Putra Janda Kaya Mencari Papa

Putra Janda Kaya Mencari Papa
Bab 15


__ADS_3

"Tidak kak. Jangan diberikan."


"Kenapa?" Tanya Erick penasaran. Dia bahkan bangkit dari kursinya dan berdiri di depan jendela sembari menikmati pemandangan dari lantai 48.


Kepulan asap keluar dari mulutnya setelah dia menghisap batang berisi tembakau itu.


"Bisakah kakak membantuku mengambil alih proyek itu atas nama kakak? Aku yang akan membiayai proyeknya. Keuntungan bisa kakak atur."


Senyuman tersunging dari Erick dengan sinis. "Tumben sekali adikku ini tidak mau membantu suaminya. Apa sudah ada keinginan untuk bercerai?" ujar Erick pada adiknya dengan nada menggoda.


"Kakak! Berhentilah untuk menggodaku saat kita sedang bicara bisnis!" sergah Lusiana dengan suara yang cukup tinggi hingga membuat Erick menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Baiklah, baiklah. Aku akan menuruti semua keinginanmu." Erick adalah satu-satunya Kakak laki-laki Lusiana. Meskipun dia kerap kali selalu menggoda dan meledek adiknya, dia adalah kakak terbaik yang pernah ada dan paling bisa dipercayai.


"Kalau begitu aku akan segera mengirim uangnya ke rekening pribadimu, Kak. Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya."


"Eh, tunggu sebentar. Bagaimana kabar keponakanku? Kirimkan semua foto-foto terbarunya untukku ya!" desak Erick pada Lusiana untuk secepatnya mengirim foto terbaru bocah kecil lucu itu.


"Iya, sudah ya." Lusiana langsung menutup telepon dan segera mengirimkan uangnya.


Lusiana mengirim pesan whatsapp tentang bukti pengiriman uang yang di lakukan oleh bank langsung menuju rekeningnya. Tidak lupa dia juga mengirim 20 foto terbaru Raymond pada Erick.


Tring!


Tring!


Tring!


Bunyi pesan whatsapp terdengar dari ponsel milik Erick. Dia segera membuka semua foto yang di kirimkan oleh Lusiana dan tersenyum saat memperbesar satu persatu foto keponakannya itu.


Meski Lusiana tidak berkomunikasi dengan ayahnya, dia tetap berkomunikasi dengan Erick. Satu-satunya yang mau menerima pernikahan mereka adalah Erick walau itu terpaksa dan hampir terjadi baku hantam saat itu.


Rasa sayang Erick pada Lusiana mengalahkan ego dan kebenciannya pada Haris, pria bajingan yang berani-berani menghamili adik satu-satunya.


Wajah tampan Erick semakin terlihat melembut tatkala melihat Raymond yang sangat imut.

__ADS_1


Mereka sudah pernah melakukan video call atau pun bertemu sesekali.


Sayangnya karena sibuk menghandel perusahaan ayahnya dia jadi sangat jarang berkomunikasi dengan Raymond dan hanya bisa melihat fotonya sesekali.


Masih teringat dalam benaknya keadaan Lusiana saat membawa anaknya ke rumah sakit ditambah dengan ketidakpedulian Harus pada adik dan keponakannya.


Terjadi baku hantam yang sengit hingga Haris memohon ampun pada Erick dan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan yang mengabaikan istri dan anaknya.


Erick bahkan hampir pergi ke pengadilan agama untuk membawa Lusiana bercerai dengan pria bajingan itu tapi, Lusiana menolaknya mengingat bahwa Raymond masih membutuhkan sosok ayah.


Kring!


Kring!


Telepon kantor berbunyi lagi dan membuyarkan lamunan Erick. Dia menyimpan ponsel di atas meja dan kembali sibuk berkutat dengan pekerjaannya.


Di suatu tempat lain. Sebuah perusaan megah dengan 80 lantai di ruangan VIP milik Chief Executive Officer atau yang sering di singkat dengan CEO.


Seorang wanita memunguti pakaiannya dan masuk ke dalam toilet. Saat wanita itu berkemas, suara bariton milik seorang pria memperingatinya.


"Ingat untuk merahasiakan hal ini! Jika sampai tersebar, aku akan memastikan kau dan seluruh keluargamu masuk dalam liang kubur yang sama!"


Pria dengan tubuh atletis itu mengenakan kemeja dan jas yang sudah berantakan dan agak kusut. Muram dan aura gelap di wajahnya menandakan bahwa dia sedang sangat marah.


Dia hanya bisa mendongakkan kepalanya dan mendesah berat. Pria dengan rambut gelap itu memegangi dahinya yang terasa agak pusing yang mungkin diakibatkan oleh kemarahannya sendiri.


Xavier Fernandio. Pria berusia 30 tahun yang memiliki kulit putih dengan tampilan wajah khas Eropa dan sedikit Asia Timur. Dia memiliki struktur wajah dengan rahang tegas dan alis tebal serta hidung yang mancung membuat ketampanannya tidak lagi diragukan.


Tubuhnya yang atletis selalu menjadi kebanggaan. Setiap pria atau wanita yang melihat pasti akan tertarik. Tapi dia memiliki masalah sekarang.


Bagian bawahnya tidak bisa tegak. Barusan adalah wanita penghibur kelas atas yang dia undang untuk membangkitkan gairahnya. Tidak hanya satu tapi dia sudah mencoba berkali-kali tapi tak ada hasil.


"Sial, kenapa bisa jadi begini? Dan kapan ini akan berakhir?" teriaknya frustasi. Xavier Fernandio pria yang terkenal kegagahannya sejak lima tahun lalu tidak bisa lagi menyalurkan hasrat yang biasanya orang normal bisa lakukan.


Dia telah melakukan berbagai cara baik itu memanggil wanita atau pria penghibur. Tidak ada yang berhasil untuk menaikkan hasratnya. Dia juga sudah mengunjungi dokter dan berkata bahwa kejantanannya sehat dan normal.

__ADS_1


Dokter psikolog bilang kemungkinan hal itu terjadi karena suatu ingatan tentang peristiwa yang berada jauh di bawah alam sadar Xavier yang membuatnya tidak bisa bercinta.


Bunyi telepon membuat perhatian Xavier teralihkan. Dia mengangkat telepon itu dan si penelepon mengingatkan berbagai jadwal meeting yang akan dia lalui.


"Xavier apa kau akan terus membuat orang-orang tua itu menunggu?" ucap Hendri Wicaksono salah satu sekretarisnya yang sangat ketat akan jadwal meeting walau pun dia sedikit ceroboh.


"Tutup mulutmu dan tunggu aku selesai berganti pakaian!" hardik Xavier pada Hendri yang diiringi dengan suara telepon yang ditutup.


"Bosku yang satu ini memang tidak pikir-pikir kalau mau berhubungan. Setiap hari bergonta-ganti pasangan. Apa tidak takut terjadi masalah kesehatan?"


"Selain itu baik pria mau pun wanita dia hantam juga." Sebuah kesalahpahaman tercipta karena perilaku Xavier.


"Dia bahkan membuat orang-orang direksi menunggu selama 2 jam. Jangan sampai Bos juga tertarik padaku. Aku tidak bisa membayangkannya." Hendri bergidik ngeri dan merasa seluruh tubuhnya merinding.


Setelah menunggu beberapa menit, Xavier keluar dari ruangannya dan berpenampilan rapi. Dia mengenakan kemeja putih dan Jas serta celana berwarna biru dongker. Tidak lupa dasi berwarna senada juga terpasang dengan rapi.


Setiap langkah mereka untuk turun ke ruang direksi, orang-orang selalu terpana dengan bosnya dan menyapa ramah Xavier meskipun tak ada tanggapan dari pria tampan itu.


Saat rapat telah usai pun orang-orang akan menyapa Xavier dengan penuh rasa hormat.


"Bacakan jadwal meeting ku besok!" perintah Xavier pada Hendri yang setengah berlari mengejar nya dari belakang karena Xavier berjalan sangat cepat.


"Besok adalah rapat dengan perusahaan milik Mario Winka Atmaja yang diwakilkan oleh putranya untuk membahas pembangunan jalan tol."


Xavier berhenti sejenak dan berpikir. "Oh Winka Atmaja Corporation?" Dijawab oleh anggukan dari Hendri.


"Benar ayah dari Erick dan gadis yang pernah hampir dijodohkan dengan anda waktu itu."


"Apa kau masih menyimpan foto gadis itu?" Hendri merasa bahwa Bos nya ini akan memakan gadis lain lagi.


Setelah mencari dalam waktu yang cukup lama. Hendri berhasil menemukan foto Lusiana. Dia segera memberikan foto wanita itu dan keluar dari ruangan VIP milik Xavier.


Saat dia mengambil foto itu dan menatap wajah wanita yang ada di sana, dia cukup merasa kagum akan kecantikan dan kemolekan tubuh Lusiana.


Tiba-tiba reaksi dari bagian bawahnya mulai terasa. Bagian itu mengeras hanya karena melihat foto wanita berambut hitam panjang mengenakan dres merah setali yang cukup seksi.

__ADS_1


Teriakan Xavier menggema hingga Hendri datang terburu-buru. "Berikan aku semua informasi mengenai Lusiana Winka Atmaja. Sekarang!"


Teriakan Xavier pada Hendri berhasil membuat pria muda itu berlari tunggang langgang keluar dari ruangan Xavier.


__ADS_2