RAHASIA ALITA

RAHASIA ALITA
Bab 46


__ADS_3

Aturan keras dari Arkan harus menjaga Alita dengan ketat.


Gina berbadan tinggi kekar ukuran seorang wanita. Berwajah sangar.


Pas deh jadi bodyguard Alita.


"Gina, duduk dong. Berdiri mulu." Alita jengah juga Gina kerap berdiri siap grak di sampingnya.


"Saya harus siaga Nya. Jagain Nyonya tanpa lengah."


Alita geleng-geleng kepala. "Tapi ini perintah. Duduk sekarang. Kita kan di rumah. Nanti kalau pergi kamu malah kecapean."


Akhirnya Gina menurut dan duduk memperhatikan majikannya makan.


Habis ini Alita berencana ke florist ingin mempercantik taman rumahnya dengan bunga-bunga segar.


Arkan memberikan mobil untuk Alita bepergian. Gina merangkap menjadi driver.


Bahkan Arkan sendiri mengetes kemampuan Gina menyetir. Ia tidak ingin driver ugal-ugalan membuat istrinya panik dan membahayakan keselamatan.


Tes selanjutnya aksi bela diri.


Dan Pak Adul ketempuhan jadi volunteer yang berperan sebagai penyerang.


Arkan ingin melihat kecekatan Gina menghadapi bahaya jika sedang bersama Alita.


Hasilnya, Pak Adul langsung perlu tukang urut karena pinggangnya keseleo dibanting Gina.


Arkan benar-benar memastikan nggak salah mempekerjakan bodyguard.


Alita sendiri diberi pemahaman oleh Arkan begitu protes kenapa perlu bodyguard.


"Sayang, kamu nggak boleh pergi sendirian. Kalo aku lagi nggak ada, kamu kan suka jalan-jalan. Aku pekerjakan Gina supaya kamu dan calon anak kita aman sayang."


"Tapi nggak berlebihan?"


"Sama sekali enggak, kamu mau aku nggak fokus kerja mikirin kalo kamu pergi jalan sendirian?"


Alita menggeleng, ia paling pantang membuat suaminya khawatir. "Iya sayang, aku mau dikawal bodyguard."


Jadilah sekarang Gina nempel terus sama Alita, udah kayak cicak di dinding.


Alita mau ke toilet, Gina menunggu di depan pintu.


Alita nonton TV, Gina ikut menonton.


Serasa punya teman baru.


***


"Waahh cantik-cantik banget bunganya." Alita mulai memilih-milih bunga.


Kecantikan Alita yang makin terpancar meski sedang hamil, jadi pusat perhatian beberapa lelaki yang menemani pasangan di florist.


Sedangkan Gina matanya awas menyapu setiap tatapan orang di sana kalau-kalau ada yang mencurigakan.


"Ada yang bisa dibantu, Kak?" Pria pegawai florist mendekat, langsung dihadang Gina.


Syarat Arkan, jangan biarkan orang lain mendekat dalam jarak satu meter. Karena bisa saja Lanni masih berencana mencelakai Alita.

__ADS_1


"Aku mau bunga yang ini, sama yang sebelah sana. Aku mau beli semuanya." Alita menunjuk bunga yang diinginkan.


"Baik, Kak. Akan saya siapkan." Pegawai florist menyiapkan bunga yang dipesan.


Seorang pria muncul di florist, Alita melihatnya dan menegang.


Zen!


Pria itu muncul lagi.


Bayangan pria itu menyakitinya dulu muncul lagi.


Zen sepertinya melihatnya di sana, namun hanya diam dan menunduk.


Alita jelas tidak mengingat sudah menyiksa mereka begitu brutal, lebih tepatnya Athena yang beraksi.


"Nyonya kenapa? Ada yang ganggu Nyonya? Biar saya bereskan!" Seru Gina.


Alita menggeleng cepat. Bahaya kalo Gina bikin ribut di sini. "Kita bayar dulu."


Ia mendekati meja kasir.


"Total semuanya satu juta dua ratus lima puluh ribu, Kak."


Alita mengeluarkan uang dari dompetnya dan menulis di kertas. "Tolong nanti diantar ke alamat ini."


"Baik Kak. Akan segera kami antar."


Bergegas Alita diiringi Gina, meninggalkan florist. Tatapan Zen seolah takut dan bergegas pergi juga.


***


Gina dilarang membantah semua perintah Alita. Jadilah sejak tadi ia muter-muter mobil di bundaran HI karena Alita tidak puas selfie-selfie dengan background air mancur.


Pada akhirnya setelah tujuh putaran, Alita puas dan minta pulang.


Bertepatan dengan mobil Arkan tiba di rumah.


Arkan langsung turun dari mobil dan mendekat.


"Kalian abis dari mana?" Tanya Arkan langsung dilihatnya Alita tertidur di mobil.


"Barusan habis dari florist, Tuan. Dan beberapa kali putaran di bundaran HI," jelas Gina membuat Arkan bingung.


"Ngapain ke HI?"


"Nyonya ngidam, Tuan. Katanya mau selfie background air mancur."


Arkan menepuk jidatnya, geleng-geleng kepala. Ngidam istriku aneh bener, batinnya.


"Ya sudah kamu boleh pulang. Besok pagi jam tujuh kamu sudah di sini."


"Baik, Tuan. Permisi." Gina bergegas pergi dengan sepeda motornya.


Begitu Gina pergi, Arkan membuka pintu mobil melihat Alita tidur.


"Tuan, barusan Nyonya memesan bunga. Semuanya sudah ada di taman belakang," kata Pak Adul.


"Baik Pak." Arkan mengusap wajah Alita lembut.

__ADS_1


"Sayang, bangun. Udah nyampe rumah ini."


Mata Alita mengerjap dan menegakkan duduknya.


"Lho kok kamu udah pulang?"


"Kamu yang baru pulang. Ngidam kok aneh banget pengen muter air mancur."


Alita tersipu. "Selama di Jakarta aku belum pernah ke bundaran HI, sayang."


Arkan agak kaget. "Ke Monas juga belum?"


"Ya aku sendirian. Nggak asik jalan sendirian."


"Ya udah, kamu boleh pergi ke mana aja asal jaga kondisi kamu ya jangan terlalu capek." Arkan menuntunnya keluar mobil.


"Gina mana, sayang?"


"Udah pulang. Kan sekarang ada aku."


Mereka bergandengan tangan memasuki rumah.


"Sayang, barusan di florist aku ketemu Zen," kata Alita membuat Arkan kaget dan membalik tubuhnya meneliti dari atas ke bawah.


"Terus? Dia apain kamu?"


Alita menggeleng. "Dia malah takut sama aku. Entah karena ada Gina. Aku juga nggak ngerti kenapa dia takut. Padahal kan aku yang jadi korban."


Ingatan Alita hanya sampai dirinya disekap oleh empat orang, setelah itu ia tidak ingat apa-apa karena Athena mengambil alih.


"Nggak usah dipikirin. Mungkin dia takut karena tau kamu itu istri aku. Bisa aku habisin dia tanpa jejak kalo berani ganggu kamu lagi." Arkan mencoba menenangkan.


"Mungkin."


"Oh ya di taman ada bunga yang kamu beli. Kita lihat ke sana?"


Alita mengangguk semangat. "Ayo sayang."


Melihat taman penuh bunga-bunga segar, membangkitkan semangat Alita.


"Sayang, kayaknya aku mau berkebun aja. Aku mau penuhi taman kita sama bunga-bunga." Kata Alita semangat.


"Iya sayang, akhirnya kamu nemu kegiatan yang menyenangkan." Arkan tersenyum melihat istrinya begitu senang.


"Nanti di ujung gazebo kita bikin area bermain. Terus di tanah kosong itu aku mau tanam pohon."


"Nanti aku cariin pohon cangkokan aja ya, sayang? Biar kamu nggak capek tanam."


"Iya. Makasih ya sayang."


Arkan mengelus kepala istrinya penuh sayang. Istrinya begitu sederhana, begitu menyukai keindahan. Jauh dari kemewahan.


Bahkan sesuatu yang menurut Arkan wajar saja terlalu mewah baginya.


Arkan berniat memberikan yang terbaik untuk Alita dan calon anaknya.


Tak akan dia biarkan sedikitpun ada yang mengganggu keluarganya.


"Sayang, bantuin aku."

__ADS_1


***


__ADS_2