
Suasana rumah Lusiana terasa ramai karena kedatangan 5 orang pembantu itu. Mereka tidak membiarkan Mbok Darmi memasak sendirian dan membantu wanita tua itu untuk memasak.
Sebelumnya mereka sudah memperkenalkan diri pada masing-masing anggota keluarga. Awalnya Ibu Salma merasa keberatan dengan kehadiran mereka tapi karena sanjungan dari Irene dan yang lainnya membuat Ibu Salma membiarkan mereka berkeliaran di dapur.
"Nyonya besar begitu cantik dan terlihat awet muda. Apa rahasianya?" Tanya Irene pada Ibu Salma yang mereka sebut Nyonya Besar.
Dia saat itu bertugas memijat tubuh Ibu Salma sedangkan yang lainnya membantu Mbok Darmi memasak makan malam.
"Tentu saja cantik dan awet muda. Perawatan yang aku lakukan ini menghabiskan biaya ratusan juta tiap bulannya. Kau yang tidak memiliki banyak uang,
tidak akan mengerti."
Irene hanya merengut masam mendegar perkataan Ibu Salma tanpa perlawanan. Tentu saja dia sadar diri hanya karena gadis desa yang tidak mengerti seberapa banyak uang yang telah dihabiskan oleh orang-orang kaya ini.
"Nona muda ini juga sangat cantik." Dia hanya mendapat lirikan hinaan dari Chika saat memuji wanita itu. Saat itu mereka berada di ruang keluarga. Chika sedang memakai kuteks pada kukunya.
Sementara itu Irene duduk dibawah kursi dan memijat kaki Ibu Salma. Deru mobil terdengar dari luar. Satpam yang sedang ngobrol dengan Pak Paijo pun bersamaan menyapa Lusiana.
"Pak, ini ada barang belanjaan kebutuhan kalian tolong bantu saya bawakan ke dalam ya." ucap Lusiana pada Pak Paijo yang langsung berdiri dan mengeluarkanmu isi bagasi mobil yang penuh barang belanjaan.
"Waduh, apaan ni bu? Banyak amat?" tanya Pak Paijo heran.
"Itu barang-barang kebutuhan kalian. Panggil mbak Saryah, Irene, dan mbak Sarinah untuk membawa ini ke dalam dulu ya."
Pak Paijo pun segera masuk ke dapur melalui pintu belakang dan memanggil mereka atas perintah Lusiana.
Sarinah pun memanggil Irene untuk membawa belanjaan dan dia dimarahi oleh Ibu Salma.
Tapi setelah penjelasan yang cukup sengit Irene pun bisa dibawa kebelakang oleh mereka.
__ADS_1
"Eh, kamu ndak dengar apa perintah biar ndak terlalu dekat sama mertuanya Bu Lusiana?" Tanya Mbak Sarinah pada Irene yang berada di sebelahnya.
"Iya loh, kamu ini tambeng. Susah banget diingati. Lihat gak kamu kita juga ikut di semprot sama Ibu Salma itu?" timpal Saryah pada Irene yang wajahnya sudah berubah kesal.
"Duh, Mbak-mbak ini ya. Aku kan sedang berusaha beradaptasi dengan mereka. Jadi sudah sewajarnya dong kalau aku dekat dengan mereka," jawab Irene yang menurutnya itu masuk logika.
"Ini juga loh aku dapet 50 ribu hasil mijat dia kan lumayan juga dapat duit."
Pak Paijo yang mendengar mereka masih bertengkar sepanjang jalan sementara mereka sudah dekat pada Bu Lusiana. Pria tua itu langsung menghentikan keributan di belakangnya.
"Sudah, sudah, jangan bertengkar lagi. Kita sudah mau sampai, lihat Bu Lusiana menunggu di depan." Mereka pun segera berlari kecil menyambut kedatangan Lusiana.
"Ini saya belikan beberapa barang untuk kalian. Ada selimut, bantal, alat mandi dan juga makanan beku yang bisa kalian simpan di kulkas."
"Ada beras juga obat-obatan serta logistik lainnya." Mereka semua gembira saat menerima pemberian Lusiana yang begitu banyak. Ternyata mendapat majikan yang begitu baik membuat mereka merasa beruntung.
Lusiana membantu menurunkan barang yang langsung dilarang oleh mereka. Mereka bilang pada Lusiana untuk membawa semua barang belanjaan ini ke bangunan tempat tinggal mereka.
Lusiana segera naik ke lantai 2 dan mengetuk pintu kamar anaknya. Wajah manis Raymond muncul saat membuka pintu.
"Anak mama sudah minum obat tadi siang?" Raymond mengangguk tiba-tiba dia mengendus dan menutup hidung.
"Mama bau, pasti mama belum mandikan. Cepat sana mandi! Raymond tidak tahan dengan bau mama," keluh bocah kecil itu pada Lusiana.
Lusiana membuat wajah cemberut di wajahnya. "Jadi begitu ya? Kalau begitu mama akan memelukmu." Lusiana langsung menyambar Raymond dan memeluknya. Dia tersenyum bahagia dengan kedekatan mereka ini.
Saat Raymond berada di pelukannya, pria kecil itu berkata dengan serius. "Mama, serius deh mama harus mandi."
Lusiana pun mengendus tubuhnya dan tidak mendapatkan bau badan dimana-mana. Raymond tertawa terbahak-bahak membuat Lusiana geram dan menggelitik bocah kecil itu sehingga mereka tertawa bersama.
__ADS_1
Meskipun tawa itu tak selepas saat mereka bersama Sesil. Tapi Raymond bisa melihat pancaran kebahagian dari ibunya.
Lusiana kembali ke kamarnya setelah melepaskan rindu pada Raymond. Dia mengunci pintu dan jendela kamar serta memastikan tidak akan ada yang masuk ke dalam kamar.
Dia masuk ke dalam kamar mandi dan membuka semua pakaiannya. Tidak lupa dia menghapus makeup di seluruh wajahnya. Dia juga melepaskan wig yang berada di kepalanya.
Sosok wanita dengan kulit wajah yang putih dan sehat nampak dari pantulan kaca di depannya. Lusiana memeriksa rambut panjang miliknya yang agak lepek dan memutuskan untuk mencucinya menggunakan shampo dan conditioner agar rambut tetap lembut.
Penampilan asli Lusiana yang jauh lebih cantik ternyata tertutupi oleh penyamarannya sebagai wanita jelek. Dia memang memiliki hobi untuk menggunakan wig dan wajah yang di makeup jelek untuk mengelabui orang-orang.
Berawal dari keisengan semata dan akhirnya Lusiana harus terjebak dalam keadaan wajahnya yang jelek.
Lusiana pun sebenarnya ingin tahu sebesar apa ketulusan yang di miliki oleh Haris. Ternyata Lusiana tahu bahwa Haris hanya menganggapnya sebagaimana bank berjalan.
Jika seseorang mencintai orang lain tak mungkin mereka akan membiarkan orang yang dicintai terluka, ditindas dan diejek oleh keluarganya sendiri.
Entah sampai kapan Lusiana akan menjalani kehidupan seperti ini. Dia memutuskan memulai dengan menahan semua uang miliknya untuk keluar demi kepentingan Haris.
Dia juga akan mengambil sebagian haknya dan memberikan setengah untukĀ Haris sebagai ucapan terima kasih karena telah memberikannya anak yang lucu.
Lusiana pun telah mengeringkan rambutnya. Dia merogoh sebuah tempat penyimpanan yang tersembunyi di lemari kamar mandi yang berisi wig baru yang sama persis seperti sebelumnya.
Tidak mungkin kan dia sudah mandi dan bersih tapi memakai wig yang sama? Lusiana pun selesai berdandan dan wajahnya yang kusam itu kembali lagi.
Lusiana segera mengetuk kamar Raymond dan menggendongnya untuk turun tangga.
Tepat saat itu deru mobil terdengar dari luar. Suara langkah kaki Haris terdengar dan dia langsung menuju meja makan untuk menyantap makan malam.
Semua asisten rumah tangga menyambutnya. Tidak terkecuali Irene, salah satu pembantu baru yang begitu terpesona dengan wajah Haris.
__ADS_1
Pria itu pun menangkap rona merah di wajah pembantu baru dan merencanakan sesuatu.