
Hari ini cuaca cerah, entah kenapa Alita ingin sekali berjalan-jalan di taman kompleks.
"Lho Nyonya mau ke mana?" Tegur Bi Endah.
"Aku mau ke taman Bi. Jalan-jalan." Alita memakai sepatu.
"Bibi temenin ya?" Tawar Bi Endah.
"Nggak usah Bi. Aku nggak lama kok. Cuma pengen jalan-jalan aja. Bibi kan lagi bikin puding. Nanti aku pulang pudingnya harus udah jadi lho."
"Iya Nya. Nyonya hati-hati lho. Jangan lama-lama jalan-jalannya. Nanti Bibi dimarahin Tuan."
"Nggak akan. Aku cuma sebentar kok. Ya udah Bi, aku pergi dulu."
Alita melangkah keluar langsung dicegat Pak Adul.
"Lho Nyonya mau ke mana?"
"Jalan-jalan ke taman, Pak. Nggak lama kok."
"Nyonya hati-hati. Apalagi Nyonya lagi hamil."
"Iya Pak. Aku akan hati-hati. Pergi dulu Pak."
Sepanjang jalan, Alita begitu ceria menghirup udara dalam-dalam.
__ADS_1
Selama menikah, ia sangat jarang keluar rumah.
Apalagi begitu dirinya hamil, Arkan jauh lebih protektif menjaganya.
Sekarang kandungannya sudah mulai besar, sudah memasuki minggu ke-20 atau bulan kelima.
Justru kata dokter ia harus banyak bergerak terutama jalan kaki untuk memudahkan proses lahiran nanti.
Ia memasuki taman yang siang ini sepi. Lalu duduk sendiri di bangku taman.
Dipandanginya langit berawan cerah. Mendadak ia teringat Athena.
Meski ia baru mendengar tentangnya, sedikit demi sedikit ia mulai memahami keanehan yang dialaminya selama ini.
Ia akhirnya paham suara-suara yang sering didengarnya. Suara yang dikiranya hanya halusinasi. Ternyata itu suara Athena untuk memperingatkannya.
Athena yang sejak bayi lemah, hingga tak bisa bertahan. Namun Athena muncul kembali menjadi pribadi yang kuat melindungi saudara kembarnya.
Mengingat itu Alita tersenyum pedih. "Andai aku tau tentang kamu, Athena. Selama ini aku pikir aku hanya sendirian. Ternyata luka ini yang memisahkan kita. Maaf aku bikin kamu nggak tenang. Kamu jadi cemas melihatku lemah. Tapi sekarang aku udah bahagia. Aku punya Arkan yang sangat mencintaiku. Bahkan dia nggak malu nikahin aku yang udah kotor ini, di rumah sakit jiwa. Dia nggak peduli pahitnya masa laluku sama lelaki-lelaki gila itu. Bahkan sekarang kami akan punya anak. Andai kamu ada, pasti kamu ikut berbahagia."
"Permisi Mbak. Mau beli permen kapas?" Seorang pedagang permen kapas mendekatinya.
Mata Alita langsung berbinar. Sejak kemarin dia ingin permen kapas, hanya saja pagi ini Arkan ada meeting jadi belum membelikannya.
"Boleh. Berapa harganya?"
__ADS_1
"Cuma 15 ribu satu bungkus."
"Ya udah saya beli dua." Alita mengeluarkan uang dan menerima dua permen kapas.
Begitu pedagang itu pergi, Alita memandangi permen kapas berwarna pink dan biru.
Keningnya agak mengkerut warna permennya cukup aneh. Warnanya tidak rata.
***
"Gimana? Sukses?"
"Sukses Mbak. Mbak nya itu udah saya kasih permen yang Mbak suruh."
"Dimakan nggak sama dia?"
"Saya nggak lihat Mbak. Kalau terus saya lihatin, nanti khawatir Mbak nya curiga dan nggak mau makan permennya."
"Ya sudah. Ini bayaran kamu. Jangan lupa buang semua permen yang kamu bawa. Pergi dari sini jangan datang ke daerah ini lagi. Paham?"
"Baik Mbak."
Baru saja pedagang itu meninggalkan taman, sebuah mobil melintas dan berhenti di dekatnya.
***
__ADS_1