
Ibu dan anak perempuannya serta Erick sedang berada di taman belakang menikmati suasana menjelang sore hari.
Sementara itu Kakek Mario dan Raymond sedang berada di perpustakaan.
Mario memperhatikan wajah serius cucu laki-lakinya yang terlihat menggemaskan itu. Dia terlihat serius saat membaca rumus-rumus matematika anak SMA yang begitu rumit.
"Raymond? Bagaimana? Apa bukunya bagus?" tanya Mario pada Raymond yang terlihat serius membaca buku.
"Iya kakek bagus sekali. Ruang perpustakaan kakek yang besar ini sangat luar biasa. Seandainya Raymond bisa tinggal di sini, Raymond akan membaca semua harta karun ini!"
Mario juga memikirkan untuk membawa Lusiana dan Raymond untuk tinggal di sini lagi. Tapi apa Lusiana setuju? Itu hal yang harus dia tanyakan dulu.
"Kalau Mamamu tidak setuju bagaimana?" tanya Mario pada Raymond yang wajahnya jadi murung saat mendengar pertanyaan dari kakeknya itu.
"Raymond pasti akan sedih, lagi pula di rumah hanya ada asisten rumah tangga. Itu pun mereka punya kerjaan masing-masing."
"Raymond hanya bisa bermain sendirian. Apalagi dulu kek waktu di rumah sebelumnya, Ibu selalu terlihat sedih karena dibentak oleh nenek." Mario pun bertanya pada Raymond tentang hal apa saja yang keluarga Harus itu lakukan pada Lusiana dan dia.
Sepanjang kisah itu, Mario merasa hatinya hancur berantakan. Lusiana itu tidak pernah bersih-bersih karena di rumah ada asisten rumah tangga yang membantu.
Dia tidak pernah memasak karena selalu ada koki yang memasak untuk mereka. "Aku menjadikan Lusiana sebagai Ratu tapi kalian membuat dia layaknya pembantu. Aku pasti akan balas dendam," batin Mario.
Hati orang tua mana yang tidak sakit saat mendengar dari cucunya, bagaimana Lusiana diperlakukan di rumah itu.
Padahal dialah yang membawa kebahagian sehingga mereka mendapatkan limpahan kekayaan tapi mereka malah membuat hidup Lusiana menderita.
Tentu saja orang tua mana pun akan sakit hati. Apalagi ini seorang Mario Winka Atmaja, pemilik perusahaan raksasa Winka Atmaja Corporation.
Seseorang yang memiliki kemampuan, kekuasaan dan kekayaan.
__ADS_1
Begitu ada kesempatan yang tepat Mario pasti tidak akan melepaskan Haris dan Keluarganya.
"Kakek kenapa bengong? Kakek tidak mau ya aku dan ibu tinggal di sini?" tanya Raymond dengan nada yang sedih di ujung kata.
Mario dengan cepat menggelengkan kepalanya dan berkata, "bukan itu sayang. Kakek malah sangat berharap kalau Raymond dan mamamu bisa tinggal di sini."
"Kakek dan nenek juga kesepian, Pamanmu setiap hari pergi bekerja. Selain itu dia juga sudah dewasa. Tidak ada lagi yang menemani kakek dan nenek."
"Di sini juga asisten rumah tangga bekerja. Sama seperti Raymond yang kesepian, kakek juga kesepian. Bagaimana kalau Raymond membujuk mama untuk tinggal di sini?" tanya Mario sambil memberikan ide pada Raymond agar bisa tinggal di Mansion yang luas ini.
Mario mengelus rambut lembut milik Raymond. Kalau mereka tinggal di sini, lebih mudah untuk mengawasi kesehatan Raymond.
Dia juga bisa memastikan kalau si keparat itu tidak akan kembali untuk merusak hidup anak perempuan yang paling dia cintai itu.
"Ayo kita temui mamamu di belakang," ajak Kakek Mario ini pada cucunya. Dia pun langsung menaikkan tubuh Raymond ke gendongannya serta membawa bocah kecil itu ke taman belakang.
Lusiana saat itu tangannya sedang dipegang oleh Ibunya yang sedang menangis. Entah apa yang mereka bicarakan tapi Lusiana mengusap lembut pipi ibunya itu.
"Kalau kau mau dimaafkan, kau harus tinggal kembali di sini. Ini rumahmu. Ibu sangat kesepian karena tidak ada lagi yang menemani Ibu."
"Ibu ini sudah tua. Kapan saja Ibu bisa mati. Kalau terus berjauhan dengan...." Lusiana langsung memeluk ibunya dan menghentikan percakapan mengharukan itu.
"Ibu jangan bicara tentang kematian. Lusiana tidak suka itu."
"Maafkan Lusiana Ibu, tapi Lusiana sudah punya rumah sendiri. Apa tidak apa kalau Lusiana ingin hidup mandiri?" tanya Lusiana yang membuat Ibunya semakin menitikkan air mata.
"Mama!" teriak Raymond dari dalam ruangan berlari menuju pelukan Lusiana.
Dia langsung menghampiri neneknya dan mengusap air mata nenek. "Nenek jangan menangis lagi, Raymond akan membujuk mama untuk bisa tinggal di sini."
__ADS_1
Ibu Delinah yang mendengar hal itu menghentikan tangisannya dalam sekejap. "Benarkah?" tanya Ibu Delinah sambil menatap ke arah Lusiana.
Lusiana kemudian berjongkok dan bicara pada Raymond. "Apa Raymond suka tinggal di sini?" Raymond mengangguk dengan cepat saat dia mengingat perpustakaan kakeknya.
"Iya Raymond senang sekali, Ma. Raymond bisa bersama kakek, nenek, dan juga paman Erick. Kita tinggal di sini ya Ma? Kita kan keluarga."
Lusiana kemudian menganggukkan kepalanya pelan dan memeluk Raymond. "Iya sayang kita bisa tinggal di sini asal kakek juga setuju," ucap Lusiana saat melihat ayahnya keluar dari pintu dan menuju mereka.
"Lusiana. Ini adalah rumahmu, sudah seharusnya kau kembali kesini dan menemani hari tua ayah dan ibumu." Lusiana kembali memeluk ayah dan ibunya.
Sejujurnya dia pun ingin tinggal bersama mereka dan menghabiskan keseharian bersama. Apa lagi usia ayah dan ibunya semakin tua.
Dengan kehadiran Raymond pun rumah ini akan semakin meriah. "Ah iya yah. Rumah yang barusan aku beli harus aku apakan? Lagi pula aku sudah membawa semua asisten rumah tangga ke sana."
Mario duduk di sebuah kursi santai di samping istrinya. Dia berkata, "Ya bawa saja mereka semua kemari! Ayah akan memanggil orang lain untuk menjaga rumahmu yang sekarang."
"Atau kalau mau disewakan ayah juga akan mencari penyewa yang tepat." Lusiana menolak gagasan itu dan meminta ayahnya untuk mencari pekerja tambahan untuk menjaga rumahnya. Dia akan memberikan rumah itu pada anaknya saat dia dewasa kelak.
Mereka pun menikmati senja bersama di taman belakang rumah.
Tidak terasa waktu terus bergulir dan sudah jam 10 malam. Saat itu Raymond sudah tertidur di gendongan Lusiana. Dia meletakkan Raymond di mobil. Untuk sementara mereka akan kembali ke rumah untuk berkemas-kemas.
"Kenapa tidak menginap saja? Besok baru kembali kerumah," ujar Ibu Delinah pada Lusiana dan Erick yang ingin pulang kembali ke rumahnya.
"Bu, besok Raymond harus sekolah. Nanti pulang sekolah, Lusiana dan cucu ibu ini akan kembali kesini. Kami cuma mau mengemaskan beberapa barang saja, Ibu jangan khawatir berlebihan."
"Ya sudah, Erick bawa mobilnya pelan-pelan saja ya. Cucuku lagi tidur itu," perintah Mario pada anaknya yang sedang menyalakan mesin mobil.
"Iya ayah iya."
__ADS_1
Lusiana, Erick dan Raymond pun meninggalkan Mansion itu dan kembali kerumah. Sementara Mario merangkul istrinya dan kembali ke dalam Mansion