Putra Janda Kaya Mencari Papa

Putra Janda Kaya Mencari Papa
Bab 42


__ADS_3

Lusiana terjebak di antara 2 orang salah satunya Raymond dan yang lainnya adalah si pria brengsek Xavier. "Kenapa aku malah ada di mobil ini?" tanya Lusiana dalam pikirannya.


Sebelumnya karena Lusiana marah-marah. Xavier pun bertanggung jawab dengan memerintahkan orang untuk membawa mobil Lusiana ke bengkel.


Hari ini Lusiana memang meminta Dallen untuk datang duluan ke kantor karena dia ingin membawa mobil sendiri tapi naasnya mobilnya ditabrak oleh Xavier.


Raymond keluar dari mobil dan menyapa Xavier dengan akrab. "Bagaimana kalau aku mengantarmu ke sekolah?" tanya Xavier pada bocah dengan paras imut itu.


Bagaimana bisa dua orang yang tidak memiliki hubungan darah bisa memiliki wajah yang sangat mirip seperti mereka berdua?


Lusiana pun terpaksa menuruti ajakan Xavier karena jam masuk sekolah hampir tiba.


"Raymond kemarilah!" ajak Xavier untuk duduk di dekatnya. Raymond pun duduk di pangkuan Xavier tanpa ragu.


"Paman, mau kan jadi ayahku?" tanya Raymond yang membuat Lusiana menatap tajam kedua orang di samping dengan mata elangnya.


"Raymond kenapa berpikir seperti itu?" tanya Xavier.


"Karena paman sangat tampan dan terlihat kaya. Mama juga kaya raya, jadi kalian sangat cocok," ucap Raymond dengan nada suara yang polos. Lusiana hanya bisa menggelengkan kepalanya tak berdaya.


Xavier memindahkan Raymond ke sebelumnya dan berbicara. "Raymond, menikah tidak semudah itu."


Raymond menatap Lusiana dan Xavier bergantian lalu wajahnya jadi sedih. "Aku hanya ingin mama mendapatkan pria yang mencintainya dengan tulus."


Ucapan tersebut membuat hati Lusiana melunak. "Sayang, tidak apa-apa mama tidak punya suami lagi asal Raymond selalu bersama Mama." Raymond pun memeluk mamanya dan pindah ke pangkuan Lusiana.


"Lusiana, aku minta maaf soal yang waktu itu!" Lusiana memberikan isyarat dengan mengangkat tangannya agar Xavier berhenti membahas hal itu.


Dia seenaknya mencium Lusiana sedangkan baru pertama kali dia berciuman dalam keadaan sadar.


Tidak butuh waktu lama mereka pun tiba di TK Cahaya Gemilang. Lusiana turun dari mobil menggandeng Raymond. Xavier juga ikut turun dengan mereka.


Di depan kelas Bu Guru Heni menyambut kedatangan mereka. "Oh, Bu Lusiana sama suaminya ya? Raymond mirip sekali loh dengan ayahnya," ujar Bu Guru Heni.

__ADS_1


"Emangnya mirip sekali ya bu?" tanya Raymond. Bu Heni pun menganggukkan kepalanya.


"Iya mirip sekali," ungkap Bu Heni.


"Tapi pria ini bukan papa Raymond. Tapi akan segera jadi papa Raymond," ucap Raymond yang membuat Bu Heni semakin bingung.


"Ah, Bu Heni omongan Raymond jangan dipikirkan. Pria di sebelah saya ini adalah rekan bisnis. Kebetulan tadi mobil saya kecelakaan, dan dia membantu saya," terang Lusiana.


"Kecelakaan? Di mana bu?" Lusiana pun menjelaskan secara singkat tentang kejadian pagi tadi sebelum mereka sampai ke sekolah.


Setelah itu Lusiana tidak mau berlama-lama dan membuang waktu Bu Heni. Dia pun bersama Xavier kembali ke mobil Limousine.


"Ke Perusahaan Winka Jaya," ucap Xavier pada supirnya.


"Baik, Pak!" jawab supir itu.


Xavier dan Lusiana duduk lumayan berjauhan karena Lusiana sendiri takut hal yang terjadi di ruang meeting malah terulang lagi di mobil ini.


Xavier melirik Lusiana dan wanita itu segera mengalihkan pandangannya ke jalan di luar jendela mobil.


Xavier memperhatikan paras Lusiana. Dia melihat lengan Lusiana begitu putih dan mulus tapi saat melihat wajahnya dia akan melihat warna kusam. Rambut keritingnya juga terlihat kusam.


"Padahal dia memiliki banyak uang, tapi kenapa tidak mau mengubah penampilannya. Jika dia perawatan kulit wajahnya pasti akan lebih cerah," batin Xavier.


Tanpa terasa mereka pun tiba di kantor Lusiana. Tidak lupa gadis itu mengucapkan terima kasih karena telah mengantar dia dan Raymond ke tujuan.


"Lusiana! Berikan nomor ponselmu?"


"Untuk apa?"


"Tentu saja untuk menghubungimu kalau mobilnya sudah diperbaiki!" Lusiana yang awalnya sudah keluar dari mobil kembali masuk dan memberikan nomor ponsel pribadinya pada Xavier.


Lusiana keluar dari mobil tanpa memperhatikan Xavier lagi. Tapi anehnya tatapan Xavier terus melihat tubuh Lusiana yang tergolong memiliki bentuk yang bagus.

__ADS_1


Tanpa sadar bagian celananya mulai terasa sempit tapi Xavier kembali menjernihkan pikirannya. "Ayo jalan!" perintah Xavier kepada supir di depannya.


Lusiana naik ke lantai 46 menuju ruangannya tapi tiba-tiba dia melihat Dallen dan Jerinx sedang berpelukan.


"Bisa-bisanya kau pulang tapi tidak memberiku kabar," kata Dallen yang melepaskan peluka Jerinx lebih dulu.


"Aku ingin memberikan kejutan padamu."


"Ya kau benar-benar mengejutkanku, apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Dallen kepada pria yang berpakaian rapi di depannya.


"Aku bekerja di sini sebagai teknisi komputer." Dallen yang mendengar itu sangat senang. Melihat kedatangan Lusiana dia segera menarik wanita itu dan merangkulnya.


Dia juga merangkul Jerinx. "Jadi kita akan satu tempat seperti waktu kuliah dulu? Baguslah!" ucap Dallen dengan semangat.


Semua bahagia tapi ada satu orang yang tidak. Siapa dia? Tentu saja Haris. Sudah 2 hari dia tidak menerima kabar buruk dari Winka Jaya Corporation. "Apakah dia gagal? Jangan-jangan Hacker yang dia ajak itu membohonginya."


Haris pun menghubungi orang tersebut dan meminta kejelasan mengenai virus yang dia masukkan ke komputer pusat tidak membuat kegaduhan di Winka Jaya Corporation.


"Pak Haris, saya sudah memberikan Virus itu di Flashdisk pada bapak. Bapak bisa tanya pada semua ahli IT mengenai virus itu."


"Saya mendapatkannya dari Hacker yang sangat terkenal jadi tidak mungkin kalau Virus itu bisa hilang dalam sekejap."


Haris pun menutup telepon dan memerikaa Flashdisk itu pada IT yang lain. Sesuai seperti apa yang dikatakan oleh Hacker sebelumnya kalau Virus ini sangat susah untuk dihapus jika sudah tertanam pada komputer kecuali jika seseorang bisa mengundang pemilik Virus untuk membersihkan komputer mereka.


Sementara itu Ibu Mertua Lusiana sedikit murung karena jatah bulanan yang diberikan oleh anaknya sangat jauh berkurang. "Ma, aku minta 50 juta buat belanja," pinta Chika pada ibunya.


"Kamu baru saja 3 hari lalu minta 100 juta, sekarang sudah minta 50 juta lagi. Kamu kan tahu sendiri kalau kekayaan kita tidak seperti dulu saat Lusiana ada di sini!" teriak marah Ibu Salma pada putrinya yang super manja itu.


"Ah, Mama! Kenapa pelit banget sih aku kan gak minta milyaran. Aku cuma minta 50 juta. Sekarang mana uangnya?" desak Chika sehingga terpaksa membuat Ibu Salma menjewer telinga anak perempuan satu-satunya itu.


"Mama kan udah bilang gak ada uang. Kamu itu mengerti tidak sih?"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2