
Di ruang VIP sebuah club.
Tiga lelaki dan satu wanita sedang berkumpul minum-minum sambil merokok.
Tampak Riga dan Lanni sedang berangkulan sambil minum alkohol.
"Ada apaan? Tumben lo ngajak ketemu?"
Riga meneguk minuman. "Gue lagi bete. Br*ngsek emang si Arkan! Udah bikin gue malu di depan semua."
"Adiknya Arden maksud lo?"
"Iya. Mantan suami pacar ni kalo cerai. Ini Lanni nggak dikasih apa-apa. Makanya gue terobos mau ambil sertifikat sanggar Lanni buat digadai."
Lanni menuangkan minuman di gelas. "Mantan suami yang kurang aj*r. Dia nggak kasih apa-apa setelah cerai."
"Lagian lo selingkuh sama saudaranya."
"Tau. Jadi sengsara kan lo berdua."
Riga meletakkan gelas dan menatap keduanya. "Eh gue kumpulin lo berdua di sini, karena gue mau kasih info penting sama lo."
"Info apaan?"
"Lo Inget nggak cewek simpanan Arden yang waktu itu kita gilir di apartemen Arden?"
Yap.
Riga mengumpulkan kembali teman-teman b*jingannya yang sudah melecehkan Alita.
Zen dan Ergi.
"Oh dia.. mana bisa gue lupa, asli baru kali itu gue ngerasain yang mantep banget." Zen mengingat kejadian tiga tahun lalu.
"Iya walau gue kebagian terakhir, tapi nggak kehabisan enaknya." Tambah Ergi.
"Nah tu cewek sekarang jadi ART di rumah adiknya Arden." Perkataan Riga membuat Zen dan Ergi tercekat.
"ART?"
"Bahkan dia ngakunya sama keluarga kalo Alita itu calon istrinya."
Lanni mengepulkan asap rokok dan menatap ketiganya. "Gue ada ide. Lo semua mau ngerasain dia lagi?"
__ADS_1
Zen dan Ergi mengangguk semangat.
"Kita culik dia. Gue nggak rela dia gantiin posisi gue sebagai istri Arkan. Gue kalah sama ART kayak gitu. Dia harus dikasih pelajaran."
Semua langsung setuju dan menyusun rencana.
***
Tepat jam makan siang, Arkan memasuki restoran sambil celingukan.
"Arkan! Di sini!"
Arkan menoleh dan bergegas mendekat. "Sorry lama nunggu"
"On time kok. Eh kenalin ini Veni tunangan gue."
Faldo memperkenalkan wanita cantik berambut sebahu dan berkacamata.
Mereka bersalaman.
"Veni."
"Arkan."
Mereka duduk bertiga.
"Berarti bener kan Bang Arden waktu itu selingkuh?"
Arkan terdiam. Tadinya ia ingin menyembunyikan menjaga perasaan Faldo. Tapi naluri detektif Faldo mengorek semua informasi yang dicarinya.
"Iya, Do. Gue juga baru tau kalau Alita dulu jadi selingkuhan Bang Arden. Dia aja nggak tau Bang Arden udah nikah."
"Masuk akal kalau begitu. Tapi yang mau gue bahas sama lo bukan ini."
Alis Arkan mengangkat. "Jadi?"
"Sayang, bisa tolong puter videonya." Kata Faldo pada Veni yang membawa laptop.
"Iya." Veni membuka laptop dan mencari-cari sesuatu.
"Ini."
Arkan melihat video seperti parkiran basement.
__ADS_1
"Apa ini?"
"Ini rekaman video dari basement apartemen Bang Arden. Sehari dan tepat waktu kecelakaan maut Bang Arden dan Kak Laudya." Kata Faldo membuat Arkan kaget dan memperhatikan.
"Lo liat sendiri. Gue yakin Alita itu nggak bohong tentang dia nggak tau jadi selingkuhan. Dan bener malam itu dia pergi dari apartemen dengan kondisi berantakan."
Ia ingat Alita cerita Laudya menyerangnya karena marah. Dia dipaksa pergi dari apartemen.
Di video, Alita jalan tertatih-tatih dengan wajah pucat dan rambut berantakan, membawa tasnya. Benar dia terusir.
Video selanjutnya diputar.
"Ini rekaman besoknya. Tapi ada yang aneh di sini. Ada orang aneh berbaju teknisi listrik. Dia pakai topi. Dan dia ke arah pojok basement tempat mobilnya Arden diparkir. Untuk beberapa menit, entah kenapa rekaman CCTV terputus seperti ada yang merusak. Setelah itu rekaman CCTV normal lagi dan orang aneh itu buru-buru pergi dari basement. Dan lo liat hasilnya, baru jalan mobilnya Bang Arden, udah keliatan ada yang ngerusak mesinnya."
Memang baru di basement saja mobil Arden terlihat terseok-seok tidak seimbang.
"Jadi menurut lo kecelakaan itu ada yang ngerencanain?"
Faldo mengangguk.
"Tapi siapa yang tega ngelakuin itu?"
"Alita mungkin."
Arkan menggeleng. "Dia terlalu lemah untuk hal begitu. Gue yakin bukan dia."
"Atau ada orang lain yang bantu dia." Veni yang sejak tadi diam angkat suara.
"Orang lain?"
"Aku udah denger semua dari Faldo. Dan aku mau ngajuin untuk selidiki masalah ini, Kan. Karena aku punya kecurigaan besar."
Arkan mengerutkan kening. "Kalian berdua detektif?"
"Gue detektif. Veni bukan."
"Lalu?"
Veni memberikan kartu nama.
Mata Arkan membulat melihat kartu nama dan memandang Veni dan Faldo bergantian.
"Ijinin aku selidiki isi rumah kamu, Kan."
__ADS_1
Arkan bingung, keraguan mulai menyusup.
***