Putra Janda Kaya Mencari Papa

Putra Janda Kaya Mencari Papa
Bab 12


__ADS_3

Lusiana bekerja seperti biasanya di kantor. Tapi selalu saja ada masalah mengenai dokumen yang membuat wanita itu pusing dan memarahi manager yang bertanggungjawab atas dokumen tersebut.


"Apa ada yang salah dengan semua orang hari ini? Kenapa begitu banyak kesalahan. Hal ini membuat kepalaku pusing." Lusiana minum air putih yang memang sudah disediakan di atas meja dan lanjut mengerjakan pekerjaan lainnya.


Suara ketukan pintu membuat tangan Lusiana berhenti mengetik. "Masuk," perintah Lusiana pada sekretaris yang segera masuk begitu Lusiana memberikan ijinnya.


"Bu, Hari ini ada jadwal meeting dengan Perusahaan Clamart pukul 2 siang, kemudian di lanjutkan dengan pertemuan dengan CEO dari perusahaan sunsang pada pukul 4 sore."


"Apa Ibu ingin ada perubahan jadwal?" Tanya wanita manis dengan rambut panjang itu pada Lusiana.


"Tidak ada. Jadwalnya pas. Hanya saja ingat untuk selalu mengosongkan waktu dari jam 11 hingga jam 1 atau jam 2."


"Baik, Bu kalau begitu saya akan kembali ke meja saya." Wanita bernama Annaya Damarisa itu adalah sekretaris pribadi Lusiana yang mengatur segala jadwalnya di kantor


Jam sudah menunjukkan pukul setengah 11 dan Lusiana segera pergi menjemput Raymond. Setibanya di sekolah, Raymond berlari kecil sembari membawa kembali box berisi berbagai macam Rubik.


Saat Lusiana melihat itu dia agak heran karena bentuk rubik sebelumnya berubah. "Eh kenapa ada Rubik berbentuk segitiga begini? Ini semua milik siapa?"


"Mama aku akan menikah dengan gadis pemberi rubik ini, namanya Sesil Andreas. Dia sangat cantik dan tangguh seperti mama." Lusiana menunjuk seorang gadis manis berambut pendek. Gadis kecil itu melihat ke arah Lusiana dan Raymond.


Dia yang biasanya berjalan dengan angkuh kini berjalan dengan sopan dan malu-malu menuju Lusiana. Dia kemudian meraih tangan Lusiana dan menciumnya. "Perkenalkan nama saya Sesil Andreas. Saya calon menantu mama mertua."


Gadis kecil itu sesekali melirik Raymond dengan malu-malu. Tidak bisa dipungkiri bahwa Raymond memang terlihat jauh lebih tampan dari anak biasanya. Kulitnya yang putih, matanya kecoklatan, rambutnya hitam kecoklatan, hidungnya kecil, dan bibirnya juga imut.


Tentu akan mudah menarik lawan jenis apa alagi dengan keimutan yang dia miliki semua orang pasti akan jatuh hati.


Lusiana tersenyum kecil melihat gadis kecil itu. Dia pun berjongkok dan memberitahu gadis itu suatu hal. "Nak, usiamu sekarang adalah usia untuk berteman bukan untuk menikah. Bagaimana kalau kalian menjadi sahabat dulu. Saat dewasa dan usia kalian cukup baru pikirkan untuk menikah. Bagaimana?"


Mata gadis kecil itu cerah. "Baiklah kalau begitu karena Mama mertua bilang seperti itu maka sebagai gadis penurut, Sesil akan mengikuti perkataanmu."

__ADS_1


Matanya nampak berkedip centil dengan senyum malu-malu membuat Lusiana tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha," Raymond takjub dengan tawa ibunya. Baru kali ini Raymond melihat tawa lepas ibunya yang tak pernah dia lihat.


Biasanya ibunya bersikap dingin dan datar. Walau Lusiana sangat lembut pada Raymond tapi dia tak pernah tampil dengan tawa yang begitu lebar. Paling hanya senyum lebar tapi sekarang dia melihat kebahagiaan ibunya.


Raymond melihat interaksi antara Lusiana dan Sesil. Bolak-balik melihat mereka berdua. Suatu saat dia pasti akan menikahi gadis ini yang telah menunjukkan kebahagian di wajah ibunya. Kebahagian yang pertama Raymond lihat.


"Wahahahha." Tawa terbahak-bahak dari seorang laki-laki terdengar di belakang Lusiana.


"Apa-apaan ini? Bocah pembuat onar bisa juga bersikap manis seperi ini. Kakak sangat takjub, wahahaha." Lusiana melihat ekspresi Sesil yang menggembungkan pipinya dengan kesal saat melihat ke belakang.


"Dallen?"


"Lusiana?"


Mereka serempak menyebutkan nama orang di depannya. Raymond dan Sesil bingung saat kedua orang terdekat mereka saling panggil nama satu sama lain.


Lusiana segera berdiri dan menghampiri Dallen serta memeluknya. "Bagaimana kabarmu? Apa yang kau lakukan di sini?"


Lusiana melepaskan pelukannya pada Dallen. Pria itu adalah teman yang sangat akrab saat mereka berada satu kampus. Lusiana tidak menganggap Dallen sebagai lawan jenis yang harus dijauhi. Mereka berteman sangat akrab.


Hanya saja Lusiana menghilang 5 tahun lalu dan santer terdengar bahwa Lusiana sudah menikah dan memiliki anak. Dallen berusaha menghubungi Lusiana tapi tetap tidak bisa.


Dia berusaha menghubungi keluarganya tapi saat itu ayah Lusiana yang mengangkat telepon dan marah besar dengan Lusiana. Dia tak tau keberadaan sahabat karibnya saat itu.


"Aku menjemput adik bungsuku. Itu!" Dallen menunjuk pada Sesilia Andreas yang masih terlihat jutek saat melihatnya. Tapi berbeda saat melihat Lusiana. Dia akan menjadi gadis paling manis yang pernah Dallen lihat.


"Oh, jadi gadis kecil ini ternyata adikmu pantas saja nama belakangnya tidak asing buatku." Lusiana melihat bolak-balik antara Dallen dan Sesil.


Wajah Dallen berubah agak serius. "Kau tahu aku mencarimu ke mana-mana tapi tak bisa kutemukan. Ternyata kau eh siapa bocah kecil menggemaskan ini?" Dallen berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Raymond.

__ADS_1


Lusiana mengelus kepala Raymond sambil berkata, "Dia anakku." Dallen mendongak takjub. Dia menyentuh pipi imut Raymond tapi pria kecil itu langsung menepisnya.


"Tidak boleh sembarangan menyentuh tubuh orang lain," tolak bocah kecil itu sembari memegang tangan ibunya.


Dallen pun berdiri sambil berkata, "Yah, baiklah aku tidak akan menyentuhmu. Ah, iya Lusiana bagaimana kalau kita pergi ke Coffeshop di seberang sana. Aku ingin bicara banyak hal denganmu."


Lusiana melihat jam di tangannya yang menunjukkan pukul 11 lewat 15 menit. "Aku memiliki waktu 1 jam untuk mengobrol."


Lusiana bersama Raymond, Sesil, dan Dallen menyebrangi jalan menuju Coffee Shop. Mereka tiba di sana, duduk santai dan memesan dua cangkir coffee kesukaan masing-masing.


Sedangkan anak-anak memesan minuman yang cocok untuk mereka. Strawberry smothies untuk Sesil dan Dragonfruit Juice untuk Raymond.


"Kau tau kita sudah tidak bertemu 5 tahun. Aku tidak ada lagi lawan bertanding yang cukup kuat sepertimu,"keluh Dallen.


Dia kemudian mengalihkan pandangannya pada bocah kecil tampan yang sedang menyeruput jus naga.


"Asal kau tahu, Ibumu ini adalah atlit tekwondo yang sangat hebat. Dia memiliki banyak medali dan...." Belum sempat dia melanjutkan ucapannya Raymond langsung memotong.


"Aku tau. Kemarin Ibu bertarung dengan Papa dan mematahkan lengan kirinya." Dallen langsung tertawa terbahak-bahak mendengar hal itu dan Lusiana hanya tersenyum canggung sembari menggaruk lehernya.


"Kau masih saja bar-bar seperti dulu. Apa masih ada cerita seru lagi yang lainnya?" Tanya Dallen dengan antusias.


Lusiana pun menceritakan secara terbuka kejadian 5 tahun yang lalu kepada Dallen, sahabatnya saat duduk di bangku kuliah.


Cerita mengalir apa adanya dan semua itu juga di dengar oleh anak-anak. Raymond juga merasa agak sedih karena ibunya menjalani pernikahan yang tidak bahagia dan harus meninggalkan rumah dan orang tuanya.


"Tidak adakah keinginanmu untuk kembali pada mereka?"


Lusiana mengalihkan tatapannya pada jendela dan menerawang jauh. "Aku tidak tahu apa mereka mau menerima aku dan anakku setelah semua kejadian ini."

__ADS_1


__ADS_2