
"Arkan..."
Suara lembut itu membuat Arkan bangun, mengerjapkan mata. Dalam keremangan cahaya, ia melihat seseorang duduk di ranjangnya memandanginya.
Arkan mau menyalakan lampu di meja namun tangannya ditahan.
"Ssssttt .. aku merindukanmu, Arkan..." Sentuhan lembut di wajahnya membuat akal sehatnya goyah lagi.
Sudah pukul 2 dini hari. Wanita itu datang lagi mengenakan baju seksi, tubuhnya harum memabukkan, bibirnya merah menyala amat menggoda.
"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu selalu datang?" Tanya Arkan membelai wajah wanita bernama Athena yang membuatnya tergila-gila.
"Aku Athena yang mencintaimu dan rela memberikan semua untukmu, Arkan.."
Mungkin normalnya ia harus berpikir ini gila, meladeni seseorang yang mungkin tidak ada.
Namun, ini terlalu indah untuk dilewatkan.
Mereka melewati malam panas bersama lagi dalam kegelapan.
Niat Arkan ingin mencari tahu tentang wanita misterius ini, mendadak ia lupa diri begitu dengan agresifnya wanita itu memanjakan seluruh sudut tubuhnya dengan permainan lidah.
***
Pagi-pagi sekali Alita naik ke lantai dua, hendak membuka gorden.
Melewati kamar Arkan, langkahnya terhenti.
"Kok pintunya ga ditutup?" Pintu kamar terbuka sedikit.
Matanya mengarah ke lantai, dan menyipit. "Apa itu?"
Ia memungut benda di depan pintu kamar Arkan.
"Anting siapa ini? Kok bisa jatuh di sini?"
Lagi bingung gitu, pintu kamar terbuka lebar.
Tampak Arkan dengan wajah bangun tidurnya, hanya mengenakan celana pendek.
__ADS_1
"Eh Tuan, udah bangun." Alita agak malu melihat majikannya bertelanjang dada. Ia gugup karena Arkan begitu tampan.
"Ngapain di sini?" Tanya Arkan dengan suara serak khas bangun tidur.
"Saya mau buka gorden, Tuan. Tapi saya liat pintu kamar Tuan nggak ditutup. Terus di lantai saya nemu ini." Alita memberi anting yang ditemukannya.
Arkan mengamatinya dan terkejut. Ini kan anting milik Athena!
"Ini punya siapa, Tuan?" Tanya Alita. "Tadi saya nemuin tepat di depan pintu kamar Tuan."
Tanpa menjawab, Arkan masuk kamar dan menutupnya.
Alita angkat bahu dan bergegas membuka gorden agar sinar matahari masuk.
Setelah itu bergegas ke dapur menyiapkan sarapan dan kopi.
Tak lama kemudian, Arkan sudah rapi membawa jas dan tas.
Duduk di ruang makan, dan mengeluarkan HP mengecek pesan.
Beberapa pesan dari Clara diabaikan.
#Honey, we need to talk.. jam makan siang kita ketemu di kafe biasa dekat kantor.#
"Mau apa lagi dia?" Arkan menggeram, bayangan waktu Lanni dan Riga berselingkuh di kamarnya.
Ratusan alasan tak masuk akal dilontarkan untuk pembelaan namun tak bisa diterima.
Sudah seminggu pengadilan menyatakan mereka resmi bercerai.
Bahkan Arkan menolak diadakan mediasi. Dia ingin cepat berpisah.
Tapi kalau tidak dituruti, bisa-bisa Lanni mendatanginya ke rumah atau kantor.
#Ya.#
Hanya jawaban singkat penuh tekanan.
Dulu ia sangat mencintai Lanni. Ia bekerja keras untuk membahagiakan Lanni.
__ADS_1
Tak disangka pengkhianatan yang diterimanya.
Alita datang membawakan sepiring sandwich dan secangkir kopi.
"Ini, Tuan. Kali ini mayonaise nya nggak kebanyakan. Seperti yang Tuan suka."
Tanpa banyak bicara, Arkan mulai makan.
Alita hanya berdiri memperhatikan majikannya makan.
Arkan menyesap kopi sedikit. "Ada perlu apa?" Tanyanya membuat Alita tersentak dan gugup.
"Ngg... Begini Tuan, sebenarnya, kalau boleh saya mau kasbon gaji saya beberapa bulan."
Dahi Arkan kontan berkerut. "Untuk apa? Kenapa kamu perlu uang sebanyak itu?"
Alita menunduk gugup menjelaskan. "Saya mau bayar hutang bibi saya pada Pak Burhan agar dia tidak mengejar saya lagi, Tuan. Saya nggak tenang setiap keluar rumah atau sedang belanja takut bertemu dengan Pak Burhan. Bahkan mungkin dia sudah tahu saya kerja di sini. Saya rasa sebaiknya saya selesaikan urusan dengan dia agar dia tidak mencari saya lagi."
"Berapa jumlah hutangnya?"
"Lima puluh juta, Tuan."
"Kalau kamu kasbon gaji kamu bulan ini hanya tiga juta."
"Iya Tuan. Biar saya cicil agar dia berhenti mengejar saya. Hidup saya juga jadi nggak tenang dikejar terus begini." Alita memilin-milin ujung bajunya, gelisah.
"Baik, saya lunasi hutang itu. Asal dengan perjanjian, kamu kerja di sini dan jangan pernah kabur seperti pekerjaan kamu sebelumnya."
Alita tersentak kaget. "Yang bener Tuan?"
Arkan menghabiskan kopinya dan berdiri. "Mengenai hutang piutang akan diurus Firas. Kamu kerja saja dengan baik di rumah ini."
"Baik, Tuan. Terima kasih." Alita ingin menangis saking senangnya.
Sebenarnya Arkan penasaran mengenai sketsa Arden di kamar Alita. Ingin dia bertanya. Namun diurungkan, sepertinya belum tepat.
Banyak yang perlu ia cari tahu.
***
__ADS_1