Putra Janda Kaya Mencari Papa

Putra Janda Kaya Mencari Papa
Bab 14


__ADS_3

"Tapi sebelum kalian melakukan tugas pertama. Saya akan mengajak kalian berkeliling untuk lebih mengenal rumah ini." Semua orang mengangguk dan meletakkan tas mereka di ruang tamu bangunan tersebut.


Lusiana bersama kelima orang tersebut mengelilingi rumah dan memberitahu setiap ruangan. Rumah mewah ini hanya ada dua lantai.


Lantai pertama berisi 7 kamar dengan 2 kamar mandi dan toilet yang saling berjauhan. Selain itu ada ruang tamu yang sangat besar dengan lampu gantung mewah. Terdapat kaca besar yang bisa berfungsi sebagai pintu masuk dan keluar yang berhadapan langsung dengan sebuah taman kecil.


Sedangkan di seberangnya ada ruang keluarga yang penampilannya tak jauh berbeda dengan ruang tamu tapi, ruangan tersebut menghadap langsung dengan kolam renang.


Agak masuk ke dalam mereka melihat meja makan mewah dan dapur bersih yang pemandangannya masih kolam renang.


Memang rumah tersebut terdapat banyak kaca besar agar sirkulasi udara bisa keluar masuk mengingat berapa besarnya rumah Lusiana.


Lusiana menuju pintu di sebelah dapur bersih dan terdapat dapur kotor untuk memasak makanan disana.


Setelah itu mereka melewati lorong yang disisi kiri dan kanannya ada sekitar 7 buah kamar. Lurus terus masuk ke dalam adalah pintu belakang dari rumah megah tersebut.


Taman belakang rumah mereka tidak terlalu terurus karena tak ada yang membersihkan kebun dan taman. Hanya ada orang yang biasa ibu mertuanya panggil sekali-sekali untuk membersihkan bagian belakang rumah itu.


"Pak Paijo, keadaannya memang begini jadi bapak mesti kerja lebih keras nih pak."


"Tenang aja nyah. Saya bisa menyulap keadaan ini jadi taman yang bagus dalam 3 bulan ini," kata Pak Paijo dengan semangat.


Mereka lalu kembali lagi ke dalam rumah dan naik ke lantai 2. Di lantai 2 terdapat 5 buah kamar yang semuanya di isi.


Terdiri dari kamar Ibu mertua, Chika, Raymond, Haris dan tentu saja kamar milik Lusiana.


"Owh iya, Ibu mertua saya itu orangnya cerewet jadi kalian sabar saja menghadapinya. Kalau kalian disuruh melakukan hal yang tidak-tidak atau tidak sesuai dengan pekerjaan kalian jangan sungkan untuk menolak."


"Karena yang menggaji kalian itu menggunakan uang pribadi saya."


"Baik Bu," ujar mereka berempat.


"Baik Nyah," sahut Pak Paijo yang beda sendiri.

__ADS_1


"Nah, sekarang waktunya saya untuk pergi ke kantor. Karena jadwal makan siang sudah selesai Mbok Darmi bisa mulai masak sore hari karena kami makan malam itu sekitar jam 7."


"Baik Nyah."


"Untuk Pak Paijo bisa mulai bekerja. Beberapa alat berkebun ada di bangunan tempat kalian tinggal."


"Untuk Mbak Sarinah bisa mulai mencuci. Pakaian kotor terkumpul di belakang, tempat mencuci di dekat taman."


"Untuk Irene dan mbak Saryah bisa mulai bersih-bersih. Untuk alat kebersihan juga ada bangunan tempat kalian tinggal."


"Baik, Nyah."


"Baik, Bu."


Lusiana mendengar panggilan mereka padanya yang berbeda beda tapi dia tak ambil pusing. Sebelum pergi dia menemui Raymond yang sudah segar dan kelihatan keren dengan baju kaos dan celana pendeknya.


Memang selama setahun ini Lusiana mengajarkan Raymond untuk mandiri. Dia sering kali mandi dan berpakaian sendiri tanpa menunggu Lusiana. Dia juga orang yang disiplin waktu. Saat waktunya mandi dia akan mandi. Saat waktu makan dia akan makan.


"Raymond, mama pergi kerja dulu ya?" Lusiana langsung mencium puncak kepala Raymond.


Lusiana kemudian tenggelam dalam kesibukannya bertemu klien. Segala presentasi yang dijabarkan oleh Lusiana mendapatkan tepuk tangan dari klien yang hadir.


Disuatu tempat lapangan tembak, dua orang tua sedang menembaki sasaran mereka menggunakan senapang laras panjang. Dua pria tua yang sudah pantas menyandang gelar sebagai kakek itu melihat dengan teropong untuk melihat siapa yang berhasil menembaki tengah sasaran.


"Untuk urusan tembak menembak ini, kau memang jagonya, Mario Winka Atmaja."


Seorang pria berperawakan tinggi dengan tubuh yang tambun dan jenggot putih mengelilingi wajahnya. Pria tua itu nampak tampan saat dia membuka kacamata. Dialah Mario Winka Atmaja.


"Lisman, jika aku jago menembak maka kau jago berkelahi bukan? Hahaha."


Sementara itu pria tua dengan kepala pelontos dan badan cukup kekar yang ikut tertawa dengan Mario adalah Lisman Fernandio, sahabat karibnya. Pria tua ini nampak lebih muda sedikit karena tak ada jenggot yang menghiasi wajahnya. Dia juga memiliki wajah khas orang Eropa.


Usai puas berlatih tembak-menembak. Mereka kembali duduk bersantai sembari menikmati kopi panas dan beberapa cemilan yang disediakan.

__ADS_1


"Bagaimana kabar Xavier?" tanya Mario pada satu-satunya sahabat karib yang sudah dia anggap seperti keluarga itu.


Lisman menggelengkan kepalanya dan mendesah berat. "Aku tidak habis pikir dengan Xavier. Dia sama sekali tidak mau menikah dengan wanita mana pun. Tapi meski begitu aku bersyukur dia bekerja dengan sangat giat."


"Lalu bagaimana dengan putrimu?" Pertanyaan ini membuat Mario juga menggelengkan kepalanya.


"Anakku membangun perusahaan bersama suaminya. Dan perusahaan itu cukup besar. Dia memang memiliki potensi yang luar biasa dalam bisnis."


"Hanya dengan uang tabungannya dia membangun sebuah perusahaan yang berkembang pesat dan melahirkan anak-anak perusahaan yang baru."


"Tapi tidak sekali pun dia menghubungi aku. Benar-benar gadis keras kepala. Entah bagaimana keadaannya dan cucuku. Aku juga tidak tahu."


Lisman menepuk punggung Mario sembari berkata, "kenapa tidak kau saja yang menghampiri anakmu itu?"


Mario menoleh kaget dengan ekspresi marah di wajahnya. "Enak saja aku yang menghampiri mereka. Seharusnya anak-anak itu yang memohon ampun padaku. Laki-laki sialan itu beraninya merenggut putri kecilku."


Mario mengepalkan tangannya tanda kemarahan sudah berada di puncak. "Sudah, sudah, sudah jangan marah. Bagaimana jika darah tinggimu kambuh lagi?"


Mario menarik napas dan menghembuskannya berulang-ulang untuk menangkan diri.


"Pria tua ini bukannya sama keras kepala seperti putrinya. Memang buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Siapa suruh memiliki watak yang keras begini?"batin Lisman.


"Ayo latihan menembak lagi." Lisman dan Mario, kedua pria itu pun bertanding kembali.


Sementara itu Lusiana sedang menelpon seseorang. "Halo, kak?"


"Apa kabar adikku yang manis? Sudah 3 bulan dan kau baru meneleponku sekarang? Apa kau tidak punya hati, hah?" Berawal dengan nada manis dan di akhiri dengan sedikit lengkingan kemarahan.


"Aduh kak, berhenti berteriak telingaku sakit. Apa kakak tahu proyek xxx yang menangani pembangunan jalan tol?"


"Kenapa memangnya? Proyek itu tidak akan aku ambil karena ingin memberikannya pada suamimu," ucap seorang pria di balik suara ponsel milik Lusiana.


Erick Winka Atmaja nama yang tertera pada plat di sebuah meja kerja. Terlihat seorang pria membelakangi meja dan menghadap jendela besar.

__ADS_1


Dia memegang ponsel dan menelepon seseorang yang tidak lain adalah adiknya, Lusiana Winka Atmaja.


__ADS_2