RAHASIA ALITA

RAHASIA ALITA
Bab 49


__ADS_3

Perlahan kondisi Alita membaik. Setelah melewati malam naas yang dia tidak ingat, Arkan lebih ketat menjaganya. Menjaga rumahnya.


Dan menyingkirkan semua orang yang membahayakan untuk keluarganya.


Pak Burhan dan anak buahnya dijebloskan ke penjara. Pak Burhan ngotot memberi pernyataan Alita membunuh istrinya.


Namun karena tidak ada bukti, pernyataan Pak Burhan tidak bisa diterima.


Dua pria yang ditembak Alita tewas begitu dibawa ke rumah sakit. Namun Alita tidak bisa ditangkap karena termasuk pembelaan diri.


Alita sendiri tidak ingat. Hanya terkejut melihat di kamarnya ada noda darah dan kondisi rumah berantakan.


Ia sadar dikuasai Athena lagi.


Athena muncul demi melindunginya.


Alita makin merindukan sosok Athena yang belum pernah ditemuinya.


Permintaan Athena membuat Arkan bekerja keras mencari dimana Athena dimakamkan.


Sepertinya itu satu-satunya cara Athena pergi dengan tenang. Athena hanya ingin memastikan Alita benar-benar aman dan bahagia.


Lanni dirawat di rumah sakit jiwa karena hilang kewarasannya. Ia terlalu takut karena disiksa secara brutal oleh Alita alias Athena.


Dan kali ini Andini dihalangi Rian untuk mengganggu Arkan lagi.


Karena yang dilakukan Lanni sudah kelewatan. Merampok, menyandera, dan menyakiti.


***


"Bu, diminum dulu obatnya." Suster membujuk Lanni yang berbaju pasien dan memainkan panci di kepalanya.


"Bagus nggak sus? Ini tiara penuh berlian dari suami aku.."


"Iya bagus banget Bu. Sekarang minum obat dulu."


"Iihh nggak mau, aku kan nggak sakit. Eh suami aku mau dateng kan? Pasti nanti bawain perhiasan mahal. Suster jangan sirik lho. Suamiku itu kayaaaaa banget. Eh aku harus dandan, harus keliatan cantik kalo suamiku dateng.."


"Iya kalo gitu pancinya copot dulu, Bu. Saya sisirin rambutnya."


"Enak aja panci! Suster buta ya?? Ini tuh tiara berlian! Mahal tau nggak?? Jangan pegang-pegang! Pasti suster pengen ambil tiaraku!"


"Kalau begitu minum obat biar nanti ketemu suami ibu, ibu seger badannya. Ini obat supaya muka ibu makin cantik lho."


"Bener sus?"


"Iya."


"Wah kalo gitu aku mau minum obat cantik nya."


"Iya ini minum dulu."


"Tambah lagi sus, obat cantik nya."


"Satu aja Bu Lanni udah cantik kok."


"Hehe emang aku udah cantik, makanya suamiku cinta mati."


"Ya udah saya sisirin rambutnya ya."


"Tapi jangan coba-coba ngambil tiara berlian punyaku lho!"


"Iya nggak akan."


Arkan ditemani Firas menatap miris kondisi Lanni. Suster menyisir rambutnya, Lanni memeluk panci dengan erat beranggapan itu tiara berlian yang diinginkannya.

__ADS_1


"Kasian Lanni," gumam Firas. "Dia bener-bener terganggu jiwanya. Malahan dia sering jerit-jerit liat bayangan hitam. Dia trauma parah setelah disiksa Athena."


"Gue nggak pernah ngira bakal jadi begini. Meski gue kecewa, tapi gimanapun juga dia pernah jadi istri gue, gue prihatin liat kondisinya sekarang. Kalau aja waktu itu dia mau nurutin gue untuk jangan ganggu Alita lagi, mungkin ini nggak akan terjadi. Kepribadian Athena itu kejam paling nggak suka ada yang berlaku nggak adil sama Alita. Akhirnya Lanni kena dua kali disiksa Athena. Dan kali ini lebih parah sampai dia sakit jiwa."


"Semoga Lanni jera, dan nggak akan ganggu Alita lagi."


"Bukan cuma Lanni, Ras. Gue nggak akan biarin siapapun nyakitin Alita lagi."


***


Siang ini Alita merasa sangat lelah, kandungannya makin besar dan diperkirakan lahiran hitungan hari.


Arkan terus menemani istrinya tidak membiarkan melakukan apapun sendirian.


Mandi, ganti baju, menyisir rambut, sampai gunting kuku. Arkan tidak membiarkan Alita kelelahan.


Bahkan ketika tiba-tiba Alita pusing sedang buang hajat di kamar mandi, Arkan sigap membersihkan tubuh istrinya tanpa jijik sedikitpun. Ia ingin anaknya di dalam kandungan merasakan ayahnya sangat mencintai ibunya, hingga kelak anaknya akan senantiasa mencintai kedua orangtuanya.


Ia sungguh menikmati detik-detik kehadiran bayinya, darah dagingnya. Penantian bertahun-tahun yang begitu ia dambakan.


"Sayang makan dulu ya, aku suapin." Arkan mengusap wajah Alita yang chubby dan pucat.


Alita cemberut begitu Arkan mencubit pipinya gemas. "Aku gendut ya jadi kamu gemes pengen cubit terus."


"Aku gemes istriku makin cantik," kata Arkan sambil membantu Alita duduk dan memperbaiki posisi bantal di punggungnya.


"Akhir-akhir ini tendangan baby nya nggak terlalu keras, sayang. Kenapa ya?" Alita mengusap perutnya yang sudah besar.


"Kan udah gede. Sempit kali sayang, makanya pengen cepet keluar." Arkan mengambil piring.


"Apa itu?"


"Nasi uduk, sama telur dadar dan tahu bacem kesukaan kamu."


Alita beringsut menegakkan duduknya meski sulit. "Aku mau tahunya."


"Tapi tahunya banyakin."


"Iya sayang.." Arkan makin gemas istrinya semakin manja.


Alita makan lahap, menjelang persalinan ia harus menjaga stamina agar persalinannya lancar.


"Sayang aku mau ke kamar mandi."


"Aku bantuin ya." Arkan menuntun Alita hati-hati.


"Sayang kamu nggak jijik bantuin aku bersih-bersih gini?" Tanya Alita tak enak hati.


"Ngapain jijik? Calon ibu dari anakku. Istri yang susah payah selama sembilan bulan mengandung anakku. Nggak ada kata jijik, sayang. Aku malah makin sayang kamu setiap detiknya."


Gombalan Arkan membuat Alita merona malu.


Begitu urusan kamar mandi selesai, Arkan menuntunnya keluar kamar.


"Mau ke mana?"


"Aku punya kejutan buat kamu. Tutup mata kamu sekarang."


Penasaran Alita menutup mata, melangkah hati-hati dituntun suaminya.


Tiba di sebuah kamar, ia membuka pintu.


"Pelan-pelan jalannya."


"Ke mana sih sayang?"

__ADS_1


"Sabar.."


"Udah ya aku buka mata."


"Iya sayang.."


Mata Alita terbuka dan terbelalak. "Sayang, ini...?"


"Gimana? Kamu suka, sayang?"


Alita menutup mulutnya, tak bisa berkata-kata.


Interior kamar tidur bayi yang dizdesain sangat elegan.


Dindingnya diberi cat biru langit, dengan dinding digambar dengan pemandangan langit. Ada awan, burung, matahari, bahkan gambar pesawat terbang.


Semua perlengkapan bayi sudah tersedia. Lengkap.


Box bayi, bouncer, stroller, dan banyak mainan.


Pakaian, kain flanel, popok bayi, sampai Pampers sudah memenuhi lemari.


"Sayang, ini cantik banget kamarnya!" Seru Alita kegirangan.


"Ini untuk menyambut buah hati pertama kita. Aku ingin kehadiran bayi kita istimewa."


Alita langsung memeluk suaminya. "Makasih ya sayang. Ini bagus banget."


"Kamu suka?"


"Suka banget." Alita melepas pelukannya dan mendaratkan ciuman bertubi-tubi di pipi dan bibir suaminya.


"Kita kan belum tau jenis kelamin bayi kita. Jadi aku pilih warna netral aja, kalau ada yang mau kamu tambahin bilang aja. Aku baru beliin baju bayi baru lahir. Kalau nanti anak kita lahir, kamu yang pilih bajunya."


"Iya sayang, ini..." Alita masih mengagumi kamar bayinya.


Arkan membiarkan istrinya memeriksa setiap barang di kamar bayinya.


"Semuanya barang branded. Kamu habisin berapa buat dekorasi kamar ini dan perlengkapannya?" Tanya Alita penasaran.


Arkan mengangkat bahu enteng. "Cuma habis 100 juta."


"100 JUTA!!!???"


"Belum seberapa kok, sayang. Aku bahkan udah siapin dana pendidikan anak kita sampai lulus S2."


Alita makin kagum pada suaminya yang begitu perhatian pada calon anak mereka.


"Ini mainan aku pesen yang terbaik." Arkan memegang mainan bayi, sambil tersenyum membayangkan anaknya.


Tiba-tiba..


"Aaakkkkhhh...." Teriakan Alita membuat Arkan menjatuhkan mainan yang dipegangnya.


"Alita! Kamu kenapa sayang??" Arkan panik memegang Alita yang kesakitan.


"Perut aku sakit!"


"Jangan-jangan kamu mau melahirkan!"


"Ini sakitttttt....!!!"


"Awwww... Iya iya sayang, sakit.. tahan ya.." Arkan kesakitan dijambak Alita.


"Kita ke rumah sakit sekarang!"

__ADS_1


Susah payah Arkan menggendong Alita yang kesakitan kontraksi.


***


__ADS_2