Putra Janda Kaya Mencari Papa

Putra Janda Kaya Mencari Papa
Bab 34


__ADS_3

"Mama?"


Senyum manis Raymond yang saat itu tengah menggunakan kaca mata renang membuat Lusiana ikut tersenyum.


Saat itu adalah hari pekan sehingga Raymond menghabiskan waktunya di rumah ditemani oleh kakek dan neneknya.


Dia berenang menggunakan pelampung bebek dan ditemani oleh Kakeknya Mario menyusuri kolam renang.


Lusiana terkadang merasa menyesal. Seharusnya dia lebih awal datang ke rumah ini sehingga Raymond tidak perlu menahan kesedihannya seperti saat bersama keluarga Haris.


Di sini dia benar-benar diperlakukan layaknya keluarga oleh nenek dan kakeknya. Raymond yang sudah 2 jam berada di kolam renang pun merengek pada kakeknya untuk naik.


"Sini ayo sama nenek, biar nenek mandikan," ucap Ibu Delinah dan membawa cucu kesayangannya itu untuk mandi di kamar mandi tidak jauh dari kolam renang.


Mario yang telah mengenakan kimono handuk memanggil Lusiana. Mereka duduk di tepi kolam dan mengobrol ringan.


"Aku ingin membawa cucuku ke dokter yang lebih ahli, bagaimana pendapatmu Lusiana?" Lusiana tentu saja mengangguk setuju. Kakeknya begitu sayang dengan Raymond dan pasti akan memberikan yang terbaik pada cucunya itu.


"Aku setuju dengan ayah, kapan ayah ingin membawa Raymond?"


"Kemungkinan besok hari, bagaimana menurutmu?"


"Ayah akan pergi ke rumah sakit jam berapa?" tanya Lusiana kembali.


"Baiknya setelah Raymond pulang sekolah saja."


Lusiana pun menanggapi pernyataan ayahnya itu. "Kalau begitu besok aku akan ikut mengantar Raymond ya ayah." Mario mengangguk. Beberapa kali dia mengacak rambut anak perempuannya itu.


Kebahagiaan yang dia miliki sudah lengkap. Semua anaknya tinggal kembali satu rumah. Lusiana bahkan membawa satu anggota keluarga lagi yang melengkapi kebahagiaan mereka.


Keesokan harinya setelah pulang sekolah mereka semua pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kesehatan Raymond.

__ADS_1


Kecuali Erick. Dia yang menghandle semua urusan di kantor sehingga Dallen yang menjadi supir mereka.


"Dallen, apa kabar ayahmu?" tanya Mario yang duduk tepat di sebelah bangku supir.


"Ayah baik-baik saja om," jawab Dallen.


"Aku dan ayahmu itu dulunya rival. Tapi akhirnya aku yang bisa mendapatkan Ibu Lusiana," ungkap Mario dengan bangga. Ibu Delinah memukul pundak Marion.


Dia berkata, "omong kosong apa yang kau bicarakan ini?"


"Benarkan? Dulu kita bertiga teman baik dan." Belum sempat Mario bercerita Ibu Delinah berbisik sesuatu yang menghentikan pria paruh baya itu bercerita.


Lusiana berbisik pada ibunya. "Ibu, apa yang ibu bicarakan pada ayah sampai dia berhenti bicara?"


"Ibu mengancamnya kalau sampai dia bercerita lagi. Malam ini tidak usah tidur di kamar," bisik Ibu Delinah yang mengundang cekikikan dari Lusiana.


Raymond juga tampil dengan wajah imutnya. "Mama, nenek sedang berbisik apa? Raymond juga mau dengar." Lusiana langsung membisikkan sesuatu tapi itu hanyalah candaan untuk Raymond.


Beberapa kali Mario bertanya pada Dallen apa maksudnya mendekati Raymond dan Lusiana. Tapi dia hanya menjawab bahwa dia bekerja pada Lusiana.


Dallen menganggap Lusiana hanya sebagai sahabat. Tidak lebih dari itu. Jika ada orang yang bilang bahwa persahabatan di antara lelaki dan perempuan pasti ada salah satu yang jatuh cinta. Itu salah besar.


Baik Lusiana maupun Dallen tak pernah merasakan rasa suka apalagi rasa cinta di antara mereka. Bahkan setelah Dallen melihat betapa cantik wajah asli Lusiana. Dia biasa saja dan tetap menganggapnya sahabat. Tidak lebih dari itu.


Sebenarnya Mario juga tidak masalah Lusiana ingin berhubungan dengan siapa pun. Asal orang itu sederajat atau setidaknya punya pekerjaan yang bagus untuk menghidupi anaknya maka dia tidak masalah melepaskan Lusiana.


Tapi dia tidak akan setuju jika Lusiana menjalin hubungan dengan orang yang sejenis seperti Haris. Pria mata duitan dan hanya ingin memanfaatkan kekayaan orang lain.


Itulah sebabnya Mario mendesak Lusiana untuk memilih pria yang sederajat dengannya saat itu. Karena orang dari kalangan bawah seperti Haris pasti akan gila harta. Itu karena dia baru saja memperoleh uang yang banyak dengan cara mudah.


Mereka pun tiba di rumah sakit. Pertama mereka akan memeriksa kesehatan Raymond pada dokter jantung di rumah sakit Kanaya itu. Dokter jantung yang memang menangani Raymond. Dia adalah dokter Aryasetya.

__ADS_1


Setelah melakukan pemeriksaan intensif, Mario bertanya pada dokter Arya. "Bagaimana keadaan cucu saya?"


"Cucu bapak dalam keadaan yang cukup baik. Hanya saja hindari aktivitas yang terlalu berat seperti kardio, bermain bola, atau berenang dalam waktu yang cukup lama."


Mario mengangguk dan bertanya tentang beberapa hal lain yang berkaitan dengan kecerdasan Raymond.


"Jika untuk pemeriksaan kecerdasan kita bisa cek IQ dengan dokter psikolog. Berkonsultasi dengan psikolog juga bagus pak. Memang Raymond selama ini sangat cerdas," ucap dokter Arya saat melihat Raymond.


Bocah kecil itu turun dari pangkuan kakeknya dan ingin pindah ke pangkuan dokter Arya. "Paman dokter aku sangat rindu dengan paman," ucap Raymond sembari mengulurkan tangannya agar dokter Arya bisa mengangkat tubuh kecil itu untuk duduk di pangkuannya.


Dokter Arya tersenyum dan mengangkat Raymond duduk di pangkuannya sehingga sekarang dia berhadapan dengan mama, kakek dan juga neneknya.


Sesekali pandangan Mario beralih antara Arya dan Lusiana. Dia yang sudah hampir setengah abad hidup di dunia tentu tahu pandangan Arya pada Lusiana begitu berbeda. Itu adalah pandangan kasih sayang dan cinta.


Dokter Arya yang memiliki waktu agak senggang membawa mereka ke dokter psikolog untuk mengetes kecerdasan Raymond.


Saat mereka ada di sana seorang suster menghampiri dokter Arya terburu-buru dan memberitahu ada pasien jantung yang sedang kritis.


Terpaksa dokter Arya pun meninggalkan mereka. "Lusiana, ada hubungan apa kau dengan dokter Arya itu?" tanya Mario pada wanita yang masih setia dengan rambut wignya.


Tentu Lusiana menggunakan wig jika tidak dokter Arya tidak akan mengenalinya dan penyamaran akan terbongkar. Walau ibunya sedikit jengkel karena anaknya masih ingin memakai wig jelek itu. Setelah di beri pengertian Ibu Delinah pun hanya bisa mengikuti permainan anaknya.


Lusiana menemani Raymond masuk ke dalam ruangan dokter sementara Kakek dan neneknya menunggu di depan karena tidak ingin mengganggu konsentrasi Raymond.


Setelah melalui berbagai tes yang memakan waktu hingga hampir 2 jam. Mereka pun harus menunggu setengah jam lagi untuk melihat hasil tes Raymond.


"Sebenarnya baik Dallen atau Dokter Arya itu sama bagusnya. Tapi aku bisa melihat kalau Raymond lebih tertarik pada dokter Arya. Kau harus lebih mempertimbangkan lagi siapa calon suami yang akan kau pilih," ucap Mario pada Lusiana.


Lusiana merasa aneh dengan pernyataan ayahnya itu. Dengan wajah jeleknya ini bagaimana dokter Arya bisa suka padanya. Dallen juga dimasukkan dalam percakapan. Tidak mungkin pria itu menyukainya karena dia sudah menyukai orang lain terlebih dahulu.


"Ayah hentikan omong kosong itu," tegas Lusiana padan ayahnya yang bicara sembarangan. Takutnya hal itu di dengar oleh suster atau orang yang mengenal dokter Arya dan menyebabkan hal yang tidak perlu.

__ADS_1


__ADS_2