
"Lusiana turun untuk makan malam." Semua orang sudah berkumpul di meja makan sedang menyantap makanan.
"Kenapa lama sekali mandinya? Aduh kamu ini dalam rumah sendiri juga masih pakai wig. Di lepas aja kenapa sih?" tanya Ibu Delinah yang merasa risih karena Lusiana terus saja menggunakan wig dengan rambut jelek itu.
"Aduh mama, kenapa dibilangin di sini sih Lusiana kan masih mau pake wig ini."
"Jadi selama ini mama pakai wig? Sudah Raymond duga Mama tidak mungkin adalah wanita jelek karena Raymond tampan. Mama harus buka wig nya Raymond mau lihat mama yang asli," ungkap Raymond dengan nada suara yang manja.
Penyembunyian jati diri selama 5 tahun ini langsung saja terbongkar saat ibunya membeberkan fakta tentang rambut Wig.
Lusiana membuka wig tersebut. Rambut lebat hitam panjang meluncur turun dari balik Wignya. Raymond terkesima melihat ibunya yang memiliki rambut cantik.
Dia juga mengambil tissue dan mengusap dandanan jeleknya. Raymond menangis tersedu-sedu di meja makan dan membuat semua orang khawatir.
"Jadi selama ini mama sangat cantik. Kenapa mama sembunyikan dari Raymond? Apakah Raymond tidak diperbolehkan lihat wajah cantik mama?" ucap bocah itu yang masih menangis sesegukan.
Lusiana segera menghampiri Raymond dan memberikan pengertian padanya. "Mama melakukan ini semua untuk melihat wajah asli dari papamu, Nak. Mama ingin melihat apakah dia serius dengan tulus mencintai mama atau tidak."
"Maafkan mama ya kalau membuat Raymond bersedih?" Lusiana memeluk Raymond dengan erat seolah tak ingin melepaskan bocah itu Raymond mengangguk tanda dia sudah memaafkan Lusiana.
"Mama sangat cantik," puji Raymond saat tangan kecilnya itu membelai halus wajah Lusiana.
Mereka pun melanjutkan makan bersama. Sementara itu Irene dan empat asisten rumah tangga yang lain sangat jarang melihat Lusiana karena pekerjaan mereka yang menumpuk sehingga mereka belum tahu tentang penampilan asli mama Raymond itu.
Lusiana dan Raymond kemudian di antar oleh Erick untuk pergi ke sekolah Raymond kemudian ke kantor Lusiana.
Saat Raymond sudah masuk ke TK, Lusiana kembali memakai wig dan berdandan dengan jelek membuat Erick menatapnya dengan pandangan risih.
"Kenapa masih pakai wig ini?" tanya Erick sembari sesekali melihat adiknya di samping karena saat itu ia tengah menyetir mobil.
"Kakak, Orang-orang di kantor tahunya aku seperti ini. Haris juga hanya tahu penampilan ini. Kalau sampai aku berubah jadi cantik bukannya dia jadi tidak mau menceraikan aku?"
__ADS_1
Erick memikirkan perkataan Lusiana. "Benar juga kalau sampai dia melihatmu begitu cantik dia pasti tak akan mau menceraikanmu!"
Lusiana tiba di kantor dan bertemu dengan Dallen. Mereka sama-sama menuju lantai atas menggunakan lift. Terdengar beberapa bisikan yang tidak nyaman di dengar oleh mereka saat melalui beberapa departemen.
Pegawai kantor di sana mulai bergosip macam-macam.
"Eh, aku dengar Bu Lusiana ingin menceraikan Pak Haris karena Sekretarisnya yang baru," ucap seorang gadis paling kurus di antara mereka.
"Hah, memang setampan apa sekretaris yang baru itu?" tanya yang lainnya.
"Kalian tidak tahu kalau pria itu sangat tampan. Tapi masak ya, Bu Lusiana tega sekali mengakhiri pernikahan mereka yang sudah terjalin 5 tahun hanya demi seorang pria yang baru datang di hidupnya," ucap wanita kurus tadi pada teman-temannya yang lain.
Tapi wanita kurus ini tidak melihat perubahan wajah dari teman-temannya yang semakin pucat.
"Ah, aku masih ada pekerjaan kita bicara nanti saja," ucap pria yang terlihat seperti wanita itu.
"Aku juga masih ada dokumen yang harus di kerjakan," ujar wanita yang paling gemuk.
Mereka semua pergi meninggalkan si wanita kurus tadi. "Eh, eh gosipnya belum selesai ada sesuatu yang lebih bagus lagi," teriaknya.
"Memangnya apa lagi gosip yang lain? Aku juga ingin tahu," ucap seseorang di balik punggung si wanita kurus.
Wanita kurus itu senang karena akhirnya ada orang lain yang mau bergosip dengannya. "Ini tentang anak baru...."Saat wanita itu berbalik dia sudah melihat Lusiana. Betapa kagetnya dia hingga wajahnya memucat.
Wanita itu segera berdiri dan memberi salam pada Lusiana. "Selamat pagi, Bu!" Lusiana menatapnya dengan dingin dan datar.
"Darimana gosip sampah itu berasal?" tanya Lusiana yang menyadarkan wanita kurus bahwa kepergian temannya yang mendadak karena ada Bu Lusiana di belakangnya
Habislah sudah dia. Minimal dia kena SP. Menggosipkan bos di belakang mereka memang tidak sopan tapi ini dia menggosipkan bos di depan. Tidak tahu apa yang akan terjadi.
"Saya mendengar gosip itu dari teman yang bekerja di departemen pemasaran, Bu. Katanya dia dapat info itu dari sekretaris Pak Haris."
__ADS_1
Lusiana tahu siapa pelaku penyebaran berita ini. Siapa lagi kalau bukan Rebecca?
"Kamu jangan sembarangan menyebarkan gosip yang belum tentu kebenarannya. Saya tidak mau tahu, kamu klarifikasi omongan kamu tadi, kalau tidak kamu akan kena sanksi, mengerti?" tegas Lusiana pada wanita kurus itu yang langsung menundukkan pandangannya dengan wajah yang semakin tidak enak.
"Baik, Bu."
Lusiana pun kembali keruangannya. Sebelum itu dia sempat mengenalkan Dallen pada Anayya Damarissa, sekretaris Lusiana di kantor.
"Hai, Namaku Dallen Andreas," ucap Dallen pada Annaya saat dia mengulurkan tangannya pada gadis muda itu.
Annaya tersenyum manis dan menyambut uluran tangan Dallen. "Namaku Annaya," ujarnya.
"Dallen, kamu bisa duduk di sana, dan ini ada beberapa jadwal meeting Bu Lusiana," kata Annaya saat dia menunjukkan sebuah meja dan kursi kosong di depannya. Dia juga memberikan jadwal meeting pada Dallen untuk dipelajari.
Annaya terus memberikan arahan pada Dallen. Perlahan ada sesuatu yang hangat mengisi relung hati Dallen saat melihat wanita itu tersenyum.
Sementara Lucia mengerjakan pekerjaannya ada seorang pria yang sedang uring-uringan di meja kerjanya. Siapa lagi kalau bukan Xavier Fernandio?
"Bos, data dari Nona Lusiana tidak bisa kita dapatkan," ucap Hendri dengan hati-hati.
"Kenapa?" ucapan dingin dan datar itu membuat Hendri menelan Salivanya karena merasa gugup. Bosnya ini bisa saja tiba-tiba marah dan melempar sesuatu ke arahnya.
"Sepertinya akses informasi di tutup oleh pihak keluarga." Ucapan tersebut membuat Xavier tak bisa berkata apa-apa lagi. Jika dia memaksa untuk melanjutkan mencari informasi, ayah Lusiana sendiri mungkin yang akan turut campur.
Kring!
Telepon kantor berbunyi dan langsung diangkat oleh Xavier. Terdengar peringatan dari pria yang menelepon.
"Untuk apa kau mencari informasi tentang Lusiana? Meskipun kau pernah hampir menikah dengan adikku tapi kau itu hanya sekedar mantan tunangan."
"Jauhi adikku sekarang! Kau itu hanya pria tidak tahu malu yang sering membeli pelacur. Sama sekali tidak pantas untuk adikku," ucap Erick setelah itu dia langsung memutuskan sambungan telepon.
__ADS_1