
"Kalau begitu berikan aku no WA milikmu." Dallen menyodorkan ponselnya dan meminta Lusiana untuk mengetikkan nomor hp.
Lusiana pun mengetikkan nomor dan menyimpannya di kontak ponsel Dallen. "Bagus! Dengan begini aku tidak akan kehilanganmu lagi," ungkap Dallen disertai dengan sedikit rasa haru.
"Mama mertua aku punya sebuah rahasia,"celetuk Sesil tiba-tiba yang memanggil Lusiana dengan seenaknya.
"Rahasia apa?" Lusiana cukup penasaran dengan rahasia yang dimiliki anak kecil ini.
"Kak Dallen itu kabur dari rumah. Sekarang dia jadi gelandangan yang hanya pindah ke rumah temannya satu persatu."
"Kakak akan dijodohkan dengan seorang gadis bernama Jenny tapi kakak menolaknya."
Dallen terlihat panik. "Eh Sesil kenapa kau bicarakan hal yang tidak penting? Aku tidak akan memberikanmu es krim lagi."
Wajah angkuh Sesil berubah menjadi ingin menangis. Saat itu Raymond menggenggam tangannya dan berkata, "Tenang saja mulai sekarang aku akan memberikanmu es krim yang banyak."
Ucapan dari Raymond berhasil menenangkan Sesil. "Benar? Mau dibelikan es krim?" Raymond menoleh ke arah ibunya.
"Ibu akan membelikan kami eskrim yang banyak kan?" Lusiana kembali tertawa bahagia melihat tingkah semua orang di hadapannya.
Lusiana mengangguk dan menyetujui permintaan Raymond. "Iya, iya akan mama belikan kalian es krim yang sangat banyak. Jadi Sesil tidak perlu bersedih."
Sesil mengusap air matanya dibantu oleh Raymond. Senyum cerah kembali di wajah kecil itu. Dia sesekali juga menjulurkan lidahnya pada Dallen.
"Jadi kau tinggal dimana sekarang?" tanya Lusiana pada pria di sebelahnya.
"Aku tinggal bersama temanku."
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" Pertanyaan Lusiana langsung membuat bahu Dallen merosot dan dia menghembuskan napas yang sedikit berat.
Lusiana sudah tahu jawabannya tanpa Dallen katakan. Ayahnya sudah mengusirnya dari rumah, tentu saja dia tak lagi bekerja di perusahaan milik ayahnya itu.
__ADS_1
"Kebetulan aku membutuhkan sekretaris sekaligus supir yang bisa mengantarku kemana-mana." Ucapan tersebut bagai angin segar untuk Dallen. Dia tersenyum lebar dan langsung menyetujui tawaran tersebut.
"Bagus. Aku akan bekerja denganmu saja Lusiana. Jadi kapan aku bisa mulai bekerja?" tanya Dallen yang di jawab besok oleh Lusiana.
"Betapa bagusnya kalau aku juga memiliki seorang anak perempuan," celetuk Lusiana saat melihat kelucuan Sesil.
"Ehm, jika kau mau aku bisa membantu. Aku jamin anakmu akan sangat cantik karena gen dari ayahnya yang tampan ini." Lusiana langsung menggeplak kepala Dallen.
"Tutup mulutmu! Kau bicara sembarangan di depan anak-anak." Dallen hanya mengelus kepalanya yang sakit akibat pukulan dari Lusiana. Dia sedikit meringis kesakitan.
"Lusiana, kau masih saja berpenampilan seperti ini, akh-" Kini kakinya pun jadi bahan siksaan Lusiana.
"Kenapa kau menginjak kakiku? Apa salahnya kalau aku membahas ram-" Lusiana menyikut perut Dallen dan membuat pria yang duduk di sampingnya itu merasa kesakitan hingga menunduk.
"Tutup mulutmu. Wig ini rahasia dan tak ada satu pun dari keluarga suami atau anakku yang tahu penampilanku sebenarnya,"lirih Lusiana di telinga Dallen.
Kedua bocah itu menatap Lusiana dan Dallen dengan heran. "Mama seperti menyembunyikan sesuatu," batin Raymond.
Melihat sudah waktunya makan siang, mereka pun memesan makanan. Tidak terasa mereka mengobrol dan menghabiskan waktu. Jam sudah menunjukkan pukul 12 lewat.
Lusiana melihat kembali jam di lengan kirinya. Dia memutuskan untuk berpamitan dengan Dallen karena harus pergi menangani beberapa urusan.
"Sepertinya hari ini cukup sampai di sini. Soalnya aku masih ada beberapa urusan pekerjaan,"ucap Lusiana sembari membereskan tasnya dan juga anaknya.
Lusiana mengendarai mobil SUV melalui jalan raya. "Raymond temani mama dulu ya ke yayasan asisten rumah tangga. Mama akan memilih beberapa asisten rumah tangga untuk rumah kita."
"Baik, Mama,"ucap Raymond sembari mengutak-atik salah satu dari Rubik yang diberikan oleh Sesil.
Mereka tiba di sebuah Yayasan yang memang khusus memperkerjakan asisten rumah tangga yang sesuai untuk kalangan atas.
Meski demikian gaji orang-orang di yayasan ini tidak besar sehingga Lusiana bisa menggaji mereka.
__ADS_1
Lusiana kemudian memilih asisten rumah tangga yang sesuai dengan kebutuhannya. 2 orang tukang bersih-bersih, 1 orang pemelihara kebun, 1 orang yang bertugas mencuci pakaian, dan 1 orang lagi yang bertugas menyiapkan makanan dan membersihkan dapur.
Lusiana kemudian menandatangani dokumen yang diperlukan. Setelah itu membayar biaya 3 bulan pertama sebagai uji coba. Jika mereka memang cekatan maka kontrak akan diperpanjang hingga satu tahun.
Pemilik yayasan tersebut meminta kelima orang untuk memperkenalkan diri.
"Nama saya Sarinah, usia 32 tahun, saya yang akan bertugas untuk mencuci pakaian,pengalaman kerja 5 tahun di keluarga xxx." Mbak Sarinah menyebutkan keluarga yang cukup terpandang dan terkenal.
"Nama saya Paijo, Nyah. Usia saya 45 tahun. Biarpun agak tua tapi saya memang memiliki hobi berkebun. Saya pastikan taman dan kebun Nyonya akan indah. Pengalaman kerja saya 10 tahun di keluarga xxx." Pak Paijo antusias mengenalkan dirinya pada calon Nyonya besar mereka.
"Nama saya Irene, Bu. Usia 21 tahun. Saya ahli dalam bersih-bersih. Karena masih muda saya lebih cekatan, pengalaman 2 tahun di keluarga xxx." ujar gadis manis dengan rambut kepang dua. Dia terlihat cukup manis dengan kulit kuning langsat.
"Nama Saya Saryah, Bu. Usia 28 tahun. Saya ahli dalam bersih-bersih dan memiliki pengalaman 10 tahun di keluarga xxx."
"Nama Saya Darmi. Usia 40 tahun. Untuk urusan masak Nyonya tidak perlu khawatir. Rasa masakan saya enak. Saya bisa memasak masakan daerah, barat, india, jepang, china. Insyallah bisa semua Nyah. Saya memiliki pengalaman kerja 10 tahun di keluarga xxx dan 10 tahun di keluarga xxx"
Lusiana cukup puas dengan orang-orang yang dipilih oleh Yayasan. Pemilik yayasan pun sudah menyiapkan mobil yang akan bertugas untuk mengantar kelima orang tadi pulang ke rumah.
Waktu sudah menunjukkan pukul 1, Lusiana pun melajukan mobilnya diikuti oleh mobil yang berisi 5 orang asisten rumah tangga.
Mereka tiba di sebuah rumah yang sangat besar dan mewah. Untuk sekejap mereka merasakan takjub yang amat sangat karena tampilan rumah putih yang megah.
Irene bahkan yang paling lama bengong di antara mereka sebelum dia ditegur oleh Saryah untuk mengikuti mereka masuk.
Mereka menyusuri rumah yang besar itu dan masuk lebih dalam. Sementara itu Raymond segera kembali ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.
Saat itu rumah dalam keadaan kosong. Ibu mertua dan Chika juga tidak ada di rumah. Mereka tiba di bangunan yang terpisah dengan rumah utama.
Bangunan tersebut jauh lebih kecil dari pada rumah yang baru saja mereka lewati. "Di sini terdapat 20 kamar, kalian bisa menempati 1 orang dengan 1 kamar. Ah iya jangan lupa untuk membersihkan kamar-kamar yang lain juga."
"Itu tugas kalian yang pertama."
__ADS_1