Putra Janda Kaya Mencari Papa

Putra Janda Kaya Mencari Papa
Bab 35


__ADS_3

Mario malah bertanya pada cucu yang sekarang menjadi kesayangannya. "Menurut Raymond siapa yang paling terbaik untuk menjadi papamu? Paman dokter atau Paman Dallen?"


Lusiana kembali mengingatkan ayahnya bahwa mereka sedang di rumah sakit. Takutnya di dengar oleh beberapa orang yang lewat dan mengenal dokter Arya.


Dallen yang saat itu kebetulan sedang membeli minuman tidak mendengar pertanyaan ajaib kakek ini pada cucunya.


Raymond berdiri dari duduknya dan berkata, "Ayah Raymond haruslah pria paling tampan dan kaya. Raymond tidak memilih paman Dokter atau paman Dallen karena tidak masuk kriteria," jelas Raymond pada kakeknya.


Hal itu membuat Ibu Delinah dan Lusiana hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah laku kakek dan cucu ini.


Dallen pun tiba membawa beberapa minuman dan cemilan untuk mereka makan. Setelah menunggu beberapa saat dokter pun memberikan hasil kepada mereka.


"Raymond adalah anak yang cukup cerdas. Dia memiliki IQ 160. Usia mentalnya juga berada di usia 15 tahun. Raymond pasti memiliki banyak pertanyaan yang merepotkan untuk di jawab ya bu?" tanya dokter tersebut dengan ramah pada Lusiana dan Raymond yang ada di depan mereka.


"Tidak juga bu, Raymond anak yang sangat pintar menilai situasi. Dia tidak pernah merepotkan. Beberapa hal yang ditanyakan juga masih dalam taraf wajar dan bisa saya jawab," ucap Lusiana menjawab pertanyaan dokter.


Sesi konsultasi berlangsung beberapa saat. Dokter tersebut juga sudah mengetahui kalau Raymond memiliki penyakit jantung yang dia ketahui dari dokter Arya.


Setelah memeriksakan keadaan Dallen mengantarkan keluarga Atmaja kembali ke rumahnya.


Setibanya dia di Mansion, adik kesayangannya sesil menelepon. Dia menggunakan panggilan video saat itu. Dallen pun mengangkatnya dan memperlihatkan Raymond yang sedang berjalan masuk ke dalam rumah.


Sesil segera merengek meminta untuk bicara pada calon suami masa depannya itu. Dallen segera memberitahu Raymond bahwa Sesil ingin bicara padanya.


Mendengar itu Raymond senang karena sahabatnya menelepon. "Raymond, kapan aku bisa datang ke rumah barumu?"


"Ini bukan rumah baru tapi rumah kakek dan nenekku. Baiklah nanti tunggu waktu yang tepat aku akan mengundangmu kemari," ucap Raymond dengan ramah pada wanita masa depannya.


Kakek dan Nenek Raymond melihat cucunya begitu senang dan antusias dengan penelepon. Mereka pun bertanya pada Dallen.


"Itu adik bungsu saya, om," ucapnya membuat Mario dan Delinah tercengang.

__ADS_1


"Hah? Steven punya anak lagi? Bukannya Ibumu itu sudah 40 tahunan? Masih bisa melahirkan?" tanya Ibu Delinah pada Dallen.


"Iya, tan. Mama sesar, tidak normal seperti anak lainnya. Mana sanggup mama mau lahiran normal saat usia udah tak muda lagi," jelas Dallen pada kakek dan nenek Raymond.


Sambil mereka mengobrol, Raymond dan Sesil juga bicara banyak omong kosong. Dia mulai mempengaruhi Raymond dengan rubik-rubik baru yang dia miliki.


Sementara itu Lusiana menerima telepon dari pengacaranya bahwa segala sesuatu sudah siap dan mereka bisa bicara soal kepengurusan harta dan anak bersama dengan pihak keluarga Haris.


"Yaudah pak, Kira-kira kapan ya kita bisa meetingnya?" tanya Lusiana sembari melihat pemandangan di belakang rumahnya.


"Kalau bisa besok atau lusa bu, kebetulan jadwal saya kosong," ucap pengacara di telepon pada Lusiana.


"Iya Pak besok aja ya. Soalnya hari ini saya capek," Lusiana setelah bicara beberapa hal langsung menutup teleponnya.


Lusiana mengirimkan pesan pada Haris untuk datang besok ke kantornya dan bertemu pengacara untuk menjelaskan segala sesuatu tentang perceraian.


Haris pun menyambut baik pesan Lusiana dan akan datang besok.


Sekarang Dallen dan Annaya berada di tempat duduk yang lumayan dekat. Dallen bisa melihat jelas wajah Annaya yang sangat manis.


Ada sedikit rasa suka saat dia melihat wanita yang manis itu mondar-mandir sibuk mengerjakan beberapa dokumen atau kadang dia akan bolak-balik ke ruangan Lusiana untuk membawakan makanan atau meminta tandatangan.


Di sela-sela waktu senggang dan tidak sibuk, Dallen mulai mendekati Annaya. "Annaya, kau selalu sibuk. Apa suamimu tidak marah?" tanya Dallen dengan menyenggol bahu Annaya sedikit.


Annaya malah tertawa dan berkata, "Suami? Pacar saja aku tidak punya. Bagaimana bisa punya suami?


"Benarkah?" tanya Dallen yang membuat Annaya melihat Dallen dengan tatapan aneh dan curiga.


"Baguslah, aku jadi punya kesempatan untuk mendekati Annaya," batin Dallen.


"Kalau begitu apa kau keberatan makan malam denganku, malam ini?" Pertanyaan tersebut membuat Annaya sedikit tersipu malu dan mengangguk. Tanpa sadar Dallen mengangkat tangannya dan bersorak membuat wanita itu malu dan pergi dari sana.

__ADS_1


Dallen pun pergi menjemput Annaya malam itu. Pria itu memesan restoran yang cukup mahal dan membuat Annaya tidak terbiasa di tempat itu. Tapi karena ini adalah tempat makan favorit Dallen makanya dia mengalah.


"Mau makan apa?" tanya Dallen saat dia membuka menu.


"Aku mau salad, kepiting, dan Orange juice," ucap Annaya dan pelayan pun menulis pesanan tersebut.


"Kalau saya mau wine dan Beef Steak medium ya," ucap Dallen. Pelayan mencatat lagi pesanan dari Dallen dan memastikan bahwa kedua tamu tersebut tidak memesan lagi.


Dia kemudian membawa kembali buku menu dan menaruh kertas di dekat koki agar koki segera menyiapkan makanan yang dipesan oleh kedua orang tadi.


Tanpa Dallen sadari sosok Alvero selalu mengikuti dirinya hingga pria itu mengantar Annaya ke rumahnya.


Alvero yang sedang dalam keadaan marah, menghentikan mobil Dallen di tengah jalan. Dia menarik Dallen ke dalam mobilnya. "Pulang ke apartemen!" Suaranya yang dingin membuat Dallen merasa agak takut.


Alvero kemudian memerintahkan orangnya untuk membawa mobil Dallen ke apartemen miliknya.


Sementara itu Lusiana sedang membacakan sebuah buku cerita untuk membuat Raymond tidur. Dia menceritakan tentang kisah Malin Kundang, anak yang durhaka pada ibunya.


Bukannya mengantuk, Raymond malah makin semangat mendengarkan cerita tersebut.


"Ma, Raymond janji tidak akan seperti Malin Kundang. Raymond menyayangi mama dan tidak akan durhaka," ucap Raymond meyakinkan Lusiana.


Wanita itu hanya tersenyum sambil sesekali mengelus lembut rambut Raymond. Tidak menunggu berapa lama, Raymond mulai mengantuk dan tertidur dengan memeluk rubik raksasa yang menjadi ganti gulingnya.


Lusiana kembali ke kamarnya dan berusaha untuk tidur, tapi entah kenapa dia belum bisa jadi untuk mengisi waktu, Lusiana membaca jadwal meetingnya besok.


Meeting dengan King Xavier Corporation pukul 4 sore!


Membaca itu Lusiana langsung melompat dari tempat tidur. Dia agak cemas dan takut karena dia takut ketahuan. Apalagi nama yang dia gunakan juga hampir sama.


Lusiana hanya bisa mondar mandir di kamarnya hingga hari hampir mendekati pukul 3 tapi Lusiana masih belum bisa tidur.

__ADS_1


Dia menghabiskan waktu dengan membaca beberapa dokumen pekerjaan miliknya.


__ADS_2