RAHASIA ALITA

RAHASIA ALITA
Bab 11


__ADS_3

"Pak Adul, ini kopinya. Sama aku bikinin gorengan nih."


"Wahhh Neng Al baik banget. Makasih ya Neng."


Alita ceria setelah Arkan mengatakan akan menyelesaikan urusan Pak Burhan yang terus mengejarnya.


Rasanya satu beban hidupnya berkurang. Ia tidak mengerti segitu terobsesi nya pria tua gendut beristri itu padanya.


Ada mobil berhenti di depan rumah.


Bergegas Pak Adul membukakan gerbang.


"Eh Mas Firas tuh?" Alita langsung memburunya.


Firas keluar dari mobil.


"Mas Firas, malem ini Mas mau ke rumah Bu Sofie? Aku bikin cemilan. Kalo Mas mau ke sana, aku titip bawa buat Bu Sofie."


Firas tersenyum. "Mama lagi ke luar kota, Al. Minggu depan baru pulang."


Alita mengerucutkan bibir. "Yahh... Batal deh."


"Nanti aja kalo Mama pulang, bikinin makanan enak buat Mama. Mama suka masakan lo."


"Oke deh, Mas. Nanti kalo Bu Sofie pulang, jangan lupa Mas kasih tau aku. Biar aku bikinin makanan buat Bu Sofie."


Firas menelisik wanita polos di depannya.


"Tuan Arkan ada di ruang kerja. Mas mau minum kopi? Nanti aku anter ke ruangan ya." Tanpa menunggu jawaban, Alita bergegas ke dapur membuatkan minum.


"Arkan,.."


Arkan mendongak dari berkas-berkas yang sedang diperiksanya. Keningnya keriting melihat Firas seperti waspada lihat kanan kiri.


"Ada apaan? Kok lo cemas?"

__ADS_1


Firas duduk di hadapan Arkan.


"Gue dapet info penting. Tentang Alita."


Arkan menatap Firas yang seperti tegang. "Ada apa?"


***


Aura dingin menyergap ketika Alita masuk ruang kerja Arkan membawa dua cangkir kopi dan dua piring pisang coklat keju.


Alita mendadak berdebar melihat dua pria itu menatap ke arahnya.


"Tuan, saya bawakan kopi dan cemilan." Ia hanya menunduk membawakan nampan dan meletakkannya di meja.


"Saya permisi." Baru Alita mau berbalik, suara berat Arkan menegurnya.


"Duduk. Ada yang mau saya tanyakan."


Kenapa Tuan seperti sedang marah? Batin Alita jadi takut.


"Kenapa kamu bohong?" Pertanyaan pertama Arkan membuat Alita mendongak takut-takut.


"Bohong apa, Tuan?"


"Mengenai hutang. Pak Burhan bilang hutang itu sudah lunas."


Alita kaget dan memilin-milin bajunya, keringat dingin mengucur.


"Saya pikir waktu itu Pak Burhan hanya berbicara asal karena khawatir saya laporkan istrinya ke polisi. Padahal saya nggak akan bisa melakukan itu karena kuasa istrinya Pak Burhan yang terlalu besar. Saya kira setelah itu Pak Burhan berhenti mengejar saya, namun dia malah makin mengejar saya. Bahkan saya berpindah tempat menghindar dari dia," jelas Alita runtun, dengan bibir bergetar karena takut.


"Kapan lo dianiaya istri Pak Burhan?" Tanya Firas.


"Malam tahun baru. Saat itu saya kerja di bakery sampai malam. Sebelumnya saya sempat dilabrak Bu Ina karena kedapatan diantar Pak Burhan waktu saya terluka terserempet. Saat itu saya tidak punya pilihan dan setuju diantar. Pak Burhan mencoba melecehkan saya di mobil, ketika tiba-tiba Bu Ina datang dan mencoba melukai saya namun dihalangi dan saya kabur." Alita menarik napas sejenak, air matanya menetes mengingat.


"Malam itu, sepulang kerja, tiba-tiba saya didatangi Bu Ina. Bu Ina mengancam akan mencelakai saya jika masih dekat dengan suaminya. Saya sudah mencoba menjelaskan saya tidak ingin dekat dengan Pak Burhan. Tiba tiba saja saya dijambak dan dicakar. Luka saya cukup parah. Saya juga dipukuli sampai pingsan. Sadar sadar saya di rumah sakit, Pak Burhan datang. Saya ketakutan namun Pak Burhan bilang minta maaf mengenai penganiayaan itu dan meminta jangan lapor polisi. Karena di seberang toko tempat saya diserang, ada CCTV yang merekam semua. Pak Burhan bilang hutang Tante Vira dinyatakan lunas asal saya melupakan kejadian ini."

__ADS_1


Arkan tidak menemukan nada kebohongan pada penjelasan Alita.


"Lalu lo tau Bu Ina sudah meninggal?" Tanya Firas membuat Alita terkejut.


"Bu Ina meninggal? Kapan?" Ia sama sekali tidak tahu wanita itu sudah meninggal.


"Malam hari Valentine. Mungkin lo inget sesuatu. Karena Pak Burhan bilang, dia ngejar lo curiga lo terlibat kematian istrinya karena ketika kejadian lo ada di lokasi."


Alita mengingat-ingat dan menggeleng. "Malam valentine, saya menjual bunga mawar di pinggir jalan. Saya bekerja sampai jam sepuluh malam. Tanyakan saja sama pemilik toko. Saya menyewa lapak jualan di depan tokonya. Dan saya terlalu lelah sehabis kerja, jadi saya langsung pulang tanpa memperhatikan sekitar."


Arkan dan Firas memperhatikan ekspresi wajah Alita yang polos tanpa unsur bohong.


"Apa Pak Burhan bohong?" Tanya Firas pada Arkan.


Arkan berpikir dan mengangguk. "Bisa jadi. Mungkin cuma alasan yang dibuat-buat untuk menekan Alita karena kebetulan Alita lewat lokasi kejadian, yang bahkan dia nggak tau ada Bu Ina yang tewas di sana."


"Ya sudah kamu boleh istirahat."


Alita mengangguk pelan. "Permisi, Tuan."


Begitu Alita meninggalkan ruangan, Firas menyenggol lengan Arkan.


"Lo ngerasa aneh nggak sih sama dia?"


Arkan terdiam. Sejujurnya banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan. Tapi sepertinya Alita kurang nyaman dan merasa terintimidasi jika ditanya sekaligus.


"Perlu gue selidiki?" Tawar Firas.


"Perusahaan lagi banyak proyek. Biar gue cari orang buat selidiki kasus ini. Gue rasa Alita nggak bohong."


Firas membenarkan, pekerjaan di kantor menumpuk tidak bisa ia tinggalkan.


Arkan teringat Faldo bekerja sebagai detektif swasta.


***

__ADS_1


__ADS_2