
Haris pergi dengan kemarahan. Dia membanting pintu sangat kencang hingga jendela di sebelahnya bergetar cukup kuat.
Lusiana hanya bisa menghembuskan napas karena sikap Haris yang kurang ajar.
Selama ini dia kurang baik apa pada Haris. Dia tidak perlu keluar modal untuk bisa membangun perusahaan yang besar, karena hampir semua modal dari Perusahaan Retail Winka.
Apalagi Lusiana memberikan saham cuma-cuma dari 5% saham WinkaJaya Corporation pada Haris.
Tapi dia memang pada dasarnya serakah dan ingin menguasai semuanya. Lusiana hanya bisa mengelus dada atas sikap Haris.
Setelah pemisahan perusahaan ini. Langkah yang seharusnya Lusiana ambil adalah menemukan kesalahan dan penyebab dari perceraian. Sebuah alasan yang cukup kuat di persidangan untuk bercerai.
Lusiana ingat bahwa Haris memiliki kedekatan yang tidak wajar dengan sekretaris pribadinya yaitu Rebecca. Maka dari itu mereka adalah target Lusiana selanjutnya.
Lusiana kembali ke ruang kerjanya dan mencari salah satu kontak di ponsel untuk dihubungi.
"Halo?" kata suara di seberang telepon.
"Jerinx sudah lama ya?" Sapa Lusiana dan membuat keributan di seberang menghilang.
"Lusiana? Kau sialan! Kau kemana saja? Kau tidak pernah memberi kabar padaku. Kau tahu aku sedang bermain game dan hampir menang tapi tiba-tiba seorang teman lama yang menghilang ini menelepon, aku langsung menghentikan game."
"Kau keparat? Apa yang kau lakukan sekarang?" Ungkapan kerinduan dari salah satu sahabat Lusiana ini memang agak nyentrik.
"Berhenti berteriak! Kau hampir membuat telingaku tuli."
"Bukannya kau adalah seorang Hacker? Mudah bagimu untuk mendapatkan lokasiku, bukan?" sambung Lusiana dengan pertanyaan.
"Aku bukan tidak bisa hanya tidak mau melihat privasimu yang memang ingin kau sembunyikan. Aku menghargaimu. Kau harus tahu itu," jawabnya atas pertanyaan Lusiana.
"Lalu ada keperluan apa sampai kau menghubungiku. Aku tahu kau pasti butuh sesuatu, bukan?" tanya pria di seberang seolah meledek Lusiana yang jika hanya ada maunya baru menghubungi dia.
"Ya kau benar aku ingin kau menyelidiki seseorang," ucap Lusiana sembari memainkan pulpen yang ada di tangan kirinya.
__ADS_1
"Memangnya siapa yang ingin kau selidiki?" Lusiana kemudian menyebutkan nama, tempat tinggal dan lainnya pada Jerinx.
"Owh iya kalau begitu kau juga kirim fotonya padaku untuk aku telusuri."
"Ah iya, Lusiana aku kan juga harus membayar biaya operasional dan membayar orang..." Lusiana langsung memotong pembicaraan Jerinx yang melambat itu karena akan membicarakan uang.
"Aku akan mengirim 500 juta ke rekening milikmu. Cukup tidak?" Mendengar 500 juta Jerinx kembali semangat.
"Wah, Lusiana kau memang sahabatku yang paling pengertian,kalau begitu kita akan lanjut di whatsapp" ujar pria itu yang langsung menutup ponselnya.
Lusiana juga langsung mengirim foto Haris dan Rebecca serta uang 500 juta ke rekening Jerinx.
Jerinx saat senang saat melihat uang 500 juta masuk ke rekeningnya dengan mudah. Sahabat karibnya itu memang sangat pengertian kalau soal uang.
Tak heran bila Lusiana akan mendapat timbal balik berupa rasa loyal dari Jerinx atau temannya yang lain.
Lusiana tiba di rumah pada sore hari dan melihat keadaan dapur yang sibuk karena Mbok Darmi sedang memasak untuk makan malam.
Herannya semua asisten rumah tangga yang perempuan ikut membantu Mbok Darmi, mungkin karena tidak tega membiarkan Mbok Darmi bekerja sendirian atau mereka bosan berasa sepanjang waktu di mess.
Saat itu Raymond pun sudah mandi dan bersih. Jadi saat dipeluk oleh ibunya yang belum mandi Raymond sedikit mengeluh dan Lusiana semakin menjahili Raymond.
Seperti biasa jika sudah puas bermain dengan Raymond, Lusiana kembali ke kamarnya. Tapi tiba-tiba tangannya di raih oleh seseorang dan dipeluk dari belakang.
Mereka masuk ke sebuah kamar yang sedikit asing untuk Lusiana karena dia jarang memasuki ruangan tersebut.
"Lusiana, maafkan semua kesalahanku, aku mohon padamu," ucap pria yang ada di belakangnya yang tengah memeluk Lusiana.
"Aku tau aku bersalah. Mari kita ulangi semuanya dari awal. Aku akan menjadi ayah yang baik dan suami yang berbakti kepadamu, aku janji."
Lusiana tidak asing dengan perkataannya itu. Perkataan yang pernah dia ucapkan saat beberapa tahun lalu mereka bertengkar dan Kakaknya hampir membuat mereka bercerai.
Haris membalikkan tubuh Lusiana dan meletakkan kedua tangannya di pinggang ramping wanita itu.
__ADS_1
Saat melihat wajah jelek itu ekspresi jijik dari Haris sekilas ditangkap oleh Lusiana. Dia tertawa getir melihat usaha Haris untuk mendapatkan dirinya. Bukan, lebih tepat harta milik Lusiana.
Dia memegang pipi Lusiana dan berusaha meyakinkan perkataannya. "Aku benar-benar tulus dan sayang padamu Lusiana. Bagaimana kalau malam ini kita melakukan hal yang wajib dilakukan oleh suami istri?"
Dia perlahan memajukan wajahnya dan memejamkan mata sembari mendekatkan antar bibirnya dan Lusiana.
Saat bibir mereka bersentuhan Lusiana menghalangi dengan jemarinya. "Aku tidak butuh berhubungan suami istri denganmu. Jalani saja hidup kita seperti ini."
Haris tak menyerah. Dia menarik lengan Lusiana dan ingin membawanya ke ranjang tapi tiba-tiba malah dia yang dibanting ke tanah
Buk!
Tidak lupa Lusiana meninju pipi kiri Haris sehingga dia meringkuk di tanah sembari memegangi pipinya.
"Apa yang kau pikirakn? Kau ingin melecehkanku seperti dulu? Sudah terlambat jika kau ingin berbaikan denganku."
"Memangnya aku segitu bodohnya tidak tahu perilakumu malam ini yang kau lakukan secara terpaksa untuk membujukku agar tidak jadi melakukan pemisahan perusahaan."
"Kau bahkan tidak peduli dengan anakmu sendiri, apalagi peduli padaku. Yang ada di kepalamu itu hanya uang, sekarang. Bagaimana mendapatkan uang dengan cara mudah dan cepat."
"Aku sudah cukup lama bertoleransi dengan sikapmu tapi sekarang tidak lagi. Mari kita jalani hidup masing-masing dan tidak saling mengganggu."
"Anggap saja semua pemberianku selama ini adalah ungkapan terima kasihku atas anak yang telah kau berikan."
"Aku sudah memberikan banyak hal untukmu. Jadi jangan menggangguku dengan hal seperti ini atau lain kali aku akan membuatmu terbaring di ranjang rumah sakit selama beberapa bulan!" tegas Lusiana pada pria yang masih meringkuk di lantai.
Dia segera keluar dari kamar dan masuk ke kamarnya untuk melakukan rutinitas seperti biasa. Setelah kurang lebih 20 menit. Dia keluar dari kamar dan menjemput Raymond lalu turun untuk makan malam.
Di meja makan mereka tidak banyak bicara. Hanya percakapan antara Haris dan ibunya saja.
"Nak apa yang terjadi dengan pipimu?" tanya Ibu Salma dengan nada suara yang panik melihat luka tonjokkan di pipi anaknya.
"Ini hanya luka kecil, Bu. Aku hanya bertengkar sedikit dengan seseorang. Ibu tidak perlu khawatir berlebihan," ucapnya sembari tak berhenti memperhatika Lusiana.
__ADS_1
Gemeretuk antara gigi dan juga rahangnya yang mengeras menjadi tanda bahwa dia tengah menahan amarah.