Putra Janda Kaya Mencari Papa

Putra Janda Kaya Mencari Papa
Bab 24


__ADS_3

"Ma, Ayo kita hidup berdua saja." Lucia kaget mendengar pernyataan dari Raymond yang telah bangun tidur.


Lucia duduk di pinggir kasur dan bertanya, "Kenapa Raymond bicara seperti itu, Nak?" tanya Lucia heran sembari mengelus lembut kepala Raymond yang selembut kapas.


"Ma, Raymond tidak ingin mama bersedih dan hanya ingin hidup berdua dengan mama."


"Bukankah itu bagus juga untuk kesehatan jantung Raymond yang tidak perlu mendengar jeritan suara nenek?"


Lusia tersenyum kecil. "Baiklah kalau begitu kita akan pindah ke apartemen saja, bagaimana?"


"Tapi, hubungan mama dan papa akan berakhirkan?"


"Kok Raymond bicara begitu? Apa Raymond takut kalau mama dan papa akan bercerai?" tanya Lucia sembari mengerutkan alisnya karena bingung arah pembicaraan Raymond.


Raymond menggelengkan kepala dengan keras. "Tidak, Ma."


"Raymond tidak takut mama dan papa bercerai. Raymond malah mendukung mama berpisah dengan papa." Lusiana mengerti arah pembicaraan Raymond.


"Ma, sebenarnya Raymond sudah tidak betah di rumah ini dan ingin pergi saja. Tapi Raymond kasihan sama mama karena Raymond kira mama masih mencintai papa."


"Tapi saat Raymond melihat nenek menampar mama dengan keras, Raymond akhirnya mengerti tidak ada lagi kasih sayang di rumah ini untuk kita."


"Papa bahkan tidak pernah sekali pun menjenguk saat Raymond sakit, papa juga tidak pernah bermain dengan Raymond, papa juga tidak pernah membelikan mainan untuk Raymond," ungkap Raymond dengan sedih.


Matanya bergetar begitu pula suaranya. "Jadi tidak ada bedanya Raymond punya papa atau tidak. Tinggal di sini malah membuat Raymond tersiksa ma," keluh Raymond hingga tetesan air mata jatuh di penglihatan Lucia. Dia segera memeluk putra kesayangannya itu yang tengah terisak.


"Mama tidak tahu jika Raymond begitu merasa menderita, kalau Raymond memberitahu lebih awal kita pasti akan segera pergi dari rumah ini."


Lucia melepaskan pelukan Raymond dan menghapus air mata berharga anak semata wayangnya itu.


"Beri mama waktu untuk mempersiapkan semuanya ya, Nak?" Raymond mengangguk setuju.


"Tapi apa Raymond tidak apa-apa hidup tanpa seorang papa?" tanya Lusiana sekali lagi untuk meyakinkan Raymond.


"Tidak apa-apa, Ma. Raymond bisa mencari papa baru lain yang mungkin bisa menyayangi Raymond dan memperlakukan mama dengan tulus."

__ADS_1


Ungkapan Raymond itu membuat hati Lusiana tersentuh. Entah kebajikan apa yang telah dia lakukan sebelumnya hingga bisa melahirkan anak yang sangat pintar dengan kecerdasan emosional yang begitu tinggi.


Lusiana tak berhenti mengucapkan rasa syukurnya pada Tuhan karena telah menitipkan anak yang luar biasa untuknya.


Dia sekali lagi memeluk Raymond dengan erat. Rasa sedih juga membuncah di hatinya.


Bohong kalau selama ini dia tak merasa sedih, kecewa, dan marah dengan perlakuan Haris dan keluarganya.


Ibu mertuanya membuat Lusiana bekerja seperti pembantu. Haris selalu menghalang-halanginya ke kantor dan memberikan pekerjaan berat atau membuat masalah-masalah kecil di kantor untuk membuat Lusiana tidak betah.


Ucapan ketus atau bahkan menghina dari adik iparnya Chika yang tak berhenti menghabiskan uang milik Haris.


Keputusan pun dibuat. Dia akan segera bercerai dengan Haris. Langkah awal adalah mengamankan dan memisahkan semua harta bendanya.


Pertama-tama dia akan mengakuisisi dan memisahkan Perusahaan Retail Winka miliknya dari anak-anak perusahaan yang lain.


Keputusan Lusiana untuk memisahkan perusahaan membuat Haris kalang kabut dan meminta Lusiana untuk tidak melakukan itu karena bisa saja merugikan perusahaannya yang lain.


Beberapa minggu berlalu, Lusiana beserta dewan direksi dan juga Haris mengadakan rapat untuk memisahkan perusahaan tersebut.


Perusahaan Retail Winka menjadi induk 2 perusahaan besar yaitu WinkaJaya Corporation milik Lusiana dan Haris Corporation milik Haris.


"Ini bukan tentang uang tapi tentang karyawan yang bekerja di perusahaan saya yang akan terkena dampak dari pemisahan ini," dalih Haris.


Dia mengatakan demikian untuk menutupi maksud sebenarnya yang tidak ingin merugi bila berpisah dengan perusahaan induk.


Selama ini dari perusahaan induk milik Lusiana lah dia mendapat kucuran dana yang banyak sehingga dia bisa memiliki satu perusahaan besar sebagai induk dari 30 perusahaan menengah.


Lusiana angkat bicara. "Selama ini Perusahaan Retail Winka kita sudah mencurahkan banyak sekali dana bantuan pada Haris Corporation sehingga perusahaannya berkembang pesat."


"Dari sekian banyak proyek yang didapatkan oleh Haris Corporation, Perusahaan Retail Winka hanya mendapat keuntungan yang sangat kecil.


"Ini adalah bisnis. Keuntungan dan kerugian akan berdampak untuk banyak orang, tidak hanya perusahaan Haris juga, perusahaan Winka pun akan terkena dampaknya."


"Jika kita terus menerus menerima keuntungan kecil, itu tidak akan memenuhi perut orang-orang di sini."

__ADS_1


Sebagian besar Dewan Direksi setuju dengan pendapat Lusiana. Yang tidak bisa menerimanya hanya Haris dan bawahannya.


"Saya sebagai pemegang saham terbesar di Perusahaan Retail Winka dan WinkaJaya Corporation telah memutuskan untuk memisahkan perusahaan dari Haris Corporation."


Setelah itu mereka semua menandatangani dokumen-dokumen yang berkaitan dengan pemisahan perusahaan.


Haris pun terpaksa menandatanganinya karena semua Dewan Direksi melihat dan dia tak bisa melakukan apa-apa.


Sebagai pemilik saham 70% dari Perusahaan Retail Winka, Lusiana memegang peran penting dalam pengambilan keputusan. 30% adalah milik orang-orang yang hadir saat ini.


Sedangkan WinkaJaya Corporation Lusiana memiliki 80% saham, Dewan direksi memiliki 15% saham, dan Haris memiliki 5%.


Sedangkan untuk Haris Corporation, Lusiana memiliki 60% dan Haris 40% nya.


Haris sangat bingung dengan kondisinya saat itu. Saat semua Dewan Direksi pergi, dia membujuk Lusiana yang tinggal sendiri di sana.


"Lusiana, bagaimana kau bisa begitu kejam padaku?" tanya Haris dengan wajah memelas.


"Kejam bagaimana maksudmu?" tanya Lusiana yang masih berkutat dengan dokumen di hadapannya.


"Kenapa kau membuat tindakan yang akan merugikan perusahaan kita, Haris Corporation?" tanya Haris dengan suara yang lembut.


Lusiana menjatuhkan kacamatanya di atas meja dan duduk di kursi dengan melipat tangannya.


"Bukannya malah bagus? Pertama Perusahaan Retail Winka akan berdiri sendiri. Jika mendapat proyek pun hanya akan dikerjakan oleh WinkaJaya Corporation dan keuntungan bisa berkali-kali lipat."


"Sementara itu kau bisa menjalankan perusahaanmu dengan mandiri mulai sekarang tapi, tenang saja, Aku tidak akan lepas tangan karena sahamku yang ada di sana cukup besar."


Ucapan dari Lusiana membuat perasaan Haris tidak nyaman.


"Selama ini kau juga telah mendapat keuntungan yang sangat besar."


"Kau seharusnya bersyukur telah memiliki perusahaan yang cukup besar karena bantuanku, apa kau ingat dulu kau hanya karyawan di kantor ayah?"


Brak!

__ADS_1


Haris menghentakkan tangannya di meja dengan cukup keras saat mendengar Lusiana membicarakan masa lalunya.


Lusiana benar, saat itu Haris hanya karyawan rendahan yang gajinya tidak sampai 10 juta perbulan. Setelah mengenal Lusiana dan membentuk perusahaan bersamanya lah Haris baru bisa memegang banyak uang.


__ADS_2