
"Papa? Bukannya kau sudah memiliki papa?" tanya Xavier pada bocah yang ada di gendongannya.
Raymond menggelengkan kepalanya dan berbisik pada Xavier. "Mama dan Papa sudah bercerai," bisik Raymond pada Xavier.
Mereka sangat dekat seolah sudah mengenal lama. Lusiana segera menghampiri Raymond dan mengalihkan gendongan itu padanya.
"Maafkan saya pak, anak saya memang agak aktif." Lusiana menurunkan Raymond dan juga Sesil dari gendongan Hendri.
"Annaya, bawa Raymond dan Sesil ke ruanganku ya!" perintah Lusiana pada salah satu sekretatisnya.
"Raymond tunggu mama di ruangan ya. Sesil juga. Mama mau meeting dulu sama paman Xavier dan paman Hendri. Kalian kembali ke ruangan bersama tante Annaya oke?" Ucap Lusiana saat dia berjongkok lalu memeluk dan mencium kedua bocah genius itu.
Mereka pun mengangguk dan mengikuti Annaya kembali ke ruangan Lusiana. Tapi masih sempat-sempatnya Raymond berteriak pada Xavier.
"Paman tampan, kau harus mempertimbangkan yang tadi kita bicarakan," teriak Raymond yang membuat Lusiana memberikan isyarat pada Annaya untuk segera masuk ke ruangannya.
Lusiana dan Dallen pun mempersilahkan Xavier dan Hendri untuk masuk ke ruang meeting yang telah disiapkan.
Mereka duduk di kursi masing-masing. Awalnya Xavier merasa sangat familiar dengan suara Lusiana tapi dia bingung kapan pernah mendengar suaranya.
"Ibu Lusiana, apa kita pernah bertemu sebelumnya? Aku seperti mengenal suaramu," ucap Xavier yang membuat jantung Lusiana berdegup kencang.
Lusiana berpura-pura sedang berpikir. "Oh, mungkin saja kita pernah bertemu di rumah sakit. Anda pernah ke rumah sakit Kayana, kan?" Xavier mengangguk. Memang dia mungkin pernah bertemu Lusiana sebelumnya di rumah sakit.
"Owh iya. Anda terlihat sangat mirip dengan Lusiana Atmaja," ungkap Xavier yang membuat Lusiana sedikit bergetar saat mengambil gelas berisi air putih untuk dia minum.
"Itu tidak mungkin, wajah saya jelek dan kusam. Rambut saya juga keriting seperti ini. Bagaimana bisa mirip dengan Lusiana Atmaja?" tanya Lusiana. Dallen terus saja menahan tawa, meski sedikit senyum mulai tersungging di bibirnya.
__ADS_1
"Bukannya perusahaan ini juga bernama Winka Jaya? Apa mungkin anda adalah...." Xavier berhenti sebentar membuat Lusiana tidak bernapas karena takut identitasnya terbongkar.
"Keluarga dari Lusiana juga? Apalagi nama anda juga begitu mirip." Lusiana mendesah lega. Dia pikir penyamarannya sudah ketahuan, untungnya tidak.
"Ya saya memang salah satu kolega dari Nona Lusiana. Bagaimana kalau sekarang kita mulai meetingnya?"
Lusiana berusaha mengalihkan pembicaraan agar tidak membicarakan dirinya lagi dan fokus pada materi yang akan mereka bicarakan.
Setelah pembicaraan yang cukup panjang, meeting itu pun selesai. Saat itu Dallen san Hendri keluar terlebih dahulu menyisakan Xavier dan Lusiana.
Saat dia tengah beberes meja, Lusiana tanpa sengaja terpeleset dan jatuh ke pangkuan Xavier. Wajahnya tentu saja memerah tapi wajah pria yang memeluknya itu tanpa ekspresi.
Lusiana merasakan bagian bawah tubuh Xavier mengeras. Dia segera berdiri untuk menjauhi pria tidak bermoral itu tapi naasnya dia tidak sengaja menumpahkan air putih tepat di ************ Xavier.
Lusiana yang panik segera mengambil tisu dan mengelap paha Xavier. Tanpa dia sadari Xavier memandangnya dengan rumit.
Xavier sangat terkejut dengan reaksi alami dari bagian bawahnya yang mengeras. Apakah dia sekarang sudah sembuh? Itu pikirannya. Bahkan dengan wanita yang kurang cantik saja sudah bisa membangkitkan hasratnya untuk bercinta.
Xavier mengarahkan wajahnya mendekati Lusiana dan mencium bibir wanita itu dengan buas. Lusiana berusaha memberontak. Dia berpikir jika mengeluarkan ilmu bela dirinya sekarang hal itu akan membuat jati dirinya terekspos.
Lusiana hanya berusaha memberontak dari ciuman panas itu tapi lama kelamaan dia pun ikut terhanyut dalam permainan Xavier.
Brak!
Pintu ruang meeting di buka dengan cukup kuat. Hendri dan Dallen kembali ke ruangan karena melihat Lusiana dan Xavier tak kunjung keluar. Tapi mereka malah diperlihatkan adegan ciuman panas antara Xavier dan Lusiana.
"Astaga, apa bos sudah gila mencium wanita yang jelek seperti itu? Walau kaya raya tapi kan masih banyak wanita lain di luar sana. Bos kenapa kau begini?" batin Hendri di pikirannya.
__ADS_1
Lusiana dan Xavier pun menghentikan kegiatan mereka karena kepergok oleh Hendri dan Dallen. Lusiana segera berlari ke pintu keluar dan bagian tubuh Xavier yang mengeras juga turut layu seiring kepergian Lusiana.
Lusiana sangat malu hingga dia pergi ke lantai bawah dan berharap tidak bertemu Xavier. Dia bersembunyi di toilet. Wajahnya memerah dan terasa sangat panas.
Bagaimana pun dia tidak paham dengan hubungan intim seperti itu. Dia hanya pernah melakukan hubungan satu kali dan itu juga dalam keadaan tidak sadar.
Dia belum pernah berciuman apa lagi ciuman panas seperti tadi. Lusiana menyentuh bibirnya yang dicium oleh Xavier. "Ternyata ciuman bisa seenak itu," ucapnya lembut sejenak masih terhanyut oleh kenikmatan yang diberikan Xavier.
Sedetik kemudian dia memukuli pipinya dengan keras. "Tidak mungkin! Apa yang ada dipikiranku? Kenapa aku berpikir seperti itu? Dia hanya pria brengsek yang mengambil ciumanku." Wajah Lusiana berubah dari lembut menjadi marah.
Hendri dan Xavier pun pulang. Saat di jalan Hendri mengomeli bosnya habis-habisan. "Bos, bagaimana kau bisa melakukan itu pada partner bisnis kita?"
"Selain itu wajahnya juga tidak cantik. Bos apa seleramu sudah berubah? Dia juga sudah punya anak. Bos kendalikan dirimu!"
"Kau diam saja. Lusiana ini juga bisa membuatku bangun. Mungkin sekarang aku sudah normal. Pada wanita yang tidak cantik saja aku sudah bisa tegak apa lagi dengan yang lain."
"Setelah kembali nanti, kau panggil seorang penghibur kelas atas untuk menemaniku. Aku ingin mencoba hal baru," perintah Xavier.
Hendri pun menuruti permintaan Xavier dan membawa seorang penghibur paling cantik kelas atas. Tapi beberapa saat kemudian wanita itu keluar dari ruangan Xavier dengan menangis tersedu-sedu.
Hendri pun memasuki ruangan Xavier dan melihat wajah bosnya menghitam karena marah. Dia tahu alasannya, pasti milik bos tidak mau bangun lagi.
Tapi Hendri merasa sangat aneh. Kenapa 2 wanita bisa membuat hasrat bercinta Xavier bangkit kembali. Untuk Lusiana Atmaja mungkin karena kecantikannya tapi, Lusiana pemilik Winka Jaya Corporation sangat jauh dari kata cantik.
Mereka berdua bagai langit dan bumi tapi Xavier bisa membangkitkan hasratnya dari dua orang ini. Kepala pemuda itu terasa agak sakit. Hal ini sangat menyebalkan. Kenapa dia hanya bisa berdiri pada dua orang wanita?
Lusiana Atmaja dan Lusiana pemilik Winka Jaya Corporation. Dia tidak terlalu mengharapkan Lusiana Atmaja karena sangat sulit bertemu dengannya. Wanita itu juga kasar dan tidak segan menghajar Xavier jika dia berbuat kurang ajar.
__ADS_1
Berbeda dengan Lusiana pemilik Winka Jaya Corporation yang terlihat lembut dan pemalu. Dia harus mendekati Lusiana. Harus agar dirinya segera sembuh.
...----------------...