
Deg!
Deg!
Deg!
Jantung Haris berdegup dengan kencang. Dia tidak bisa membayangkan bentuk wajahnya sendiri jika asbak kristal seberat 2,5 kilo itu melesat mengenai wajahnya.
Tidak perlu diragukan lagi kalau hidungnya akan patah atau memar hebat di seluruh wajahnya. Keringat menetes di punggung Haris. Wajahnya pun berubah pucat pasi dengan cepat. Dia merasa tubuhnya terasa dingin dan mengigil karena rasa takut yang belum pernah dia rasakan.
Lusiana dengan wajah datar dan terasa dingin sedikit demi sedikit berjalan ke arahnya. Pakaiannya sedikit kusut, rambut keriting itu terlihat juga semakin berantakan, wajahnya juga semakin kusam. Terutama mata Lusiana yang merah karena menangis membuatnya seperti hantu yang keluar dari kuburan.
Tanpa sadar Haris mundur saat Lusiana sudah satu jengkal di hadapannya. "Aku benar-benar muak denganmu." Lusiana menarik kerah kemeja yang digunakan Haris.
"Kau tau apa yang membuatku menangis, hah?" Pertanyaan Lusiana tidak dapat dijawab oleh Haris karena dia sedang menenangkan hatinya yang seperti dicengkram oleh iblis.
"Aku menangis karena anakku, Raymond. Awalnya aku sangat bahagia menemukan laki-laki yang baik sepertimu. Kau datang pada keluargaku dengan sikap seperti seorang pahlawan."
"Kau bertanggungjawab dengan perbuatan yang telah kau lakukan dan membuatku menjadi istrimu walau ditentang oleh keluargaku."
"Sikapmu padaku 2 tahun di awal pernikahan kita sangat manis, tapi setelah kau mendapatkan posisi di perusahaan ku, kau malah menjadi tidak tahu diri."
Buk!
Lusiana tanpa aba-aba apa pun langsung meninju dengan keras wajah Haris. Pria berbadan cukup besar itu anehnya langsung tumbang dengan satu pukulan dari Lusiana.
Dia tersungkur di tanah dengan rasa tidak percaya bahwa dirinya dijatuhkan oleh seorang wanita. Aryasetya yang berada cukup dekat dengan mereka dengan sadar mulai menjauhkan diri.
Tapi dia juga tetap menjaga jarak takut Haris membalas Lusiana dengan kejam. Jika itu terjadi dia bisa dengan cepat menghalaunya.
__ADS_1
Lusiana berjongkok dan menarik kerah Haris yang sudah hampir robek karena kerasnya tarikan Lusiana. "Anak kita sedang dalam kondisi sekarat saat itu dan kau masih sibuk bekerja."
"Kau tidak memiliki kepedulian sedikit pun pada anak kita, buah hati kita. Di kepalamu hanya berisi uang, uang, dan uang. Kau tidak tahu bagaimana Raymond hampir meregang nyawa karena serangan jantung."
"Kau tidak tahu betapa sulitnya hari hari yang dia lalui saat berada di rumah sakit. Kau tidak tahu saat itu begitu banyak selang di tubuhnya. Kau tidak tahu bagaimana cara dia tersenyum padaku saat tubuhnya sakit."
"Apa kau tahu rasanya perasaanku saat dia bilang akan tumbuh dewasa dan melindungiku di saat-saat dia kritis? Jemarinya saat itu masih terasa hangat sampai sekarang."
Buk!
Lusiana memukul pipi sebelah kiri Haris dengan kekuatan yang sama seperti sebelumnya. Hal itu membuat pandangannya sedikit mengabur sebentar. Hal itu membuatnya sadar dan berbalik melihat Lusiana dengan kemarahan.
"Berani-beraninya kau memukulku." Saat Haris hendak memukul Lusiana tangan pria tersebut langsung di tangkap dan di pelintir. Terdengar suara retakan tulang yang patah.
"Aaaaaaaaah." Lengkingan panjang dari Haris menandakan berapa sakitnya tangan yang tulangnya kemungkinan retak karena ulah Lusiana.
"Kau tau betapa menderitanya anakku dan kau malah melayangkan tuduhan yang tidak-tidak pada aku dan dokter yang merawat putraku," lanjut Lusiana yang di hatinya masih menyimpan amarah yang begitu besar.
"Ahhhh, Haris!" Seorang wanita tua berteriak histeris dan turun terburu-buru dari lantai 2 menuju ruang tamu. Di sepanjang jalan menuju ruang tamu dia menangis melihat keadaan anaknya yang memiliki wajah babak belur serta teriakan histeris karena tangannya kesakitan.
Ibu mertua Lusiana langsung bersimpuh ke lantai dan menyentuh pelan pipi dan tangan anaknya yang sakit. Dia terlihat panik dan menangis sejadi-jadinya. Dia juga mencoba untuk menyentuh beberapa bagian tubuh Haris untuk menenangkannya.
"Haris apa yang terjadi nak? Siapa yang memukulmu?" Ibu Salma mengedarkan pandangannya dan berakhir tertuju pada pria yang memakai jas dokter.
"Kau? Kau dokter yang mencoba untuk membunuh anakku?" Tanya Ibu Salma yang merupakan Ibu mertua Lusiana pada dokter yang merawat cucunya.
"Itu aku Ma. Aku yang memukul Haris." Ibu mertua Lusiana itu hampir tak mempercayainya sebelum akhirnya Haris mengangguk tanda membenarkan perkataan Lucia.
Sontak saja Ibu Salma langsung berdiri dan hendak menampar Lusiana. Tapi sebelum itu Lusiana sudah menangkap tangan Ibu mertuanya. "Ibu berani menamparku. Apakah Ibu tidak takut tangan Ibu ini patah seperti milik Haris?"
__ADS_1
Wajah Ibu mertua Lusiana berubah pucat dan dia dengan cepat menarik tangannya yang sedang digenggam oleh Lusiana.
Lusiana pun melepaskan cengkraman nya pada Lusiana. "Da-dasar kau menantu tidak sopan." Suara Ibu berubah bergetar dan dia tiba-tiba saja gagap.
"Kita harus menelepon polisi! Iya telepon polisi." Ibu Salma segera merogoh ponselnya yang berada di kocek pakaian yang dia kenakan.
"I-ibu ja-jangan, Bu,"ucap Haris dengan tersendat-sendat karena menahan rasa sakit pada wajah dan lengannya.
"Kenapa tidak boleh menelepon polisi sekarang? Anak ini sudah membuatmu jadi begini tentu polisi bisa membereskan dia." Tak lupa Ibu Salma menunjuk pelaku pemukulan yang tidak lain adalah Lusiana.
"Ibu, kalau sampai media tahu pertengkaran antara aku dan Lusiana. Saham kita bisa anjlok dan bermasalah. Biarkan masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan saja."
Ucapan anaknya itu tak ayal membuat Ibu mertua Lusiana itu semakin marah dan kesal. "Dalam keadaan seperti ini pun kau masih memikirkan uang? Dasar anak bodoh," ujarnya dengan nada yang melemah.
Dia langsung menoleh pada Lusiana dan berkata, "Kau itu sangat jahat. Sebagai seorang istri bukannya berbakti kau malah memukuli suami. Bukannya sebaiknya kau menceraikannya saja, Nak?"
Ketika ucapan perceraian lolos dari mulut ibunya wajah Haris malah semakin memucat dan dia menggelengkan kepalanya dengan keras. "Tidak ibu, tidak akan ada perceraian di pernikahan ini." Hal itu membuat Ibu Salma semakin geram. Padahal mereka sudah memiliki segalanya.
Jika mereka membuang Lusiana pun tidak akan menjadi masalah karena usaha mereka dan perusahaan mereka berkembang pesat. Kehilangan seorang istri buruk rupa seperti dia tak akan jadi masalah.
Lusiana menonton mereka berdua berbicara. Dia beranggapan drama mereka seperti yang dia tonton di televisi. Lusiana seolah-olah berperan sebagai orang jahat disini padahal sebaliknya.
"Apa yang kau lihat hah? Sebagai seorang dokter bukankah harusnya cepat merawat orang yang sedang sakit?" Teriak Ibu Salma pada dokter Aryasetya yang berdiri di belakang Lusiana.
"Tolong periksa suami saya dokter!" Pinta Lusiana pada dokter Arya dibelakangnya. Awalnya Haris ingin menolak tapi saat melihat tatapan dingin Lusiana dia menjauhkan pikiran itu dan menerima perawatan dokter Aryasetya dengan baik. Ibu mertuanya pun diam tak berkomentar lagi.
Chika yang baru saja pulang dari jalan-jalan bersama temannya pun berlari menghampiri Haris dan bertanya tentang luka yang diperolehnya tapi tak ada seorang pun yang menjawab.
"Kakak siapa yang tega berbuat begini pada kakak biar kita panggilkan preman untuk memukulinya." Ucapan dari Chika membuat punggung Ibu Salma dan Haris merinding.
__ADS_1