
"Lanni!"
Lanni yang sedang makan di restoran kaget melihat Arkan muncul.
"Eh honey.."
Arkan langsung duduk di depannya.
"Ada apa tiba-tiba ngajak aku ketemu? Pasti kamu mau ngajak aku rujuk ya?" Tanya Lanni percaya diri, Arkan langsung menggeleng.
"Aku mau peringatin kamu jangan pernah ganggu istriku lagi."
Lanni tertawa dibuat-buat. "Maksud kamu apa sih Kan? Aku liat istri kamu aja belum pernah semenjak dia kesetanan nyiksa aku. Gimana bisa kamu bilang aku ganggu dia? Dia coba fitnah aku kan?"
Arkan menatapnya tajam. "Aku udah tau perbuatan kamu. Kamu coba racunin dia."
"Aku? Racunin dia?" Lanni tertawa sinis dan meminum es tehnya sedikit. Namun Arkan menangkap kegugupan dari sikapnya.
"Ada buktinya. CCTV di taman udah ngerekam semuanya. Kamu suruh orang jual permen kapas yang beracun ke Alita. Di CCTV udah jelas kamu bayar orang itu, lalu permennya dibuang dan pedagang gadungan itu pergi. Tapi mobil kamu terekam CCTV. Dan begitu dilacak, mobil itu atas nama Papa Rian. Aku udah hubungi Papa Rian dan beliau bilang mobil itu kamu yang pake. Kamu nggak kapok juga ganggu aku."
Lanni jadi gelisah sudah ketahuan. Kenapa juga aku nggak sadar di sana ada CCTV? batinnya.
"Tujuan kamu apa sih?" Tanya Arkan dingin. "Kamu yang hancurkan pernikahan kita. Dan sekarang disaat aku udah bahagia dengan pernikahan keduaku, kamu coba hancurkan lagi."
"Karena aku nggak rela!" Seru Lanni marah. "Dia nikah sama kamu disaat kamu sudah sukses. Dia pake gaun mewah, perhiasan mewah, tiara penuh berlian, pesta mewah. Sedangkan aku? Dulu kita cuma akad nikah sederhana, bajuku juga standar banget cuma kebaya putih. Yang cuma seharga ratusan ribu. Sedangkan dia apa? Aku tau kamu menghabiskan ratusan juta untuk dia. Gimana bisa aku rela? Aku yang nemenin kamu dari bawah. Dan sekarang begitu kamu udah sukses, kamu..."
"Harusnya kamu introspeksi," potong Arkan jengah. "Kalau kamu sedikit sabar dan setia sama aku, nggak ada main sama lelaki lain, mungkin sekarang kita masih suami istri, dan kamu bisa kok nikmatin semua kemewahan. Tapi kamu khianati pernikahan kita. Kamu nggak berhak menikmati itu semua."
Lanni masih mau menyela namun Arkan mengangkat tangan. "Aku males debat sama kamu. Yang mau aku bilang, kalau kamu sekali lagi berulah, aku nggak akan tinggal diam. Jangan sekali-kali ganggu istriku lagi. Atau aku penjarakan kamu."
Setelah bicara begitu, Arkan meninggalkan restoran.
"Aarrgghh.." Lanni makin geram. "Kurang aj*r emang tuh pembantu! Aku nggak takut ancaman Arkan. Meski aku harus dipenjara, aku nggak akan rela perempuan gila itu bahagia bersama Arkan! Dia harus mati!"
Ia menghubungi seseorang. "Malam ini kita jalankan rencana. Kalau perlu ngebunuh, lakuin!"
***
Sepanjang rapat bersama para manager, Arkan terlihat gelisah.
__ADS_1
Ia merasa tidak enak hati.
"Lo kenapa, Kan?" Tanya Firas pelan. "Gelisah amat."
"Nggak tau gue. Perasaan nggak enak aja. Alita pasti baik-baik aja kan?"
"Bukannya hari ini Alita di rumah aja?"
Arkan mengangguk berusaha membuang pikiran buruk.
"Gue ngerasa Lanni belum nyerah. Dia bakal rencanain sesuatu. Gue kan tau dia orangnya dendam."
Firas agak cemas juga, mengingat kegilaan Lanni.
"Gue kuatir karena Alita juga sedang hamil." Arkan mengusap pelipisnya.
Ia mengulurkan tangan mengambil gelas, mendadak..
Prangg...
Semua mata tertuju pada Arkan yang gemetar karena menyenggol gelas hingga pecah.
Arkan memandang pecahan gelas, gemetar.
"Kan, mending lo coba telepon Alita." Kata Firas mencoba menenangkan. "Rapat kita tunda, Pak."
Arkan bergegas keluar ruang rapat, dan menghubungi Alita.
"Nggak dijawab-jawab." Ia mencoba beberapa kali, tidak ada jawaban.
"Coba telepon rumah." Kata Firas.
Ia mencoba menghubungi nomor rumah. Sama. Tidak ada jawaban.
Ia coba menghubungi Gina, sama. Tidak ada jawaban meski sudah berkali-kali menghubungi.
"Wah fix ini nggak beres. Gue harus pulang!" Arkan bergegas pergi, diikuti Firas.
***
__ADS_1
Mobil Arkan terhadang security kompleks.
"Ada apa?"
"Gawat Tuan, rumah Tuan dirampok."
"APA??"
"Penghuni rumah Tuan semua disandera. Saya sempat dipukuli mereka menerobos palang. Lalu diancam tidak melapor polisi kalau mau semua selamat. Bahkan sekeliling rumah Tuan dijaga orang bersenjata."
Arkan menahan emosi, cemas, takut bercampur jadi satu.
"Kan, gue bakal hubungi polisi dengan jelasin situasi. Mereka pasti punya cara bebasin semua sandera. Lo nggak usah takut, sekarang lo ke rumah aja, Alita butuh lo."
Arkan mengepalkan tangannya, dan turun dari mobil. Ia harus mendekat hati-hati.
Ia baru ingat CCTV di rumahnya bisa dia pantau di HP.
Bergegas ia periksa.
Emosinya meninggi melihat Pak Adul diikat di pos satpam dengan kondisi babak belur.
Di ruang tengah, Alita diikat dan duduk di sofa. Begitu juga Gina diikat dan sudah babak belur. Bi Endah pun tidak luput, diikat juga.
"Gila! Semua jadi sandera! Bener-bener cari mati mereka!" Geram Arkan emosi.
Melihat dari CCTV diperkirakan lebih dari sepuluh orang yang menerobos rumahnya.
Pantas saja Gina kalah. Meski dia jago bela diri, melawan pria-pria bertubuh jauh lebih besar darinya jelas kalah.
Melihat salah satu pelakunya membuatnya makin panik.
"Bener kan kata gue, Lanni pelakunya!"
Ia tak habis pikir mantan istrinya segitu gilanya sampai menyandera seisi rumah.
"Gue harus nyusup dari jalan belakang!" Arkan mencari jalan karena depan rumah sudah dijaga tiga orang bersenjata.
***
__ADS_1