Sakit Kanaya.


Setibanya di rumah sakit, Rebecca segera menghampiri Keluarga Haris dan bertanya tentang kejadian yang menimpa kekasihnya itu.


Setelah mendengar cerita dari ibu dan adik dari Haris, Rebecca jadi geram. Kebiasaannya ialah mengigiti kuku saat ada masalah seperti saat ini.


Dia mondar-mandir di depan ruang pemeriksaan Haris bahkan saat Haris sudah keluar dari ruang pemeriksaan.


Haris sudah menggunakan gips di tangan kirinya. Dokter kemudian keluar dan juga memberi tahu keluarga Haris. "Ibu tidak perlu khawatir karena Pak Haris akan segera sembuh dalam waktu kurang lebih 3 bulan."


"Kerusakan yang timbul akibat patah tulang ini tidak terlalu parah sehingga dapat sembuh lebih cepat. Pak Haris juga jangan lupa untuk makan obatnya tepat waktu agar cepat sembuh."


Setelah mengatakan hal tersebut Dokter meninggalkan Haris bersama keluarganya karena harus pulang. Saat itu jam praktek sudah seharusnya selesai hanya saja karena ini adalah Haris, suami dari Lusiana Atmaja. Dokter tersebut bersedia menunggu.


Mereka memutuskan untuk pergi ke sebuah Restoran yang berada tidak jauh dari rumah sakit untuk membicarakan masalah ini.


"Aku tidak bisa terima, Ma,"ucap Rebecca. "Tidak hanya membuat wajah Mas Haris terluka dia juga membuat tangan kirinya patah."


"Tapi kita juga tidak bisa membiarkan Lusiana melepaskan diri sebelum seluruh hartanya jatuh ke tangan kita." Ucapan Rebecca ini juga mendapat persetujuan dari Ibu dan adiknya Haris.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Tanya Haris sembari meminum jus jeruk yang baru saja diantar oleh pelayan.


"Mas harus tidur dengan Lusiana." Kata-kata itu membuat Haris menyemburkan jus jeruk yang baru saja dia minum.


"Apa kau sudah kehilangan akalmu, Hah? Kenapa tidak kau suruh aku membunuh Lusiana saja? Kau malah meminta aku untuk tidur dengan gadis buruk rupa seperti dia?" Haris sangat tidak setuju tentang ide tidur bersama ini.


"Mas, ingat tujuan awal kita mendekati Lusiana bukankah karena uangnya? Setelah seluruh perusahaan kita kuasai, harta dan tabungan dari Lusiana juga harus kita kuras sampai habis." Ide gila ini membuat Haris merasa adrenalinnya naik.


"Ibu setuju dengan ide Rebecca."


"Chika juga setuju." Chika langsung bergelayut manja di lengan Rebecca. Harum dari parfum yang digunakan oleh Rebecca menbuat Chika merasa lebih nyaman.

__ADS_1


Setelah obrolan singkat lainnya, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing.


"Mas, Hati-hati di jalan ya!" Rebecca melambaikan tangannya pada mobil Alphard yang melaju kencang dan telah hilang dibelokan.


Rebecca mengambil sapu tangan dan mengusap lengan yang disentuh Chika. "Dasar orang-orang miskin serakah. Aku bekerja sama dengan kalian juga untuk keuntunganku sendiri. Bocah itu begitu menempel dan ini menjijikkan."


Rombongan keluarga Haris pun saat itu tiba di rumah. Sesuai perkataan Rebecca, Haris akan memperlakukan Lusiana dengan baik dan lembut.


Pagi hari tiba dan Lusiana mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa. Tapi herannya, Ibu mertua juga ikut membantu walau ucapannya masih saja ketus.


"Aku akan membantu memasak, kau bereskan saja rumah ini." Meski hanya satu kalimat singkat itu sudah menunjukkan perubahan dari sikap mertuanya. Nada suaranya masih ketus tapi itu tidak tinggi seperti sebelumnya.


Walaupun hanya membantu untuk memasak, Lusiana sudah merasa sangat terbantu. "Terima kasih, ma," ucap Lusiana sembari dia membersihkan rumah.


"Mungkin mama sudah berubah karena kejadian kemarin. Sudahlah mungkin mereka hanya gelap mata karena baru pertama kali merasakan memiliki banyak uang."


"Ya, tentu saja aku sudah terbiasa melihat orang kaya baru yang tiba-tiba saja sikap mereka berubah jadi angkuh dan tidak tahu diri. Beruntung mertuaku cepat sadar dan introspeksi diri," batin Lusiana.


Lusiana membantu ibu mertuanya menyiapkan makanan di meja makan. Ada bubur, sup ikan, nasi, telur omelet, tahu dan tempe goreng tepung yang terlihat lezat. Ada juga air putih dan susu sebagai minuman yang cocok diminun di pagi hari.


Chika juga turun dari lantai atas untuk sarapan sebelum berangkat sekolah. Lusiana juga memeriksa keadaan Raymond dan membawanya untuk sarapan.


Raymond pun makan bubur dan sup ikan dengan lahap. Bubur dan sup ikan memang cocok untuk orang sakit. Mereka jadi lebih perhatian pada Raymond dan itu membuat hati Lusiana lebih lega.


Tapi Lusiana tidak sebodoh itu untuk langsung mempercayai mereka. Lusiana akan melihat keadaan hingga beberapa bulan ke depan. Jika tidak ada perubahan dan sikap mereka benar-benar berubah baik. Tidak menutup kemungkinan Lusiana akan menuruti perkataan Haris.


"Apa makanannya enak?" Tanya Lusiana saat melihat Raymond yang lahap menghabiskan bubur.


"Enak, Ma. Tapi ini tidak seperti masakan mama."


"Iya nak, itu nenekmu yang memasak. Sekarang ucapkan terima kasih pada nenek karena sudah membuatkan makanan yang lezat untuk kita."

__ADS_1


Raymond menatap neneknya lalu tersenyum. "Nenek, terima kasih untuk sarapannya." Senyuman Raymond terasa bersinar dan membuat mereka gemas.


Tiba-tiba pandangan Raymond beralih pada sendok yang berada di tangan ibunya. Sendok itu belum pernah ada di meja makan dan setelah diperhatikan sendok tersebut terbuat dari perak.


Ibunya tentu saja belum bisa mempercayai keluarga itu seutuhnya. Jadi dia mengambil sendok perak yang berfungsi untuk memeriksa racun pada makanan.


Setelah Lusiana makan beberapa suap barulah dia menyuruh Raymond untuk makan. Hal itu tidak dicurigai oleh keluarga mereka. Beruntung tidak ada racun dalam makanan.


"Lusiana, aku ingin bicara sesuatu." Haris mulai membuka suara.


"Aku sedang menangani proyek besar dan membutuhkan dana lebih banyak. Bisakah kau membantuku kali ini?"


"Memangnya proyek apa kali ini?" Tanya Lusiana yang penasaran tentang tindakan apa lagi yang akan dilakukan suaminya untuk mendapatkan uang.


"Ini pembangunan jalan tol. Hanya saja biayanya cukup besar. Tapi untuk penghasilan perhari dari orang-orang yang melewati jalan tol itu diperkirakan


mencapai 5 milyar, Lusiana bisakah kau meminjamkanku uang?"


"Memangnya berapa yang kau butuhkan?"


"Aku membutuhkan 2 Triliyun untuk membangun jalan tol itu." Lusiana tiba-tiba menghentikan aktivitas makannya dan berpikir sejenak.


Lusiana pun langsung menjawab permintaan Haris saat itu juga. "Aku tidak memiliki uang sebanyak itu. Lagi pula semua uangku sudah diinvestasikan pada perusahaan yang kita bangun."


Mendengar hal itu wajah Haris berkerut kesal. Sikapnya yang baik tadi berubah drastis begitu juga keluarganya, tapi Ibu mertua Lusiana tidak pantang menyerah.


"Bagaimana jika menghubungi ayahmu? Sekarang Tuan Mario pasti sudah tidak marah lagi. Kau bisa membawa Raymond juga untuk meminta bantuan."


Prang!


Gelas yang berada di genggaman Lusiana pecah dan membuat orang di sekitarnya membelalakkan mata karena kaget.

__ADS_1


__ADS_2