Putra Janda Kaya Mencari Papa

Putra Janda Kaya Mencari Papa
Bab 7


__ADS_3

Ibu mertua dan Chika adik iparnya tengah berbisik-bisik menertawakan Lusiana. "Ma, selain jelek wanita ini juga cukup bodoh ya!"


"Dia memang bodoh hanya saja duitnya banyak, kelebihannya hanya itu. Sudah berhenti berbisik tidak enak diliat kakakmu," ucap Ibu Haris menghentikan percakapan dengan anak perempuannya itu.


"Kalian ini sedang berbisik apa?" Tanya Haris yang penasaran dengan percakapan antara ibu dan adiknya. Mereka berkata bahwa sedang berbisik mengenai hal perempuan yang tidak pantas jika harus dibicarakan pada Haris jadi mereka hanya bisa berbisik.


Padahal mereka sedang menertawakan kebodohan Lusiana yang membiarkan mereka merebut hasil kerja keras dan pujian dari Haris.


"Mama, dada Raymond sakit." Sontak saja perkataan dari Raymond tersebut membuat Lusiana sangat panik.


Raymond memang merasa agak nyeri dibagian dada sebelah kirinya. Dia merasa badannya agak panas.


"Raymond, tarik napas dalam dalam dan hembuskan!" Wajah Lusiana terlihat panik dan dia berusaha memegangi Raymond.


Rasa nyeri memang biasanya kerap terjadi apabila ada perubahan suasana yang terjadi pada pengidap jantung karena aliran darah yang tiba-tiba mengalir dengan deras sehingga membuat jantung bekerja lebih keras.


Lusiana langsung saja menggendong Raymond dan membawanya ke kamar terdekat. Dia mengambil obat-obatan Raymond dari dalam tasnya yang memang selalu dia bawa kemana-mana.


Hal seperti ini mungkin saja terjadi sehingga Lusiana selalu membagi obat-obatan Raymond. Sebagian berada di kamarnya dan sebagian lainnya berada di tas yang selalu dia bawa.


Ibu mertua, adik ipar bahkan ayah dari anaknya ini hanya melihat Lusiana mondar-mandir tanpa terlihat kepanikan di wajah mereka.


Mereka hanya diam melihat keadaan Raymond dan sesekali melihat keadaan anak Lusiana dengan mata yang tersirat rasa penasaran.


Lusiana segera mengambil handphonenya dan menelepon dokter untuk segera datang ke rumah. Kebetulan sekali dokter Aryasetya tinggal tidak jauh dari kediaman Lusiana itu sehingga hanya dalam waktu 10 menit dia tiba di rumah Lusiana.

__ADS_1


Saat itu keadaan Raymond  sudah lebih baik dari sebelumnya. Rasa nyeri di dadanya juga telah berkurang banyak.


"Bagaimana semua ini bisa terjadi? Sepertinya Raymond mengalami perubahan suasana hati yang membuat dia marah."


"Lusiana, apa kau dan suamimu bertengkar di depan Raymond?" Tanya dokter Arya pada Lusiana yang berada di sampingnya.


Raymond masih terbaring di kamar dan mulai tertidur. Sebelum menjawab pertanyaan dokter Arya, Lusiana mengajak dokter Arya untuk duduk di ruang tamu.


"Kita bicarakan di luar saja," ajak Lusiana pada dokter di sampingnya.


Ibu mertua, adik iparnya Chika, bahkan Haris sudah tidak ada sejak kedatangan dokter Arya. Ibu mertuanya kembali ke kamar. Chika pergi bersama teman-temannya dan Haris kembali melanjutkan pekerjaan di ruang kerjanya.


"Lusiana, kau bisa menceritakan semuanya padaku. Sebenarnya apa yang terjadi?" Ucap dokter Arya pada wanita yang duduk tepat di sebelahnya.


"Tadi aku dan Raymond memasak makanan bersama-sama. Mungkin dia berharap pujian dari ayahnya, tapi yang sebenarnya terjadi ibu mertuaku mengakui bahwa masakan malam ini adalah buatannya."


Air mata menetes di pipi Lusiana. "Aku tidak tahu kalau dia ternyata terluka seperti ini. Aku hanya ingin menghindari pertengkaran yang tidak perlu yang mungkin bisa menyebabkan Raymond terkena serangan jantung lagi."


Isakan tangis dari Lusiana membuat hati Arya terenyuh. Dia memang seringkali mendengar pertengkaran di rumah tangga mereka karena bukan sekali dua kali Arya datang ke rumah ini.


Dia masih ingat saat melihat wanita berambut keriting dengan wajah panik dan air mata yang mengalir deras di matanya menggendong seorang balita di rumah sakit.


Kasih sayang dan ketelatenan Lusiana merawat buah hati semata wayangnya membuat hati Aryasetya tersentuh. Dia berpikir mungkin suatu saat akan bertemu dengan pujaan hati yang sifatnya keibuan seperti Lusiana.


Tapi sayangnya dia malah jatuh hati pada pria beristri dan sudah memiliki anak yang berada tepat di depannya.

__ADS_1


Aryasetya tak pernah melihat tampilan seseorang dari luar tapi dia melihatnya dari hati.


Penampilan bisa diubah dengan mudah tapi tidak dengan kebaikan hati dan juga watak seseorang. Lusiana yang keibuan dan pekerja keras serta tak ingin bergantung pada siapa pun membuat hati Aryasetya semakin jatuh begitu dalam.


Apalagi mereka juga bertemu secara teratur setiap minggu atau dua bulan sekali saat pemeriksaan Raymond di rumah sakit. Dalam beberapa tahun ini pun mereka menjadi teman dan Arya hanya bisa memendam perasaannya itu agar tidak menjadi pengganggu dalam hubungan rumah tangga Lusiana.


Aryasetya mengambil beberapa lembar tisu dan mengusapkannya pada pipi Lusiana yang terkena air mata. "Terima kasih sudah mau mendengar ceritaku, dokter Arya."


Lusiana mengambil tisu tersebut dan mengusap wajahnya. "Apa yang kalian lakukan enak-enakan bicara berduaan di sini?" Suara Haris terdengar tidak menyenangkan seolah-olah dia menangkap basah istrinya berselingkuh.


Lusiana dan Aryasetya menoleh ke sumber suara. Di sana Haris berdiri dengan menyilangkan kedua tangannya di dada. Wajahnya juga tidak enak dilihat karena keningnya yang mengkerut.


"Apa yang sedang kalian lakukan hah? Dan kenapa kau menangis Lusiana?" Pertanyaan penuh curiga tersebut membuat dada Lusiana semakin terasa sesak. Jika bukan karena Raymond, dia mungkin sudah meninggalkan Haris.


Dia sedang berada di titik saat emosinya sangat tidak stabil. Dengan semua masalah pekerjaan, Raymond yang menunggu operasi jantung, mertua yang selalu menindasnya, adik ipar yang selalu berteriak saat bicara padanya, bahkan yang lebih parah adalah ketidakpedulian mereka semua pada Raymond.


Raymond adalah cucu ibu mertuanya, keponakan dari Chika, dan anak dari pria bernama Haris yang sekarang berada dihadapannya dengan wajah yang tidak bersahabat.


"Maaf, Pak Haris, sepertinya bapak memiliki kesalahpahaman. Ibu Lusiana sedang berkonsultasi tentang kesehatan anak bapak dan ibu pada saya selaku dokter jantung dari Raymond," jelas Aryasetya pada pria yang masih menatapnya dengan rasa tidak suka itu.


Arya berusaha menjelaskan pada Harris tapi pria berkacamata itu masih saja melihatnya dengan sinis. "Heh, jangan bohong. Aku melihatmu menghapus air mata istriku. Aku benarkan?"


"Bagaimana bisa sosok dokter sepertimu bekerja sebagai dokter jantung anakku hah? Kau pasti hanya dokter gadungan yang berusaha mendekati istriku demi harta dengan dalih menyembuhkan anakku, kan?" Cerca Haris pada dokter di depannya. Dia juga beberapa kali menunjuk-nunjuk wajah dokter Aryasetya yang membuat dokter Arya juga sedikit geram.


Lusiana berdiri dan mengambil asbak yang berada di atas meja. Dia melemparkannya tepat di sisi wajah kiri Haris dan melesat mengenai Vas bunga di atas buffet / meja hias tempat beberapa pajangan di letakkan.

__ADS_1


Prang!


Suara pecahan vas bunga yang terbuat dari marmer itu membuat Haris mau pun Arya terpaku.


__ADS_2