
"Kalian semua akan ikut saya ke Mansion Atmaja, rumah ayah saya," ucap Lusiana saat itu.
Setelah dia sarapan, semua asisten rumah tangga dia kumpulkan dan memberitahu mereka untuk berkemas karena akan pindah ke Mansion Atmaja.
"Maka dari itu semuanya harus segera berkemas karena nanti siang kita akan segera pindah," ucap Lusiana mengakhiri pemberitahuan itu.
Mereka belum genap tiga bulan bekerja tapi sudah 2x pindah rumah. Sungguh melelahkan untuk mengemaskan pakaian, tapi mereka tidak mengeluh dan menuruti Lusiana.
Terkecuali Irene yang sedari tadi cemberut dan mengomel terus. "Belom juga ada tiga bulan, kita ini udah kayak bola. Pindah-pindah terus, kan capek ngemasin pakaian melulu," cibir Irene yang terus mengeluh.
"Udah lah gak apa namanya juga kerja. Lagian barang kita kan juga gak banyak-banyak amat," ucap Saryah menanggapi Irene yang mengomel tadi. Mereka pun kembali ke kamar dan mengemasi barang masing-masing.
Tidak lupa Irene mengirimkan pesan Whatsapp pada Haris dan memberitahukan pada pria itu bahwa mereka akan pindah ke Mansion Atmaja.
"Bagus! Ikuti terus Lusiana," tutur Haris pada pesan whatsapp mereka.
Sedikit ada rasa kecemburuan pada hati Irene. Jika harus dibandingkan dengan majikannya, Irene merasa kecantikannya jauh di atas Lusiana. Walau kulitnya tidak seputih wanita itu, tapi dia memiliki rambut yang sehat, hidung mancung yang kecil, bibir yang indah serta mata besar yang memiliki bulu mata lentik.
Tapi kenapa Haris selalu saja ingin tahu tentang Lusiana. Tapi demi uang dan cinta Haris, dia akan melakukan segalanya. Dia sudah beberapa kali menyelinap saat di malam hari untuk bertemu Haris di rumahnya atau di hotel. Dia sudah menyerahkan tubuhnya sepenuh hati pada Haris demi cinta dan uang.
Hari menjelang siang, Raymond keluar dari kelas sambil menggenggam tangan Sesil. "Jadi Raymond akan pindah lagi?" Bocah imut itu mengangguk.
"Iya, Raymond akan pindah ke rumah kakek," jawabnya dengan mata berbinar bahagia.
"Jadi, bolehkah Sesil datang sesekali ke sana untuk bermain bersama Raymond?" tanya Sesil yang di jawab dengan anggukan oleh bocah yang tengah menggenggam tangannya.
"Tentu saja."
__ADS_1
Mereka pun tiba di teras sekolah. Dallen dan Lusiana sudah tiba untuk menjemput mereka. "Kalau begitu kita antar Sesil dulu untuk pulang," ucap Lusiana saat mereka sudah ada di dalam mobil.
Kebetulan Erick saat itu tidak bisa mengantar Lusiana karena ada pekerjaan yang harus dia selesaikan, jadi Dallen yang kini menemani Lusiana untuk pindahan.
Setelah mengantar Sesil, mereka langsung pulang kembali ke rumah Lusiana dan mengemasi beberapa barang. Lusiana sendiri membawah 4 koper yang berisi pakaian, sepatu, tas, dokumen dan lainnya.
Memang Lusiana tidak terlalu banyak memiliki barang sehingga bawaannya lebih sedikit. Sedangkan Raymond memiliki 3 koper yang berisi pakaian, sepatu, tas dan juga beberapa mainan yang dia bawa. Ada juga sebuah box yang cukup besar berisi rubik, buku-buku dan mainan lain milik Raymond.
Mereka dibantu oleh asisten rumah tangga yang membawa koepr-koper mereka masuk ke dalam mobil. Asisten rumah tangga lainnya juga sudah memasukkan barang-barang mereka ke sebuah mobil bus mini.
Setelah semua persiapan beres, mereka pun melajukan mobil dan menuju Mansion Atmaja.
Selama kurang lebih menempuh perjalanan hampir 1 jam, mereka tiba di sebuah gerbang besar utama.
Dari gerbang tersebut mereka melewati jalan yang di penuhi pepohonan rimbun. Setelah 15 menit mereka mulai melihat sebuah mansion yang sangat besar.
Ini bukan rumah, tapi istana.
Ketika mereka tiba pun, mereka disambut oleh puluhan asisten rumah tangga yang berderet menyambut mereka. Semua menundukkan kepala dan tidak berani melihat ke arah Lusiana.
"Selamat datang Nona Besar Lusiana! Selamat datang Tuan Muda Raymond!" ucap mereka serentak.
Kedatangan Lusiana disambut oleh kedua orang tuanya. "Kakek, Nenek!" Raymond berlarian dan memeluk kedua orang tua itu. Sesaat kemudian dia digendong dan dibawa masuk ke dalam.
Seorang kepala pelayan menghampiri asisten rumah tangga dan memperkenalkan diri. Asisten Lusiana juga kembali memperkenalkan diri mereka satu persatu.
"Ah, Paman Robert tolong antarkan barang-barang saya ke dalam kamar. Barang-barang Raymon juga tolong di bawa ke kamarnya," ucap Lusiana pada kepala pelayan yang telah dia kenal sejak kecil.
__ADS_1
"Mereka adalah asisten rumah tangga yang saya bawa. Tolong berikan mereka kamar dan seragam yang sesuai dengan keahlian mereka."
"Baik, Nona!" ucap kepala pelayan, Robert.
Lusiana langsung mengemasi barangnya saat telah ada di dalam kamar. Kamar ini adalah kamar yang menyaksikan dia tumbuh besar.
Kamar dengan seluas 300 m² itu masih terawat dengan baik walau tidak ditinggali selama 5 tahun. Kamar dengan gaya eropa dan di dominasi warna emas dan putih serta lampu gantung yang menambah suasana kemewahan di dalam sana.
Lusiana melihat ranjang mewah klasik yang ibunya beli terakhir kali dia berada di sini. Ranjang yang harganya ratusan juta ini memang sesuai dengan kualitasnya yang tidak berubah sama sekali sejak lima tahun dia tak di sini.
Lusiana melepaskan wignya dan pergi untuk membersihkan diri.
Sementara itu Mario dan Delinah berkeliling Mansion menggunakan sebuah club car. Mobil yang biasanya digunakan di lapangan golf. Mengingat betapa luasnya Mansion jadi dia memutuskan untuk menggunakannya.
Dia memperkenalkan pada semua orang yang bekerja tentang cucunya. "Hai, ini adalah cucuku. Jadi kalau dia butuh apa-apa segera lakukan, mengerti?"
"Mengerti Tuan Besar!" ucap pelayan dan pekerja lainnya. Raymond sangat menikmati waktu jalan-jalan bersama kakek dan neneknya. Berbeda saat dia bersama keluarga Haris, di sini Raymond selalu tersenyum senang membuat hati kedua orang tua itu bahagia.
Sementara itu Asisten yang baru saja masuk ke dalam mess pelayan mendapat perhatian semua pelayan yang ada. Mereka memperkenalkan diri pada pelayan yang lain dan menuju ke kamar.
4 pelayan baru berada di kamar yang sama sementara Pak Paijo masuk ke kamar yang berada di dekat kebun bersama tukang kebun yang lain.
Meskipun 4 pelayan berada dalam 1 kamar tapi karena kamar itu sangat luas mereka merasa tidak masalah. Apalagi kamar mereka sudah dilengkapi dengan AC, tempat tidur ukuran queen size untuk masing-masing. Dan juga 4 buah lemari yang bisa mereka isi dengan pakaian mereka masing-masing.
"Wah ini kamarnya Luas, Acnya dingin, tempat tidurnya bagus, kita dapat 3 seragam lagi," ujar Irene dengan penuh kekaguman.
Saryah, Sarinah dan Mbok Darmi pun setuju dengan ucapan Irene itu. Setelah mereka selesai mengemaskan pakaian. Kepala pelayan memanggil mereka untuk membagi tugas.
__ADS_1