Putra Janda Kaya Mencari Papa

Putra Janda Kaya Mencari Papa
Bab 41


__ADS_3

Sebuah Minuman bersoda didorong oleh seorang pria pada wanita di sebelahnya. "Tenanglah! Sekarang semua sudah terkendali, jadi jangan menangis lagi. Aku pikir kau wanita kuat ternyata bisa menangis juga," ujar Jerinx menggoda Lusiana yang matanya hampir membengkak karena menangis cukup lama.


Lusiana memukul lengan pria di sebelahnya dan hal itu membuat Jerinx meringis kesakitan. "Aduh, pukulanmu masih sakit seperti sebelumnya."


"Kau bodoh ya, bagaimana aku tidak sedih perusahaan yang aku bangun selama 5 tahun akan hancur dalam semalam."


"Bagaimana masa depan anakku jika Perusahaan itu hancur. Haris!!! Tunggu saja aku akan membalasmu lain kali," geram Lusiana saat dia memikirkan dalang sebenarnya yang ingin menghancurkan perusahaan.


"Kau tidak berubah ya, masih suka marah-marah dan lihatlah dandanan norak ini! Masih saja suka Cosplay jadi wanita jelek," goda Jerinx sambil mengacak rambut keriting milik Lusiana. Wanita itu segera menepis tangan Jerinx dan membetulkan posisi rambut palsunya yang bergeser.


"Ngomong-ngomong kenapa kau pulang ke Indonesia?"


"Pekerjaanku di Amerika sudah selesai jadi aku kembali ke sini, Kenapa? Kau tidak senang aku kembali?" tanya Jerinx sambil sesekali menyeruput minuman bersoda menggunakan sedotan. Dia menoleh pada Lusiana untuk mendengar jawaban wanita tersebut.


"Cih, kenapa bicara begitu? Tentu saja aku senang kau pulang. Bagaimana kalau kau bekerja di kantorku saja?" ajak Lusiana pada Jerinx untuk bekerja di kantornya.


"Berapa gajinya?"


"500 juta/bulan bagaimana?" Jerinx berdiri saat dia menyemburkan minuman bersoda yang baru saja dia minum.


"Apa? Apa aku tidak salah dengar? 500 juta?" pekik Jerinx yang membuat orang-orang di sekitar kafe memperhatikan mereka. Lusiana segera menarik Jerinx untuk duduk. Dia bahkan memberikan isyarat dengan tangannya untuk minta maaf pada pengunjung kafe itu.


"Kenapa pake teriak segala sih? Memangnya kurang?" tanya Lusiana.


Jerinx menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Itu gaji yang sangat besar. Kenapa kau membuang-buang uang sebanyak itu untukku? Kau tidak sayang uangmu?"


Lusiana memutar bola matanya. Dia menghabiskan begitu banyak waktu dengan si bodoh ini tapi dia masih tidak mengenal Lusiana.


"Gaji untuk seorang IT sepertimu kan memang besar, sudah jangan banyak dipikirkan lagi, kau menerima gajimu dan kau harus melindungi perusahaanku. Mengerti?"

__ADS_1


"Baiklah! Baiklah! Eh iya bagaimana kabar Dallen?" tanya Jerinx pada Lusiana. Ya, saat kuliah dahulu mereka bertiga cukup dekat dan sering bersama.


"Eh benar juga, nanti kita semua akan satu perusahaan! Dallen juga bekerja di kantorku," jawab Lusiana.


Jerinx awalnya cukup heran, kenapa pria seperti Dallen malah bekerja dengan Lusiana. Dallen Andreas adalah sosok pria yang memiliki kemampuan mengelola perusahaan. Terakhir dia dengar, Dallen sedang sibuk-sibuknya mengelola perusahaan ayahnya.


Lusiana pun bercerita bahwa Dallen saat ini masih perang dingin dengan ayahnya karena pria itu menggagalkan perjodohan yang telah diatur oleh keluarga.


Tapi di sisi lain Jerinx cukup senang karena mereka bertiga bisa berkumpul bersama lagi setelah sekian lama berpisah.


Malam semakin larut, jam di tangan Lusiana sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam. untuk pertama kalinya Lusiana pulang larut malam seperti ini setelah memiliki Raymond sebagai anaknya.


"Kau mau aku antar pulang?" tanya Jerinx karena agak khawatir Lusiana pulang sendirian di tengah malam seperti ini.


Lusiana mengambil slinbag dan mengenakannya. "Tidak perlu, aku bawa mobil sendiri. Jangan khawatir karena aku selalu membawa belati," ucap Lusiana sambil menunjukkan kunci mobil dan pisau belati kecil di lengan kirinya.


Jerinx menatap jauh kepergian Lusiana. Dia kembali karena mendengar Lusiana sudah bercerai dengan suaminya. Dia bahkan membatalkan beberapa kontrak pekerjaan di Amerika untuk bisa dekat dengan Lusiana.


Kesempatan untuk mengatakan cinta yang dulu terlambat bisa dia ungkapkan lagi. Tapi untuk sekarang dia merasa waktunya kurang tepat.


Dia menghabiskan minuman bersoda itu dan membuangnya ke tempat sampah. Dia masuk ke dalam mobil dan kembali ke apartemen.


Lusiana pun tiba di Mansion Atmaja. Kepala pelayan yang masih bangun saat itu segera membuka pintu utama. Dia menyapa singkat Lusiana. Beberapa obrolan singkat mereka bicarakan sebelum Lusiana naik untuk melihat Raymond.


Saat itu wajah Raymond sedang cemberut karena menunggu ibunya yang tidak kunjung pulang. Rubik segitiga pemberian Sesillia dia mainkan hingga pintu kamarnya pun terbuka.


Senyum Raymond mengembang saat dia melihat bahwa Lusiana sudah pulang dari kantor. Dia melemparkan rubik itu dan menghamburkan diri pada mamanya yang ada di depan pintu kamar.


"Mama? Mama dari mana saja? Raymond sangat merindukan mama," ucap Raymond dengan nada suara yang terdengar sangat manja.

__ADS_1


Lusiana melepaskan pelukan Raymond dan langsung menggendongnya. "Kok putra mama belum tidur jam segini? Ini udah tengah malam loh?" tanya Lusiana dengan suaranya yang lembut.


Raymond melingkarkan kedua lengannya pada leher Lusiana dan sesekali mencium pipi wanita yang sering dia panggil mama itu.


"Raymond tidak bisa tidur sebelum mendengar cerita yang mama bacakan," ucap Raymond dengan mencebikkan bibir dan wajah memelas yang dia perlihatkan. Tentu saja itu dia lakukan agar Lusiana tidak marah.


"Ya udah kalau gitu Mama akan bacakan cerita," Lusiana membaringkan Raymond di atas ranjang.


Saat itu tampilan Raymond sangat menggemaskan. Dia mengenakan piyama tidur berwarna biru dengan motif bintang beserta topi kerucut yang memiliki motif yang sama dengan piyamanya.


Lusiana menyelimuti Raymond kemudian mengambil sebuah buku cerita tentang dongeng berjudul 'Timun Mas dan Raksasa.'


Dalam waktu 15 menit Raymond tertidur dan buku dongeng pun Lusiana tutup. Dia kembali ke kamarnya untuk mandi kemudian dilanjutkan dengan istirahat.


Sudah menjadi kebiasaan Lusiana untuk bangun tidur pukul 4 pagi. Dia langsung mandi dan bersiap walau pun harus memakan waktu satu jam demi mendapatkan tampilan wanita jelek yang natural.


Dia segera menuju kamar Raymond dan membangunkan bocah itu untuk berangkat sekolah. Tepat pukul 6 pagi, Raymond sudah siap dengan seragam yang dikenakan dan tas sekolah yang menggantung di pundaknya.


Sarapan selesai dan mereka pun telah berangkat ke sekolah menggunakan sebuah mobil BMW yang menganggur di garasi.


Di perjalanan Lusiana mengendarai mobil hati-hati tapi dari arah belakang sebuah mobil menabraknya. Meskipun tidak menimbulkan luka tapi dia dan Raymond cukup kaget.


"Raymond apakah kau baik-baik saja?" Untungnya saat itu Lusiana sudah memasangkan seatbelt pada Raymond. Dia melihat keadaan Raymond baik-baik saja sehingga saat itu dia mengelus dada dan menghembuskan napas lega.


Lusiana keluar dari mobilnya dan dengan marah menghampiri sebuah mobil Limousine yang telah menabraknya.


Seorang pria membuka kacamatanya dan mereka berdua sama-sama kaget. "Kau?" teriak mereka bersamaan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2