
“Ayo, Raymond akan mengajak Sesil jalan-jalan,“ ucap bocah itu sambil menggenggam tangan Sesil.
Mereka disambut oleh Mario dan Delinah. "Eh, siapa ini?" tanya nenek pada Raymond dan Sesil.
"Nek, Kek, ini Sesil. Dia sahabat Raymond satu-satunya," ucap Raymond sembari memperkenalkan Sesil pada kakek dan nenek.
"Perkenalkan, nama saya Sesil Andreas." Mario memegang kepala Sesil dan mengelusnya dengan lembut.
"Adik Dallen ya?" Sesil mengangguk dengan cepat. "Ya sudah ayo masuk, kakek dan nenek akan mengajak kalian berkeliling rumah ini."
"Yey," teriak Raymond dan Sesil serempak.
Setelah beberapa saat mengitari rumah yang sangat besar itu mereka kembali ke meja makan untuk makan siang.
Saat Sesil melihat makanan yang sangat banyak dan mewah itu dia tak hentinya memuji tampilan dan rasa lezat dari semua masakan.
"Wah, Kakek, Nenek ini semua sangat lezat, Sesil sangat menyukainya," ungkap Sesil pada semua orang yang berada di meja makan.
"Tentu saja enak, Koki yang memasak adalah Koki bintang 5," tutur Kakek Mario pada bocah kecil itu.
"Wah, keren!" Sesil memberikan jempolnya pada Kakek Mario dan membuat orang-orang di meja makan tergelak karena kelucuannya.
"Lihatlah, sudah jam makan siang tapi Erick juga tidak kembali. Jika bukan kau dan cucuku yang meramaikan suasana di meja makan ini, kami hanya bisa makan berdua saja," ungkap Mario dengan wajah yang agak sedih.
"Ayah, makanya suruh Kak Erick untuk cepat menikah biar di rumah kita bertambah beberapa orang lagi," ucap Lusiana yang memberikan ide pada Mario untuk melakukan perjodohan untuk putra pertamanya.
Waktu terus berjalan dan jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Dallen pun bersiap-siap untuk mengantar Lusiana pergi bekerja dan Sesil untuk pulang ke rumah.
"Mama, boleh tidak Raymond dan Sesil ikut pergi ke kantor?" tanya Raymond dengan wajahnya yang memelas.
"Mama mertua, boleh tidak?" Bocah kecil itu juga menunjukkan wajah memelas.
__ADS_1
Raymond yang memang belum pernah ke kantor tempat ibunya bekerja cukup penasaran dengan bangunan besar yang Sesil ceritakan pada Raymond. Ya tentu saja saat itu Sesil mendengar cerita tersebut secara tak langsung saat Dallen dan beberapa kakaknya berbicara.
Lusiana memikirkannya sebentar dan memandang Dallen. "Dallen beritahu ayahmu kalau Sesil bersama Raymond, kemungkinan akan pulang malam."
Raymond dan Sesil yang mendengar hal itu sangat senang. Wajah kedua malaikat itu tampak bahagia. Mario dan Margareth juga senang melihat cucunya membawa teman yang cukup ceria.
Dallen pun menelepon ayahnya untuk mengabari bahwa Sesil akan pulang malam. Awalnya ayahnya sangat marah tapi saat telepon itu beralih pada Mario, Steven Andreas pun mengijinkan putrinya untuk bermain dengan Raymond.
"Hebat, saat Om Mario yang bicara ayah langsung menurut," ungkap Dallen setengah kaget. Sementara itu Mario nampak menyombongkan diri. Dia lalu berpesan pada Raymond untuk tidak macam-macam saat berada di kantor.
Lusiana, Dallen, Raymond dan Sesil pun pergi ke kantor. Saat itu Raymond dan Sesil tentu sudah mengganti pakaian sekolah mereka dengan pakaian yang lebih santai. Untungnya Sesil selalu membawa pakaian ganti sehingga bocah itu tidak perlu memakai pakaian Raymond yang ukurannya lebih besar dari pada tubuhnya yang kecil.
Mereka tiba di sebuah gedung yang sangat tinggi dengan banyak lantai. Raymond dan Sesil yang baru pertama kali masuk ke dalam kantor tersebut sangat takjub.
Mereka memasuki area di depan kantor dan memarkir mobil di sana. Raymond dan Sesil juga takjub saat melihat pintu kaca yang bergeser sendiri saat mereka sudah berada di dekat pintu masuk.
"Keren," ucap Sesil dan Raymond secara bersamaan. Di lantai dasar mereka di sambut dengan banyak kursi dan sofa, serta bagian informasi.
Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, Jam 4 dia akan meeting dengan perwakilan dari King Xavier Corporation.
Mereka kemudian masuk ke dalam ruangan Lusiana yang luas. Anak-anak bersantai di sofa dan hanya 15 menit mereka mulai merasa bosan.
"Mama, kami boleh bermain dengan tante yang di depan?" tanya Raymond.
"Ya sudah boleh, tapi jangan terlalu mengganggu pekerjaan tante Annaya ya? Kalian boleh bermain di lantai ini tapi jangan pakai lift, jangan pergi kemana-mana. Tunggu Paman Dallen membawakan cemilan dan minuman, mengerti?"
"Mengerti, ma!" ucap Raymond dan Sesil serempak mereka membuka pintu ruangan Lusiana dan pergi bermain diluar dan terkadang bicara dengan Annaya.
Lusiana masih sibuk menyiapkan beberapa dokumen untuk meeting mereka. "Aku berharap bukan Si Xavier brengsek itu yang akan meeting kali ini," batin Lusiana.
Raymond dan Sesil tengah asyik memainkan rubik dan mengajarkan cara bermain rubik pada Annaya. Dallen pun tiba di lantai 46 dengan membawa 2 kantong plastik besar berisi makanan, cemilan, dan minuman.
__ADS_1
Dallen membagikan semua kepada Raymon, Sesil, Annaya dan Lusiana.
"Disini tempatnya?" tanya Xavier pada asisten di sebelahnya, Hendri.
"Benar, Bos. Di sini tempatnya."
Xavier pun membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Beberapa karyawan yang kebetulan melihat pria tampan dengan jas hitam itu agak terpana.
Seorang pria tampan turun dari mobil BMW dan membuka kacamatanya. Dia juga sedikit mengendurkan jas dengan membuka salah satu kancing.
Semua wanita yang lewat terpana dengan ketampanan dan kegagahan pria itu. Dia memerintahkan Hendri untuk menunjukkan ruangan meeting bersama pemimpin perusahaan pada bagian informasi.
"Sebentar tuan, saya akan menghubungi pimpinan." Bagian informasi itu memutar nomor kantor yang terhubung dengan Annaya. Annaya pun memerintahkan bagian informasi untuk mengantar orang-orang itu ke ruang meeting di lantai 46.
Mereka pun bersama-sama menuju lantai 46. Saat itu, wanita bagian informasi itu beberapa kali kedapatan tengah menatap Xavier. Hendri sudah tidak heran dengan tatapan wanita-wanita yang kagum dengan Xavier.
Ting!
Mereka pun tiba di lantai 46. Tapi baru saja mereka melangkah keluar Xavier ditabrak oleh seorang anak kecil. Raymond menoleh ke atas dan melihat sosok pria tampan yang sepertinya tidak asing.
"Paman tampan yang di rumah sakit?" tanya Raymond.
"Kau bocah yang memberiku tisu? Apa yang kau lakukan di sini?" Entah kenapa ada dorongan dari hati Xavier untuk menggendong anak itu. Dia pun mengangkat Raymond dan menggendongnya.
"Paman, gendong aku juga!" perintah Sesil pada Xavier tapi Xavier malah memerintahkan Hendri untuk menggendong Sesil. Walau wajahnya agak kesal tapi tidak masalah toh Hendri lumayan tampan.
"Tanganku hanya dua!" ucap Xavier saat melihat wajah kesal Sesil.
"Paman sangat tampan. Apakah paman mau jadi ayahku?" Ucapan Raymond sontak saja membuat kaget seisi ruangan termasuk Lusiana dan Dallen yang baru saja keluar dari ruangan Lusiana dan melihat Raymond begitu akrab dengan Xavier juga berbicara sembarangan.
...----------------...
__ADS_1