Putra Janda Kaya Mencari Papa

Putra Janda Kaya Mencari Papa
Bab 21


__ADS_3

Krak!


Cit!


Cit!


Bunyi derak ranjang rumah sakit yang didorong melalui lorong-lorong rumah sakit membuat banyak orang di sekitar mereka menepi.


"Maaf, Bapak & Ibu Silahkan tunggu di luar!" Perawat rumah sakit menghentikan gerak langkah kaki Lusiana dan Dalle yang akan masuk ke dalam ruang ICU.


"Tapi saya ingin melihat anak saya, Sus!"


rengek Lusiana yang saat itu tubuhnya telah bersimbah keringat.


"Mohon untuk kooperatifnya ya, Bu. Kami akan berusaha menyelamatkan nyawa anak Ibu sebaik-baiknya."


Suster langsung meninggalkan Lusiana saat wanita itu mengangguk pasrah. Dia hanya bisa menatap tindakan dokter dari balik jendela.


Dallen telah menurunkan tubuh Sesil dan menghampiri Lusiana. Dia memegang pundak wanita yang nampak ringkih itu.


Lusiana langsung saja memeluk Dallen dan menangis terisak-isak dalam pelukannya.


Tidak lama dokter Arya datang dan Lusiana melepaskan pelukannya dari Dallen untuk menghampiri Arya yang akan memasuki ruang ICU.


"Dokter!"


"Tenang ya, Bu. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Raymond." Lusiana mengangguk dan dokter Arya segera masuk ke dalam ruang ICU dan melakukan tindakan pada Raymond seperti orang yang terkena serangan jantung pada umumnya.


Sesil yang saat itu tubuhnya tak bergerak mulai menghampiri Lusiana. Wanita yang mondar-mandir di depan ruangan ICU itu teralihkan pada tarikan baju yang dilakukan oleh bocah kecil bernama Sesil.


"Mama mertua, maafkan Sesil. Ini semua salah Sesil. Seharusnya Sesil tidak memulai pertengkaran."


Wajah Sesil yang memucat diiringi dengan tangisan terisak membuat Lusiana merasa bersalah karena Sesil harus melihat pertengkaran keluarga mereka.


Dia merengkuh gadis kecil itu dalam pelukannya dan memeluknya dengan lembut. Terkadang dia menepuk kepala Sesil untuk menenangkan gadis kecil itu.

__ADS_1


"Sudah, Nak. Tidak apa-apa. Itu semua bukan kesalahan Sesil jadi, jangan merasa bersalah ya?" bujuk Lusiana hingga gadis itu tenang.


Dia lalu membawa gadis kecil itu untuk duduk di depan Ruang ICU. Dallen kembali dengan membawa beberapa minuman dan cemilan. Dia duduk di sebelah Sesil dan memberikan sebotol air mineral pada Lusiana.


"Minumlah, Lusiana. Kau terlihat pucat sekarang!" Lusiana mengambil botol berisi air tersebut dan segera menenggaknya.


Dallen juga memberikan susu strawberry untuk Sesil yang langsung diseruput habis oleh gadis kecil itu karena dia kehausan.


Tiba-tiba saja ponsel Dallen berdering. Tanpa melihat orang yang menghubunginya Dallen segera mengangkat telepon itu.


Terdengar suara pekikan yang cukup jelas dari telepon. "Kau bajingan! Kemana kau membawa anakku pergi? Cepat pulang dan bawa dia kemari!" teriaknya hingga Dallen harus menjauhkan ponsel dari telinga.


Ternyata itu adalah ayahnya yang meminta Dallen untuk membawa putri mereka pulang. Sesil menyodorkan tangannya sebagai isyarat bahwa dia yang akan bicara.


Dallen pun memberikan ponselnya pada gadis kecil itu. "Ayah, aku tidak bisa pulang karena sedang bersama Mama mertuaku. Calon suamiku sedang sakit! Tolong jangan menggangu."


Suara di seberang melemah. "Ca-calon suami? Ma-mama mertua? Siapa yang kau maksud nak?" Tiba-tiba saja telepon beralih ke tangan Ibunya.


"Ya sudah, Nak. Tidak apa kalau Sesil masih mau di sana. Ibu dan ayah menunggu Sesil pulang ke rumah."


Sesil mendongak ke arah Lusiana di sampingnya. "Tapi Sesil ingin menemani mama mertua di sini" rayu Sesil dengan wajah penuh harap.


"Sayang, di sini juga banyak orang sakit. Mama tidak mau kalau Sesil juga jatuh sakit seperti orang-orang di sini. Sesil juga jangan salah paham ya, jangan beranggapan kalau mama mengusir Sesil."


Sesil berdiri dari tempat duduknya. Dia menyentuh pipi Lusiana yang masih ada bekas air mata. "Baiklah Sesil akan pulang, mama jangan menangis lagi ya. Raymond pasti akan sembuh dan kembali bersama kita," hibur Sesil pada Lusiana yang kemudian mengangguk dan tersenyum tipis pada perkataan Sesil.


"Lusiana, kau tidak apa sendirian di sini jika aku mengantar Sesil duluan?" tanya Dallen.


Lusiana menggelengkan kepalanya dan berkata, "tidak apa-apa."


"Aku pasti akan kembali lagi setelah mengantar Sesil pulang dan menemanimu," sambung Dallen sembari memegang jemari Lusiana.


"Baiklah!" Lusiana mengangguk kecil dan Dallen pun segera membawa Sesil pulang.


Lusiana berdiri kembali dan berada di depan pintu ICU. Pintu ICU yang memiliki kaca tembus pandang itu membuat Lusiana sedikit nyaman karena dia bisa melihat keadaan Raymond.

__ADS_1


Dokter Arya membuka pintu ICU dari dalam dan melihat Lusiana tepat di depannya.


"Bagaimana keadaan anak saya dokter?" tanya Lusiana dengan panik.


"Tenang saja, Lusiana. Raymond telah melewati masa kritisnya dan akan segera dipindahkan ke ruang perawatan."


Lusiana bernapas lega karena akhirnya Raymond bisa selamat.


"Sebenarnya apa yang terjadi Lusiana? Hal ini tidak mungkin terjadi begitu saja. Apa kalian bertengkar di depan Raymond?"


Lusiana kemudian menceritakan semuanya pada Dokter Arya. "Pantas saja bisa seperti itu. Lain kali usahakan untuk tidak bertengkar di depan Raymond. Dia sama sekali tidak boleh menerima tekanan batin."


"Hal itu akan membuat darahnya mengalir cepat dan tentu saja membuat jantung memompa lebih kuat."


"Hal itu bisa menyebabkan gangguan pada jantung dari orang dengan riwayat sakit jantung dan akibat fatal yang terjadi adalah serangan jantung seperti ini."


Lusiana semakin bersedih karena merasa bersalah. Seharusnya dia dari awal menghentikan pertengkaran mereka dan tidak membiarkan Raymond melihat itu semua.


Seperti bisa membaca pikiran Lusiana Dokter Arya berkata, "Juga tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Ini semua sudah ada dalam ketentuan takdir Yang Maha Kuasa."


Beberapa saat kemudian perawat keluar dan mendorong ranjang rumah sakit untuk memindahkan Raymond ke kamar perawatan.


Lusiana memegang tangan Raymond yang terasa hangat. Ruang perawatan yang diminta oleh Lusiana tentu saja ruang VIP di rumah sakit tersebut sehingga suasananya lebih nyaman.


Kamar putih yang luas dengan jendela yang cukup besar membuat sirkulasi udara lebih baik.


Raymond saat itu dalam keadaan belum sadar dengan mata terpejam dan selang di hidungnya. Cairan infus semakin berkurang meski hanya menitik lambat.


Lusiana duduk di samping Raymond memperhatikan wajah putra kecilnya yang belum sadar.


Tiba-tiba dia teringat ibu mertuanya yang telah menjadi penyebab dari serangan jantung Raymond. Dia sangat marah dan merasa ingin menampar balik ibu mertuanya itu.


Tunggu saja bila dia pulang ke rumah maka dia pasti akan membalas mertua dan adik iparnya itu. Lusiana pun berpikir untuk berpisah dari Harus tapi dia memikirkan Raymond yang akan kehilangan ayahnya jika mereka berpisah.


Lusiana juga takut Raymond suatu saat akan dirundung oleh orang lain karena keluarganya berantakan.

__ADS_1


__ADS_2