Putra Janda Kaya Mencari Papa

Putra Janda Kaya Mencari Papa
Bab 36


__ADS_3

Dallen merasa bagian belakangnya agak sakit. Saat tiba di kantor Annaya bertanya pada Dallen.


"Dallen, kenapa kau jalan seperti itu?"


"Ah, tidak ini kemarin aku jatuh dari tangga apartemen, jadinya pinggang ku sangat sakit." Dallen meletakkan pinggangnya perlahan di kursi dengan wajah yang meringis menahan sakit.


Lusiana yang kebetulan akan masuk ke ruangannya melihat keadaan Dallen dan mulai menggodanya.


"Dallen, bagian bawahmu kenapa? Apakah Alvero yang..." Belum sempat Lusiana melanjutkan perkataannya yang memang dia lambatkan untuk menggoda Dallen, pria itu malah berdiri dengan wajah panik.


"Tidak, itu tidak mungkin."


Annaya heran dengan perubahan sikap Dallen. Lusiana makin sengaja menggodanya dengan membisikkan sesuatu pada Annaya.


"Alvero itu temannya. Aku hanya menggoda Dallen karena dia sangat lucu saat panik. Kau juga ikut akting seolah-olah terkejut untuk membuat Dallen semakin salah tingkah," bisik Lusiana di telinga Annaya yang tak bisa didengar oleh Dallen.


Annaya menatap Dallen tak percaya. Seolah-olah Lusiana membisikkan hal buruk tentang dirinya dan Alvero pada Annaya.


"Annaya, itu tidak benar. Aku tidak mungkin melakukannya dengan pria," ucap Dallen panik. Hal itu membuat Lusiana dan Annaya tertawa terbahak-bahak


Dallen pun tahu kalau dia dikerjai dan merasa agak kesal. "Dallen kau kan habis tertimpa musibah, jadi kau di sini saja. Istirahat! Aku mau pergi karena ada beberapa urusan. Nanti Sesil aku bawa ya ke rumah untuk menemani Raymond hari ini."


Dallen mengangguk, kemudian Lusiana melanjutkan sedikit pekerjaannya di ruangan. Beberapa saat kemudian dia membawa berkas dan pergi ke ruang meeting.


"Pak Hartanto nanti naik ke kantor langsung ke lantai 26 ya. Kita akan meeting di sana saja," ucap Lusiana di telepon pada pengacaranya, Hartanto."


Pria berusia 30an dengan menggunakan kacamata tebal tiba di kantor Lusiana dan langsung naik ke lantai 26.


Dia Hartanto, pengacara yang cukup terkenal dan terbiasa menang dalam setiap sidang. Dia dibayar mahal oleh setiap konglomerat untuk mengatasi setiap masalah. Kali ini juga begitu.

__ADS_1


Lusiana pemilik Winka Jaya Corporation memintanya untuk menjadi pengacara dan mengatasi perceraiannya dengan benar dan sesuai keinginan Lusiana tapi tetap berpatokan pada undang-undang yang berlaku.


Dia pun tiba di ruangan tersebut tapi hanya ada Lusiana. "Duduk pak, saya sudah memanggil Haris dan pengacaranya. Mungkin mereka akan tiba sebentar lagi."


Benar saja, kurang dari 10 menit Haris dan pengacaranya tiba juga di ruang meeting tersebut. Lusiana dan Hartanto duduk bersebelahan begitu juga di depannya Haris dan pengacaranya duduk berdampingan.


Mereka masing-masing memegang berkas. Mungkin berisi hak, kewajiban dan tuntutan mereka saat menikah dan bercerai.


"Jadi, Tuan Haris apakah Tuan sudah menandatangani surat perceraiannya?"


"Tidak, saya belum menandatanganinya sampai saya mendengar status jelas mengenai pembagian semua properti yang kami peroleh setelah menikah," ucap Haris menjawab pertanyaan Hartanto.


Hal itu menyebabkan Lusiana geram karena Haris di mana pun dan kapan pun selalu membahas soal harta. Pria yang sangat menjijikkan.


Bagaimana mungkin dahulu Lusiana bisa terjebak pada pria brengsek seperti ini? Mata Lusiana pasti sudah dibutakan oleh kebaikan palsu milik Haris saat itu.


"Baiklah untuk pembagian harta setelah menikah itu tidak bisa di lakukan."


Entah binatang apa yang memasuki pikiran Haris hingga dia berpikir bahwa Lusiana akan dengan bodohnya memberikan perusahaan yang telah dia bangun dengan keringatnya hanya untuk pria semacam dia. Bukankah si Haris ini pria yang tidak tahu diri dan tidak tahu malu?


"Itu karena adanya perjanjian pra-nikah yang telah Tuan Haris dan Nona Lusiana tandatangani. Dalam Perjanjian tersebut dikatakan bahwa baik sebelum menikah atau sesudah menikah semua harta masing-masing."


"Apa? Lusiana apa kau setega itu denganku? Berarti semua perusahaan akan kau ambil? Aku juga turut berperan dalam setiap perkembangan perusahaan sudah seharusnya sebagian perusahaan itu juga milikku," ucap Haris dengan tidak tahu malu.


"Haris? Kau ini tolol atau apa? Kau pikir aku akan membagi perusahaan milikku denganmu? Kau bekerja juga tidak gratis. Kau dibayar dengan sangat mahal hingga bisa membuat perusahaan sendiri. Kau lupa?"


"Apa aku harus mengingatkan asalmu agar kau bisa melihat pencapaian mu yang hebat ini? Jangan serakah dengan ingin mengambil semua milikku atau kau akan tahu akibatnya," tegas Lusiana pada pria itu.


"Kau...." Haris hanya bisa terdiam saat Lusiana mulai mengungkit asal usul dirinya.

__ADS_1


Tentu saja dia melakukan itu karena sudah begitu kesal dengan sikap Haris yang tidak tahu diri dan tidak tahu terima kasih.


Pengacara Hartanto kemudian memberitahu hal yang dimiliki Lusiana. Terkadang pengacara dari pihak Haris akan berdebat dengannya.


Hasil yang diperoleh pun menetapkan bahwa tidak ada pembagian harta. Semua perusahaan baik Winka Jaya Corporation atau Perusahaan Retail Winka adalah milik Lusiana sepenuhnya.


Sementara Haris Corporation, Lusiana masih akan mendapat penghasilan juga dari sana. Awalnya Haris ingin menguasai Haris Corporation sepenuhnya tapi mereka kemudian sepakat untuk menukar saham. Saham Haris yang 5% berada di Winka Jaya Corporation akan ditukar dengan 10% dari Saham Lusiana yang berada di Haris Corporation.


Sehingga posisi Haris dan Lusiana di Haris Corporation masing-masing memiliki saham sebesar 50%.


Mengenai hak asuh anak akan diberikan pada Lusiana itu adalah kesepakatan mereka. Siapa juga yang mau merawat anak berpenyakitan seperti itu yang hanya akan menghabiskan uang Haris untuk selalu membawanya ke rumah sakit.


Mengenai kantor, Haris akan segera pergi dari bangunan ini karena sepenuhnya milik Lusiana. Dia tidak cukup khawatir karena memiliki gedung sendiri yang menaungi Haris Corporation.


Setelah perdebatan panjang dan hasil keputusan meeting sudah diperoleh mereka pun mengakhiri meeting.


Haris mengemasi barangnya sedikit demi sedikit dan akan pergi, tapi dia tidak akan semudah itu membuat kedua perusahaan ini berjaya.


Dia meminta bantuan beberapa orang untuk memasukkan virus ke dalam semua komputer di kedua perusahaan tersebut sehingga akan menimbulkan kemacetan pada perusahaan.


Hal itu pasti akan membuat Lusiana kerepotan dan akan merugi dalam jumlah yang sangat besar.


Lusiana melihat jam di tangannya sudah hampir jam 11 siang. Dia segera melajukan kendaraannya ke sekolah Raymond untuk menjemput 2 bocah cilik.


Setibanya di sana Raymond dan Sesil menghampiri Lusiana. "Jadi Raymond bisa membawa Sesil ke rumah hari ini?" Wajah sumringah ke dua bocah itu membuat hati Lusiana meleleh.


Mereka memutari tubuh Lusiana karena senang. Untuk mempersingkat waktu mereka pun segera menuju ke Mansion Atmaja.


Mereka memasuki gerbang yang luas itu dan dari kejauhan Mansion besar mulai terlihat. "Wah ternyata rumah kakek Raymond lebih besar dari rumah ayah," sanjung Sesil saat dia melihat Mansion yang semakin dekat.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2