Putra Janda Kaya Mencari Papa

Putra Janda Kaya Mencari Papa
Bab 9


__ADS_3

Mereka semua berkumpul di ruang tamu dan dokter Aryasetya membantu menyembuhkan luka di wajah Haris. Chika yang awalnya paling cerewet dan sering menghina Lusiana hanya bisa terdiam sembari memegangi tangan ibunya.


Lusiana hanya terdiam menatap mereka semua. "Ahhh." Teriakan serak dari Haris membuat ibu dan adiknya khawatir lagi.


"Kakak apa yang terjadi? Bagian mana yang sakit?"


"Nak, Yang sabar ya. Kita ditindas seperti ini karena kita tidak memiliki kekuatan apa-apa. Semua harta hasil jerih payah kita itu juga milik orang lain, bukan milik kita seutuhnya."


"Karena tidak memiliki kekuasaan pada awalnya akhirnya kau ditindas seperti ini." Ibu Salma berakting sedih dengan cukup baik sehingga hampir membuat Aryasetya muntah karena menahan mual dari perutnya.


Betapa tidak tahu malunya keluarga ini. Merekalah yang selalu merundung Lusiana selama bertahun-tahun. Tapi saat Lusiana bangkit dan melawan mereka langsung merasa jadi orang yang paling menderita.


Di sisi lain Lusiana hanya terdiam menatap mereka seolah-olah apa yang orang tua itu bicarakan tidak ada hubungannya dengan dia.


Tentu saja hal itu membuat hati Ibu Salma semakin sakit dan geram akan Lusiana yang tak bicara apa pun.


"Ma." Suara lirih yang sangat kecil itu dapat ditangkap oleh telinga Lusiana. Dia memandang arah kamar tempat anaknya sedang istirahat.


Lusiana segera bangkit dari kursi dan menuju ke kamar itu. Semua orang memandangi punggung Lusiana yang menghilang di balik pintu.


"Apa yang kau lihat, hah? Jaga matamu dari istriku," sergah Haris yang menangkap pandangan Aryasetya pada istrinya.


Bukan berarti dia cemburu. Hanya saja dia tidak rela jika istrinya jatuh hati pada pria tampan yang lemah lembut ini. Selain jauh lebih tampan, Aryasetya juga memiliki perilaku yang halus, sopan, dan romantis.


Dia tidak rela jika tambang berliannya lepas begitu saja. Berkat Lusiana dia mampu berdiri sejajar dengan pengusaha kaya raya yang memiliki takdir sendok emas di hidup mereka.


Jadi, apa pun yang terjadi dia tidak akan menceraikan istrinya itu. Apa lagi ayah dari Lusiana adalah generasi Old Money. Mereka yang memiliki kekayaan turun-temurun dan sudah memiliki kekuasaan dan kekayaan sejak lama.


Haris harus menangkap hati mertuanya itu sehingga kesuksesannya akan terjamin. Dia sebenarnya ingin bersikap lembut pada Lusiana tapi saat melihat wajah dan penampilan wanita itu dia frustasi dan marah.

__ADS_1


Semua kolega yang dia kenal memiliki istri yang cantik tiada bandingan. Kulit mereka halus dan putih. Rambut mereka lurus atau bergelombang panjang. Jika ada yang pendek pun maka akan tertata dengan baik.


Tubuh mereka langsing dan tinggi. Wajah mereka mulus tanpa cela itu karena mereka selalu melakukan perawatan mahal.


Tapi tidak dengan Lusiana dia tak peduli tentang perawatan dan lebih mementingkan anaknya. Tak pernah dalam satu hari di hidup Haris melihat Lusiana yang cantik malah yang ada semakin jelek saat jerawat memenuhi semua wajahnya beberapa tahun silam.


Hal itu juga membuat dia murka dan memaki Lusiana.


Tak pernah juga Lusiana memukulnya seperti tadi. Biasanya dia hanya diam saat menerima perlakuan kasar dari dirinya. Tapi kali ini berbeda, dia merasa aura yang mengancam dari Lusiana.


"Wanita yang lemah dan tanpa daya itu biasanya tidak melawan dan hanya menurut tapi sekarang dia mulai memberontak. Aku harus segera menemui Rebecca untuk bertanya tentang hal ini," batin Haris.


Lusiana tiba di dalam kamar dan melihat anaknya sudah terbangun. Lusiana segera duduk di atas ranjang dan memeluk Raymond.


"Nak, Mama sangat khawatir dengan keadaan Raymond tadi. Mama takut terjadi sesuatu padamu."


Raymond mendongak dan melihat keadaan ibunya yang terlihat semakin menyedihkan. Dia memeluk ibunya dengan erat seolah takut kehilangan orang yang paling berarti dalam hidupnya itu.


Perkataan tersebut membuat hati keibuaannya terenyuh. Lusiana mencium puncak kepala Raymond kemudian pipinya hidung dan kening bocah kecil itu juga tak luput dari ciuman kasih sayang Lusiana.


"Mama sangat bahagia kau telah terlahir di dunia ini dan menemani hari-hari mama."


"Raymond juga sangat bahagia memiliki Ibu seperti Mama yang sangat luar biasa. Mama cantik, penyayang, dan kaya raya hehehe." Raymond cekikikan dan membuat Lusiana juga tertawa.


"Ya sudah Raymond lanjutkan tidurnya di sini saja ya untuk malam ini. Besok baru pindah ke kamar atas."


Lusiana membaringkan Raymond dan tidak lupa mengucapkan selamat malam pada bocah kecilnya itu.


"Good night, Raymond. Semoga mimpi indah."

__ADS_1


"Good night too, Mama. And have a nice dream too," jawab Raymond atas ucapan Lusiana sebelumnya.


Lusiana mematikan lampu utama dan hanya menghidupkan lampu kecil di samping Reymond.


Dia segera keluar dari kamar dan melihat lengan Haris telah di perban. Begitu juga wajahnya yang lebam sudah diobati.


"Lusiana sebaiknya segera bawa Pak Haris ke Rumah Sakit Kayana untuk ditindaklanjuti lebih dalam. Pertolongan yang saya lakukan itu hanya pertolongan pertama. Saya tidak bisa melakukan lebih lagi karena keterbatasan alat."


Aryasetya sudah berkemas untuk pulang karena hari sudah larut malam. Lusiana pun mempersilahkan dia pulang dan tidak lupa mengucapkan terima kasih.


"Dokter Aryasetya, saya mengucapkan terima kasih banyak karena sudah membantu Raymond dan suami saya. Ini ada sedikit untuk dokter." Lusiana memberikan amplop dengan jumlah yang tak sedikit tapi itu ditolak dengan keras oleh dokter Arya.


Lusiana membuat wajah sedih dan berkata, "Jika dokter memang temanku maka terimalah uang ini. Jika tidak, maka sebagai teman saya sangat marah pada dokter."


Mendengar bahwa Lusiana marah padanya dokter Arya segera mengambil amplop berisi uang dan pulang kembali ke rumahnya.


"Aku akan mengantarmu ke dokter. Ayo kita pergi!" Ajak Lusiana yang sudah siap dengan kunci mobil di tangannya.


"Tidak perlu. Aku sudah memanggil supir untuk datang kemari dan mengantarku untuk pergi ke rumah sakit. Biarkan Ibu dan Chika saja yang menemaniku ke sana, kau jaga Raymond saja," ucap Haris yang tak ingin bersama Lusiana sementara waktu.


Sebuah mobil Alpard tiba di depan rumah dan membawa Haris, Ibu mertua Lusiana, dan adik iparnya ke Rumah Sakit Kanaya.


Sementara itu Lusiana masuk kembali ke dalam rumah dan menemani Raymond yang tengah tertidur nyenyak. Dia mengambil bantal dan selimut lalu tertidur di sofa bed dekat ranjang.


Sementara itu di perjalanan Haris, Chika mulai mengomel lagi. "Perempuan sialan itu sangat bar-bar hingga membuat kakak seperti ini sangat berbeda dengan Kak Rebecca yang cantik dan lemah lembut."


Gerutuan Chika membuat Haris teringat untuk menghubungi Rebecca. Dia pun mencari kontak wanita itu di ponselnya dan menelepon Rebecca.


"Halo sayang cepat pergi ke Rumah Sakit Kanaya, tangan kiri ku patah. Aku sedang berada di jalan menuju rumah sakit."

__ADS_1


"Apa? Apa yang membuatmu seperti itu. Tunggu sebentar aku akan segera kesana dan menemuimu, sayang," ucap suara wanita yang terdengar lembut di balik ponsel.


__ADS_2