
Siang yang mendung itu Clara sungguh bahagia bisa berduaan dengan pria yang dipujanya.
Mereka makan di restoran.
Clara tak henti bicara, Arkan hanya berlagak mendengar padahal begitu malas meladeni pembicaraan yang tidak menarik minatnya.
"Daddy selalu mengaturku. Aku nggak boleh pergi tanpa sepengetahuan Daddy, dan wajib ada driver yang mengantar."
Arkan tidak mengerti letak masalahnya, hingga Clara membicarakan hal tidak penting.
Apa wanita blasteran itu kehabisan ide obrolan, hingga bicaranya belok kemana-mana.
"Clara, aku masih ada pekerjaan. Setelah makan kita bergegas ke hotel, aku ada janji."
Clara cemberut dan menyandarkan kepalanya di bahu Arkan, manja. "Tapi nanti malam, temani aku di kamar."
Glek.
Arkan merasa sulit menelan ludah sendiri mendengar permintaan (lebih tepat disebut perintah) gila Clara yang membuatnya bergidik ngeri.
Otaknya berputar memikirkan sesuatu untuk menghindar.
Hanya sekali kontak fisik saja Clara begitu terobsesi padanya. Padahal ciuman itu bukan kemauannya. Wanita manja ini yang terlalu agresif.
"Aku belum pernah making love dengan pria setampan dirimu, Arkan."
Final.
Arkan harus menjauhi Clara. Yang sudah terobsesi ingin tidur dengannya.
Ia malah ngeri dan takut menghadapi yang begini.
Namun karena status Clara yang anak investor utama perusahaan, ia harus putar otak memikirkan jalan keluar menghindar tanpa membuat masalah baru.
Arkan hanya menyunggingkan senyum palsu.
Ia memikirkan ekspresi wajah Alita barusan dan merasa bersalah sudah meninggalkannya.
Padahal Alita berdandan sangat cantik untuk pergi dengannya.
Namun karena Clara datang, Arkan harus mengingkari janjinya membuatnya dihantui rasa bersalah.
"Clara, aku harus pergi." Arkan jengah dengan agresifnya wanita ini. Tangannya sudah gerayangan ke pahanya terus menerus.
__ADS_1
Clara merengut dan senyum menggoda. "Baiklah, selesaikan pekerjaanmu. Aku akan pergi shopping saja. Nanti malam kita bertemu lagi."
Arkan hanya tersenyum getir.
Mereka menuju kasir.
"Lihat, Arkan. Hujannya deras sekali."
Arkan melihat keluar. "Benar. Kamu pergi saja biar supir mengantarmu."
"Bagaimana denganmu?"
"Tak usah dipikirkan. Hati-hati di jalan. Jangan belanja yang terlalu berat."
"Baik, Arkan. See you tonight.." Clara mengecup bibir Arkan sekilas lalu naik mobil yang berhenti depan restoran.
Arkan mendengus pelan dan mengusap bibirnya risih karena yakin lipstik tebal Clara menempel di bibirnya.
Ketika sedang membayar di kasir, Arkan terkejut melihat sosok berdiri di bawah pohon depan restoran.
Alita!
Berdiri di bawah hujan sambil menunduk.
***
"Alita.."
Alita tersentak dan mendongak. Wajah tampan Arkan terlihat cemas menatapnya.
"Kamu ngapain di sini?" Tanya Arkan memayunginya.
"Ma-maaf Tuan.." bibir Alita bergetar menahan dingin.
"Aku kan udah bilang tunggu di hotel. Pesan makanan di sana." Arkan jadi cemas.
"Tapi Tuan bilang mau ngajak saya jalan-jalan," kata Alita menggigit bibir menahan tangis.
Arkan tak habis pikir Alita malah mengikutinya sampai sini. Sampai basah kuyup.
"Kenapa kamu malah nyusul ke sini? Gimana kalo kamu nyasar? Kamu kan bisa telepon aku!" Omel Arkan saking cemasnya melihat kondisi Alita.
"Maaf Tuan.. saya cuma mau liat Tuan. Saya takut Tuan pergi ninggalin saya." Kata Alita jujur membuat Arkan terenyuh.
__ADS_1
"Alita, kamu jangan begini lagi. Aku nggak bisa bayangin kalau kamu sampai hilang di sini. Maafin aku udah tinggalin kamu sendiri. Maaf.." Arkan memeluknya erat, tanpa peduli tubuh Alita basah kuyup.
Tangis Alita pecah dan memeluk Arkan menumpahkan air matanya.
***
Sungguh nggak habis pikir kenapa Alita nekat. Kota yang asing untuknya.
Membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi pada wanita ini, membuat Arkan gemetar takut.
Takut wanita ini tersakiti lagi.
Apalagi ia begitu cantik dan terlihat polos.
Mereka tiba di hotel, bergandengan tangan.
Tubuh Alita masih basah dan menggigil kedinginan.
"Kamu mandi air hangat dulu. Setelah itu aku akan pesan makanan dan susu hangat." Arkan membukakan kamar Alita.
Alita enggan masuk dan menatap Arkan. "Tuan mau ke mana?" Tanyanya membuat Arkan mengerutkan kening.
"Aku di kamarku. Sepertinya aku juga perlu mandi dan ganti baju."
"Tuan nggak akan kemana-mana lagi?"
"Nggak akan. Aku nggak akan pergi kemana-mana."
"Bener?"
Arkan tersenyum gemas dan mengelus kepala Alita. "Aku janji. Kamu mandi dan ganti baju. Kan nggak mungkin aku temenin kamu mandi. Nanti aku temenin kamu makan. Oke. Buruan masuk, nanti kamu masuk angin."
Alita menurut setelah yakin Arkan nggak akan pergi kemana-mana.
Begitu pintu kamar tertutup, Arkan menarik napas dalam-dalam dan geleng-geleng kepala gemas melihat tingkah Alita.
Ia jadi merasa diutamakan. Itu membuatnya bahagia setelah sekian lama.
Tidak menyangka ART nya yang menyimpan banyak rahasia masa lalu yang kelam, bisa memberi sedikit warna bahagia di hidupnya.
Ia mulai merasa nyaman dan takut jika sesuatu yang buruk menimpa Alita.
Apa ia sudah jatuh cinta?
__ADS_1
***