Putra Janda Kaya Mencari Papa

Putra Janda Kaya Mencari Papa
Bab 23


__ADS_3

Bubur sudah habis dan alat pernapasan juga sudah dilepas. Kemungkinan besok atau lusa Raymond sudah bisa kembali pulang ke rumahnya.


"Asyik, besok Raymond sudah bisa pulang. Ma, Raymond besok bisa sekolah kan ma?" Lusiana menatap anaknya yang kini tengah berharap agar besok bisa pulang.


Dokter Arya memberitahukan pada mereka bahwa Raymond sudah bisa pulang besok siang.


"Yah, Raymond gak bisa sekolah dong?" gerutunya.


Lusiana menatap senang karena anaknya kini sudah lebih sehat. Tiba-tiba pintu kamar ruang perawatan Raymond diketuk dari luar.


Ternyata itu adalah Dallen dan Sesil serta seorang pria yang seusia dengannya.


Lusiana mengingat wajah itu. Dialah Alvero Sebastian yang diceritakan oleh oleh Dallen.


"Sesil?"


"Raymond?"


Mereka berdua serempak memanggil nama masing-masing. Sesil mendekati ranjang Raymond dan bertanya keadaan Raymond.


Bocah kecil itu menjawab bahwa dia sudah sehat.


Sesil juga membawa tas yang kelihatannya cukup berat hingga Lusiana menanyakan apa yang dia bawa.


"Mama mertua, aku membawa beberapa pakaian, rubik, dan juga buku pelajaran untuk besok karena Sesil akan menginap di sini menemani mama mertua."


"Yey!" teriak Raymond senang karena akan semalaman bermain rubik dengan Sesil.


Dallen hanya menggelengkan kepalanya karena heran dengan sifat keras kepala Sesil.


Saat itu Dallen tengah makan malam dengan Alvero. Sesil langsung menghubunginya dan menangis dengan kencang karena ingin menemani Raymond di rumah sakit.


Dallen pun bicara pada ibunya dan meminta saran apakah Sesil diperbolehkan untuk menginap di rumah sakit atau tidak.


Awalnya Ayahnya tidak mengizinkan tapi setelah tangisan putri kecilnya semakin kencang dia mau tak mau menyetujui Sesil yang akan menginap di rumah sakit.


"Ya sudah kalau begitu jangan merepotkan ibunya Raymond ya. Lakukan segalanya sendiri!" Sesil mengangguk dan menyalami ibunya.

__ADS_1


Dia kemudian menghampiri ayah yang sudah paruhbaya itu. Ayahnya terlihat agak marah dan cemberut.


"Ayah aku akan pergi." Selain menyalami ayah dia juga mencium pipi orang tua itu.


"Cinta pertamaku tetaplah ayah." Begitu kata gadis kecil yang selalu membuat heboh kemana pun dia pergi. Walau demikian ayah merasa bahagia Sesil mencium pipi untuk meredakan kemarahannya.


Sesil pun segera menaiki mobil yang di kendarai oleh temannya Alvero. "Alvero, Hati-hati bawa mobilnya ya, Nak." Alvero mengangguk dan melihat ayah Dallen menatapnya marah.


Keadaan di kamar itu cukup ramai. Ada Lusiana, dan kedua bocah kecil yang sedang bermain rubik dan bicara omong kosong, ada dokter Arya yang sesekali datang untuk melihat Raymond dan mengecek kesehatannya.


Dan ada dua orang yang saling berteman tapi bertengkar. Berkali-kali Alvero akan bicara tapi Dallen selalu memutuskan pembicaraan orang sembarangan.


Suasana yang ramai dan hangat ini berlangsung cukup lama hingga suatu saat bocah itu tertidur. Lusiana segera mengangkat Sesil dan memindahkannya ke ranjang di sebelah Raymond.


Tidak lupa dia menyelimuti Raymond dan Sesil agar tidak kedinginan. Dia juga menyelimuti Alvero dan Dallen yang tidur berdampingan.


Sementara itu Alvero dan Dallen tertidur di sofabed. Lucia juga tertidur di satu sofabed lainnya.


Pagi menjelang saat Lucia bangun, dia kaget melihat Sesil sudah berpakaian dengan rapi. Sama-sama dia mendengar percakapan dua bocah.


"Jadi terpaksa aku harus pergi ke sekolah pagi ini. Karena hari ini kau keluar rumah sakit, berjanjilah besok akan ke sekolah." Sesil menunjuk kelingkingnya pada Raymond dan bocah kecil itu juga menyambutnya.


Lusiana merasa berkat kehadiran Sesil, Raymond jadi lebih ceria.


Alvero, Dallen dan Sesil pun berpamitan dengan Lusiana untuk pergi ke sekolah mengantar Sesil.


Hari pun menjelang siang, Lusiana mengemaskan beberapa barang miliknya dan Raymond untuk dibawa pulang.


Ada 1 hal yang membuat Lusiana tak habis pikir. Bagaimana bisa Haris juga tidak datang saat anaknya sakit.


Lusiana tidak tahu bahwa Haris sebenarnya cukup marah atas sikap ibunya.


Saat itu dia pulang di pagi hari dan keadaan rumah sudah berantakan. Dia tidak pulang ke rumah tapi malah tidur di apartemen Rebecca.


Akibat sikap ibunya proyek tol bisa saja dikuasai oleh kakak dari Lusiana dan tidak akan diberikan padanya.


Siang itu dia pergi ke rumah sakit tapi sayangnya Lusiana dan Raymond sudah pulang ke rumah. Lusiana bahkan tidak bersedia mengangkat teleponnya.

__ADS_1


Saat Lusiana pulang dia di sambut oleh Mbok Darmi dan yang lainnya. "Nyah, gimana keadaan den Reymond?"


"Keadaan Raymond sekarang sudah baik-baik saja koq bi. Ya sudah kalian lanjut bekerja ya."


Awalnya mereka tidak percaya karena Raymond tidur di gendongan Lusiana tapi saat Raymond menguap dan mengucek kedua matanya barulah para asisten rumah tangga itu bernapas lega.


Mereka tau betul kejadian saat pertengkaran hebat antara Ibu Salma dan Lusiana saat itu dan seberapa buruknya kesehatan Raymond.


"Nyah tadi siang bapak pergi ke rumah sakit loh, nyonya gak ketemu tah?" tanya Mbok Darmi lagi.


"Ke rumah sakit?" Lusiana tidak tahu jika Haris ingin pergi ke rumah sakit, tapi syukurlah masih ada sedikit rasa pedulinya pada Raymond walau pun itu terlambat.


Lusiana naik ke kamar Raymond dan menaruh tubuh kecil itu di tempat tidur. Dia langsung saja memeluk guling yang biasa dia pakai tidur.


Mungkin karena dia main semalaman dengan Sesil sehingga di siang hari dia pun dilanda oleh rasa kantuk.


Sejam kemudian Haris pulang dan menemui Lusiana. Dia minta maaf pada istrinya itu atas perlakuan ibunya dan meminta Lusiana untuk mempertimbangkan lagi proyek tol yang dia inginkan.


"Proyek tol? Kau membahas proyek tol di saat sekarang? Jadi kau peduli dengan Raymond karena masalah itu? Keluar! Keluar sekarang juga dari kamar ini!" bentak Lusiana pada pria yang ada di depannya.


Haris juga bodoh. Dia terlalu terburu-buru untuk membahas proyek tanpa melihat situasi dan keadaan. Padahal awalnya dia bisa bertanya tentang keadaan Raymond, atau berapa biaya rumah sakit.


Suasana hatinya yang tolak oleh Lusiana pun jadi buruk. Dia kembali ke kamarnya dengan wajah merah padam menahan marah.


Saat itu dia melihat Irene yang sedang membersihkan area tangga. Melihat situasi yang cukup aman dia langsung menarik gadis itu untuk masuk ke kamarnya dan melampiaskan semuanya pada gadis itu.


Telepon Lusiana berdering dan itu adalah panggilan dari Erick.


"Bagaimana kau bisa tidak memberitahu keadaan keponakanku? Apa dia baik-baik saja?" ucap panik pria yang berada di ujung telepon.


"Kakak tenang saja. Raymond sedang tidur sekarang dan dia sudah sembuh."


"Tapi bisa-bisanya kau tidak memberitahu hal ini padaku, apa kau tidak menganggap aku sebagai kakakmu lagi?" tanya Erick dengan nada agak sedih di akhir kata.


"Bukan begitu kak, tapi kakak kan sedang di luar negeri mengurus pekerjaan, mana bisa pulang. Pekerjaan kakak akan terbengkalai dan ayah akan menyalahkanku atas itu."


Terdengar suara helaan napas dari Erick. "Ya sudahlah nanti aku akan mengunjungimu kalau aku sudah pulang."

__ADS_1


__ADS_2