
Lusiana memperhatikan jam tangan di lengan kirinya dan waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Selesai menandatangani dokumen, Lusiana segera berkemas dan ingin pulang ke rumah.
Saat dia berada di lift, seorang wanita cantik berlari kecil dan juga ikut masuk bersama Lusiana. "Selamat sore Bu, mau pulang kerja ya?" Sapa wanita cantik itu.
Name tag yang berada di dadanya memberitahu Lusiana siapa wanita yang sedang berdiri di sisinya. Wanita itu bernama Rebecca Sisilia.
"Iya," jawab Lusiana singkat.
"Oh iya Bu, saya adalah sekretaris dari Pak Haris." ucap wanita itu dengan sedikit antusias di wajahnya.
"Iya saya tau." Hanya jawaban singkat yang Lusiana berikan pada wanita tersebut. Mungkin karena hari sudah sore dan dia ingin segera pulang jadi hanya jawaban singkat yang keluar dari mulutnya.
Selain itu dia merasa tidak nyaman berada di sekitar wanita ini. Padahal boleh di bilang wanita itu sangat cantik. Rambut coklat ikal panjang dengan wajah cantik dan bibir seksi.
Tubuhnya pun seperti jam pasir dan memiliki tonjolan di bagian atas dan bawah yang besar sehingga mampu menarik perhatian setiap orang. Kulitnya pun putih bersih dan terlihat halus.
Mulai muncul pikiran yang buruk dari Lusiana terhadap hubungan Haris dan sekretaris pribadinya ini. Tapi dia menepis itu semua dari pikirannya.
Setelah menunggu hampir 5 menit di lift mereka pun keluar dari sana dan mengambil jalan masing-masing yang berbeda.
Lusiana berlari kecil dan masuk ke mobil tapi pandangannya belum lepas dari Rebecca. Dia melihat wanita itu memasuki mobil yang begitu familiar.
Sebuah mobil BMW menunggu kedatangan wanita itu. Lusiana segera menghidupkan mesin mobilnya dan mendekati mobil BMW yang dikenalnya itu.
Tin!
Tin!
Lusiana menurun kaca jendela mobil begitu juga pemilik mobil BMW tersebut. Benar dugaan Lusiana suaminya Harris sedang bersama sekretarisnya.
__ADS_1
"Ah, Ibu Lusiana." Sapa wanita cantik itu dengan senyuman manis di wajahnya tapi entah mengapa kesan yang ditangkap Lusiana adalah senyum itu tak terlihat tulus.
"Aku akan mengantar Rebecca pulang, jadi kau pulang duluan saja. Aku akan makan malam di rumah." CEO itu segera menutup kaca mobilnya dan melesat pergi dari daerah parkiran.
Lusiana tak ambil pusing walau seperti ada hal mengganggu di hatinya. Dia segera pulang ke rumah untuk menyiapkan makan malam buat keluarga kecilnya.
Saat tiba di rumah dia segera memarkirkan mobil dan di depan dia sudah di sambut oleh langkah kecil Raymond yang langsung memeluknya tanda rindu.
"Mama, aku merindukanmu," ucap bocah itu dengan mata berair seakan ingin menangis. Lusiana segera menjepit hidung mancung anaknya.
"Aduh, kenapa anak mama ini gombal sekali. Kan baru bertemu beberapa jam yang lalu, masak udah rindu lagi?" Lusiana tahu bahwa Raymond hanya ingin bermanja-manja dengannya.
Segera saja rasanya semua masalah yang dilalui Lusiana hari itu langsung menguap saat bertemu malaikat kecilnya.
Lusiana langsung saja pergi ke dapur dan menyiapkan bahan serta alat untuk memasak. Malam ini karena suaminya Haris memutuskan untuk makan di rumah jadi Lusiana membuat masakan dengan menu yang cukup banyak.
Sementara itu Raymond juga turut membantu ibunya menyiapkan makanan. Malam itu dia menyiapkan udang saus padang, sup tomyam, dan capcay seafood sebagai menu utama.
Terdengar bunyi mobil di luar kediaman mereka. Haris juga sudah tiba di rumah dan langsung menuju dapur untuk makan bersama keluarganya.
Bau yang semerbak memenuhi hidung mereka. "Anak mama udah pulang. Ayo sini makan dulu, tadi ibu dibantu adikmu dan Lusiana memasak ini khusus untukmu. Ayo makan dulu!"
Tanpa tahu malu ibu mertua Lusiana ini mengaku bahwa dialah yang memasak semua masakan ini dan Lusiana hanya membantunya.
Raymond yang kesal ingin memberitahu ayahnya tapi Lusiana menggelengkan kepala dengan cepat tanda melarang bocah manisnya itu.
Haris menatap Lusiana dan langsung duduk di kursi makan utama. Ibu dan adik Haris duduk di sebelah kiri. Sementara Lusiana dan Raymond duduk di sebelah kanan.
"Kenapa kau biarkan ibu yang masak? Aku kan sudah bilang bahwa kau yang seharusnya memasak." Suara Haris meninggi tanda dia mulai marah.
__ADS_1
Ibu mertuanya yang berlagak baik hati langsung menyahut. "Sudahlah, sudah yang penting makan sekarang. Nanti masakannya dingin."
"Iya, tadi kakak ipar juga hanya membantu sedikit jadi jangan makan banyak-banyak yah!" Celoteh adik Haris, Chika yang saat itu tengah menyendok sup tomyam.
Lusiana hanya menatap mereka dengan datar. Ada rasa lelah dan kecewa di wajahnya yang ditangkap oleh Raymond. Masakan yang dia masak bersama Raymond malah mereka berdua yang dipuji-puji.
"Masakan ibu enak sekali. Dan Chika tumben sekali kau mau membantu ibu memasak. Biasanya juga taunya hanya bermain." Mereka bertiga bicara dengan santai dan terlihat bahagia.
Mereka sebenarnya mengabaikan koki yang memasak makanan untuk makan malam saat itu.
"Kenapa kau bengong? Cepat ambilkan nasi dan lauk untukku!" Haris memerintahkan Lusiana untuk melayaninya makan seperti yang biasa mereka lakukan.
Lusiana pun berdiri dan menuangkan nasi beserta lauknya di piring Haris. "Sudah bantu ibu sedikit, masih saja harus diperintahkan untuk mengambil nasi. Kalau memang kamu sudah tidak sanggup bekerja di kantor lebih bagus kamu berhenti dan serahkan semua pada saya."
"Saya jamin dokumen sampah yang kamu bilang tadi tidak akan kamu temukan lagi."
Lusiana masih diam dan mengambil nasi dan lauk untuk dirinya dan Raymond. "Terima kasih mama," Lagi-lagi senyum Raymond membuat beban di hati Lusiana terangkat.
Lusiana mengelus kepala Raymond dan merasakan betapa lembut rambut putranya yang mampu membawa semua beban berat di hati Lusiana.
"Sudah cepat makan. Setelah itu Mama akan menemanimu mengerjakan PR." Raymond mengangguk senang dan segera menyantap nasi dan lauk pauk yang dimasak oleh ibunya.
Raymond melihat ayahnya Haris dan dia tidak merasakan getaran kasih sayang dari ayahnya. Selama ini Haris selalu tidak peduli pada Raymond bahkan saat bocah manis itu terkena penyakit jantung.
Dia merasa Haris itu adalah orang asing dan ingin agar Mamanya berpisah dari Haris dan keluarga ini.
"Aku harus menemukan cara agar mama bisa berpisah dengan papa. Keluarga ini hanya bisa membuat mama bersedih. Tidak ada satu orang pun yang peduli pada mama. Lebih baik aku dan Mama tinggal berdua saja. Pasti kami akan lebih bahagia," batin Raymond.
"Sampai kapan aku akan bertahan di keluarga ini? Mereka semua tidak tahu malu. Tapi aku memiliki Raymond. Dia harus tumbuh dalam sebuah keluarga. Raymond juga darah daging Haris dan cucu dari ibu mertuaku. Bagaimana mungkin aku bisa menjauhkan mereka? Raymond pasti akan kehilangan keluarga kalau aku berpisah dari Haris."
__ADS_1
"Aku akan berusaha sebisa mungkin untuk bertahan demi kebahagiaan Raymond," batin Lusiana