Putra Janda Kaya Mencari Papa

Putra Janda Kaya Mencari Papa
Bab 28


__ADS_3

Rumah megah nuansa modern dengan gerbang besar yang setinggi 3 orang dewasa terbuka lebar secara otomatis. Lusiana berkata pada Raymond. "Sekarang inilah rumah kita!"


Raymon kagum dengan rumah besar yang memiliki pekarangan rumah yang luas itu. Di depan rumah megah mereka terdapat sebuah air mancur yang besar dan beberapa tanaman bunga mengelilinginya.


Di bagian kiri sisi rumah terdapat tempat untuk menyimpan mobil-mobil dengan bagian atapnya yang transparan. Di perkirakan muat hingga 10 mobil.


Bagian kanan sisi rumah di tumbuh beberapa rumput dan bunga serta taman yang sudah dirapikan.


Mereka tiba di depan teras rumah. Supir membantu mereka untuk menurunkan barang-barang. "Wah, Ma! Rumahnya bagus sekali. Lebih indah dari rumah kita sebelumnya,"puji Raymond atas rumah mereka yang baru.


Tentu saja. Lucia merogoh hampir setengah penghasilan tahunannya untuk membeli rumah ini. Sama seperti impian Raymon untuk tinggal berdua saja dengan Mamanya.


Rumah tiga lantai itu terlihat sangat besar. Saat mereka memasuki rumah langsung di sambut dengan ruang yang sangat luas di hiasi lampu gantung.


Di depan mereka ada sebuah tangga besar untuk naik ke lantai 2 dan 3. Ke arah kanan ruang tamu dengan view taman yang cantik. Jika terus ke lorong yang ada agak di belakang tangga maka akan menemukan 4 buah kamar dan powder room untuk tamu.


Di sebelah kiri tangga ruang keluarga dan meja makan dengan view kolam renang. Di sana juga terdapat dapur kering dan dapur basah.


Lorong di belakang tangga berisi beberapa ruangan. Ada 2 buah kamar tidur dengan 2 toilet dan kamar mandi. Ruang menyimpan alat bersih-bersih dan menjemur juga ada di sana.


Untuk kamar pembantu Lusiana menyiapkan bangunan terpisah seperti rumah lama.


Di belakang rumahnya terdapat perkebunan dan hutan yang luas. Butuh Pak Paijo untuk membersihkan kebun tersebut.


Pada lantai 2 juga terdapat ruang bersantai dengan TV. Ada ruang baca yang penuh buku-buku dan rubik yang akan menjadi ruangan favoritnya.


Ada ruang teater untuk menonton film, serta 3 buah kamar tidur.


Di lantai 3 terdapat dapur mini ruang keluarga, dan rooftop. Tidak lupa juga ruang untuk gym sudah di penuhi alat-alat berat yang pemandangannya langsung menghadap ke kolam renang yang ada di bawah. Ada 2 kamar tidur di lantai tiga.


Raymond memutuskan memilih kamar di lantai 2 begitu juga dengan Lusiana yang memilih lantai yang sama.

__ADS_1


Pada sore hari ke empat asisten rumah tangga itu tiba di rumah Lusiana. Mereka kembali tercengang melihat rumah yang begitu besar.


"Bu, kalau segede ini rumahnya saya gak sanggup bersihkan sendirian deh, Bu," ucap Saryah yang kini bertugas sendirian selama Irene pulang kampung untuk sementara.


"Tenang aja saya udah telepon yayasan buat nambah beberapa asisten rumah tangga yang lain. Yaudah ikuti saya ke tempat tinggal kalian!"


Lusiana diikuti oleh empat pembantunya pindah ke belakang. Ada sebuah bangunan dengan dua lantai yang cukup besar.


Di dalamnya terdapat 20 kamar. 10 lantai kamar bawah dan 10 kamar lantai atas. Ada kamar mandi dan toilet di setiap lantai kamar.


Di belakang bangunan sudah disediakan dapur, tempat mencuci baju, dan gudang.


"Nah semuanya silahkan pilih kamar kalian ya? Owh iya semua barang barang Irene juga ikut di pindahin kan?"


"Udah, Bu," ucap Saryah. Karena dialah yang mengemaskan barang-barang milik Irene.


Irene yang masih ada di kampung dan mendapat kabar bahwa mereka harus pindah malah kesal.


Bagaimana tidak kesal? Uang 50 juta cuma satu kali dia terima. Untuk selanjutnya bagaimana? Apa Tuan Haris dan dia akan mengakhiri hubungan mereka begitu saja?


Dia akan bertugas sebagai mata-mata. Haris mengatakan bahwa dia tetap akan mendapat bulanan sama seperti sebelumnya bahkan Haris akan menambahkannya jika dia memerintahkan Irene untuk melakukan sesuatu.


Mereka juga akan tetap rutin berhubungan jika Haris membutuhkan.


Erick kakak Lusiana segera menelepon dia saat sudah di jakarta. "Lusiana, apa kau ada di rumah, aku mau menjenguk keponakanku. Aku membelikan dia banyak sekali hadiah."


"Kakak aku sudah tidak tinggal di rumah itu lagi."


Erick heran dengan sedikit mengernyitkan dahinya. "Kenapa? Apa yang sudah terjadi? Apa kau sudah menceraikan suamimu?" tanya Erick dengan nada menggoda seperti biasanya.


"Iya kak, aku sudah menceraikannya," terang Lusiana.

__ADS_1


"Apa?" Teriakan Haris membuat orang-orang di bandara yang berada di sekitarnya kaget dan melihat sinins ke arahnya.


"Kau serius bercerai?" tanya Erick dengan nada suara yang antusias dan senang. Tentu saja dia senang karena akhirnya Lusiana bisa membuka mata dan melihat diri sejati Haris.


Pria brengsek seperti lintah menghisao darah yang hanya ingin menumpang hidup pada Lusiana.


"Ya kakak benar, selama ini aku hanya menutup mata saja. Makanya kalau mau dengar lengkap ceritanya, kakak cepat datang kemari!"


"Baiklah! Baiklah aku akan segera langsung kerumahmu! Kirimkan alamatnya bila perlu share lokasi!"


Erick menutup teleponnya. Tidak lama setelah itu dia meninggalkan bandara dan menuju alamat rumah yang telah diberi tahu oleh Lusiana melalui pesan whatsapp.


Setelah tiba di sana Erick dan melihat keberadaan Raymond di ruang makan.


"Paman!" teriak bocah kecil itu sambil berlari menuju pelukan Raymond.


"Paman, kemana saja? Raymond lama tidak melihat paman," keluh Raymond. Sebenarnya karena dia terlalu sibuk sehingga belum bisa menemui Raymond.


Tapi setelah baru saja pulang dari luar negeri, Erick segera datang untuk melepaskan rindu.


"Ehm jadi Raymond marah pada paman? Padahal paman membawa hadiah berupa buku dan rubik yang paman beli dari sana," sesal Erick sembari mengeluarkan barang-barang yang dia belikan untuk Raymond.


Mata bocah kecil itu bersinar saat mendengar perkataan Erick. Dia segera meraih hadiah tersebut. "Tentu saja Raymond tidak marah."


Senyum manis tersungging di pipi bocah kecil itu membuat hati Erick terasa nyaman. Dia tak mau lagi mempermainkan Raymond dan segera memberikan hadiahnya.


"Terima kasih paman!" Raymond segera meletakkan hadiahnya tidak jauh dari meja makan dan mencium pipi Erick sebagai tanda terima kasih.


Lusiana yang baru turun dari tangga segera menyapa kakaknya. "Kakak pasti sudah lelah, bagaimana mau makan atau istirahat dulu?"


Erick lebih memilih makan bersama Raymond dan Lusiana baru akan beristirahat sebentar dirumah mereka yang baru ini.

__ADS_1


Saat makan Erick bertanya pada Lusiana. "Apa kau tidak mau kembali ke rumah ayah dan ibu?" Setelah bicara seperti itu wajah Lusiana terlihat lesu.


"Siapa yang tidak mau kembali ke sana? Aku hanya takut ayah tidak mau menerima aku dan anakku," ujar Lusiana saat melihat anaknya makan dengan lahap.


__ADS_2