
Keesokan harinya, Saryah pembantu rumah tangga di kediaman Lusiana itu memperhatikan gerak-gerik Irene yang tidak beres. Tidak hanya dia sekarang memakai perhiasan, ponselnya juga berganti jadi ponsel ios yang paling mahal dan hits saat itu.
"Wah, Irene banyak duitmu bisa beli Iphone mahal begitu?" tanya Saryah saat masuk ke dalam kamar dan ingin beristirahat.
"Iya mbak, aku toh dapat warisan dikit dari kakek ku di kampung. Jadi tak beliin ini aja mbak. Soalnya kepengen banget aku punya HP ini mbak,"dalih Irene.
Padahal uang tersebut dia dapatkan dari Haris atas kepolosannya yang telah ia renggut.
Saryah juga melihat perhiasan yang digunakan Irene cukup mewah dan terlihat mahal. Apalagi itu emas putih dengan kadar 750 yang lebih mahal dari emas muda.
"Itu perhiasan kamu aja kalau mbak hitung-hitung bisa puluhan juta juga itu. Dapat berapa kamu dek dari warisan?" tanya Mbak Saryah tanpa sungkan.
"Lumayan lah mbak dapat 80 juta. Makanya ini aku beliin perhiasan sama handphone biar jadi barang gitu mbak.
"Rencananya aku juga mau ajak mbak, Mbak Sarinah, Mbok Darmi, sama Pak Paijo makan di luar malam ini, bisa gak ya kira-kira?"
Mbak Saryah yang mendengar ingin di traktir makan tentu saja senang bukan kepalang.
"Wah, ini nih yang mbak tunggu dari tadi omonganmu. Tak bilangin dulu ya sama yang lain. Terus habis itu ijin sama Bu Lusiana biar kita bisa keluar makan malam."
Mbak Saryah pun keluar dari kamar dan memberitahu yang lainnya tentang ucapan Irene barusan. Mereka pun sepakat akan makan malam di luar.
Hari terus berganti hingga sudah satu bulan mereka bekerja di kediaman Lusiana itu.
Irene bahkan sudah mendapat uang bulanannya untuk yang pertama kali.
50 juta masuk ke rekeningannya.
Irene ini sebenarnya cukup cerdas. Dia merencanakan untuk segera membeli tanah dengan uang yang telah ia dapatkan.
Takutnya uang itu bisa di ambil kembali jadi dia ingin pulang ke kampung untuk sementara.
__ADS_1
Untuk itu dia pun segera mengabari Lusiana. Saat itu selesai makan siang dan Lusiana ingin kembali bekerja.
"Bu, saya boleh minta ijin pulang gak ya bu?" Lusiana agak mengerutkan keningnya. Baru saja genap sebulan tapi Irene sudah minta pulang.
"Kenapa?"
Irene pun mencari alasan yang tepat. "Kakek saya sakit bu, kata orang kampung beliau sudah berada di ujung usia. Napasnya sudah engap-engapan. Dokter di kampung bilang kemungkinan kakek untuk melihat hari esok gak ada bu," ucap Irene dengan ekspresi sedih.
Memang benar saat itu keadaan kakek Irene tidak sehat tapi tidak sampai akan mati juga.
Lusiana juga merasa cukup kasihan dengan Irene dan memperbolehkan gadis itu untuk kembali ke kampung halamannya. Lusiana memberikan batas 1 minggu padanya.
Setelah sampai di kampung Irene segera membeli banyak tanah dan memberikan keluarganya banyak uang untuk membangun rumah di sana.
Tanah seluas beberapa hektar ditanami pepohonan dan hasil kebun yang melimpah juga dia beli.
Orang-orang di kampung tahu kalau Irene telah hidup sukses dari bekerja di ibukota.
Puluhan chat mesra, foto berciuman, foto berpegangan tangan bahkan video saat mereka bercumbu pun berada di tangannya sekarang.
Selama sebulan itu, dia juga sudah membeli rumah di tengah kota yang cukup dekat dengan sekolah anaknya dan kantor yang dia tempati.
Bahkan dia sudah membawa pakaiannya dan milik Raymond sedikit demi sedikit dari rumah itu. Barang-barang berharga, perhiasan juga surat berharga lainnya.
Saat itu di ruang makan siang. Di hadapan semua orang. "Mari kita berpisah," usul Lusiana pada Haris. Saat itu Raymond tidak turun untuk makan siang karena pertama kalinya ia ingin makan di kamar.
Ternyata Lusiana sudah memberitahu dia untuk kembali ke kamar dan tidak turun waktu makan siang, karena akan membicarakan hal yang penting dengan papanya.
"Apa?" Jantung Haris mencelos saat mendengar ucapan itu dari mulut Lusiana sendiri.
"Iya mari kita bercerai!" tekan Lusiana lagi pada Haris.
__ADS_1
Dia menghentikan acara makan siang itu dan menatap Lusiana dengan tajam. Tidak hanya wajahnya yang memerah, tangannya juga mengepal erat.
Semua asisten rumah tangga yang berada di dapur basah pun mendengar pernyataan Lusiana. Mereka sangat kaget hingga mengintip ke meja makan untuk melihat situasi.
"Baguslah kalau memang mau bercerai. Memang itu yang aku tunggu-tunggu. Akhirnya aku bisa lega karena tak punya menantu jelek sepertimu lagi," ungkap Ibu Salma dengan kelegaan yang amat sangat.
"Tapi tentu saja semua harta milikmu itu adalah juga milik Haris jadi harus dibagi rata semuanya," ucap Ibu Salma dengan tegas.
"Setidaknya pembagian harta harus 70% untuk Haris dan 30% untukmu. Sudah bagus Haris membantumu dalam menjalankan usaha. Jangan tidak tahu diri dan ingin makan semua."
Suara dingin dan berat dari Haris membuat Ibu Salma terdiam. "Mama, Diam. Tidak akan ada perceraian."
Apa yang diketahui Ibunya tentang bisnis? Semua aset itu milik Lusiana. Perusahaan, bangunan kantor, bahkan rumah ini.
Haris cukup tahu diri bahwa dia bisa berdiri sekarang dengan penghasilan tahunan mencapai 80 milyar juga berkat usaha Lusiana yang sangat keras.
Jika mereka bercerai maka semuanya akan berantakan. Dahulu saat mereka menikah, Kakak Lusiana membuat keputusan untuk membuat perjanjian pra-nikah bahwa semua harta yang diperoleh saat menikah mau pun yang sudah adalah milik masing-masing.
Agar kakaknya menyetujui pernikahan mereka Haris terpaksa menandatangani surat perjanjian itu yang bisa merugikan bagi dirinya sendiri contohnya seperti perceraian sekarang.
Lusiana langsung melempar surat cerai yang di dalamnya ada banyak foto-foto mesra dan foto dari video yang di ambil oleh Jerinx.
Wajah Haris ketakutan. Dia tidak bisa membayangkan jika skandalnya ini tersebar di depan publik, perusahaannya pasti akan hancur. Rahangnya mengeras menahan amarah saat itu. "Haruskah sejauh ini Lusiana?"
Lusiana menatap tajam Haris. "Tentu saja. Ini demi kesehatan fisik dan mental Raymond. Maka dari itu aku memutuskan untuk bercerai."
"Tapi kenapa harus sampai bercerai? Kau kan bisa tinggal di apartemen atau aku akan memindahkan Mam dan Chika sebagai solusi dari masalah ini. Aku mohon jangan sampai kita bercerai."
Chikan dan Ibunya menoleh panik pada Haris. "Apa? Meninggalkan rumah ini? Tidak ya. Mama tidak akan meninggalkan rumah dan pindah ke apartemen yang sempit. Mama akan tetap tinggal di sini apa pun yang terjadi."
"Kak, Chika juga gak mau pindah. Chika mau tetap tinggal di rumah ini. Kakak ipar saja yang pindah," protes Chika pada Haris.
__ADS_1