RAHASIA ALITA

RAHASIA ALITA
Bab 14


__ADS_3

Darah Arkan terasa mendidih seketika melihat Alita diikat di ranjang dengan mulut disumpal kain, Riga sedang melucuti pakaiannya hendak melecehkannya.


"LEPASIN DIA!!!!!!"


Riga menghentikan aksinya dan menyeringai seperti tidak merasa bersalah.


Alita pingsan dengan tubuh setengah t*lanjang diikat di ranjang.


"Br*ngsek lo emang! Seenaknya lo terobos rumah gue dan mau p*rkosa dia!!"


"Woy brother.. nggak usah semarah itu. Gue cuma main-main aja sama pembantu lo. Lagian dia rese' nggak mau kasih tau dimana lo nyimpen brankas!"


Baru sadar di kamarnya ada Lanni juga, sejak tadi mengobrak abrik isi lemari mencari brankas.


"Lo berdua s*nting! Jadi lo pada cuma dateng buat ngerampok rumah gue?!"


Dengan tidak tahu malunya, Lanni mendekati Arkan. "Honey.. aku ke sini sebenarnya mau ambil sertifikat bangunan sanggarku."


Arkan menepis tangan Lanni, jijik. "Itu bukan hak kamu lagi. Lagipula tempat itu atas namaku karena aku yang beli. Dalam waktu dekat akan aku jual tempat itu. Kamu nyari sertifikatnya? Jangan harap kamu temuin itu."


Dari awal Arkan sudah menyuruh Alita memindahkan semua posisi barang termasuk letak brankas yang sudah dipindahkan dari lemari besar menjadi di bawah meja. Bahkan kode brankas yang semula tanggal pernikahannya dengan Lanni dulu, sudah diganti.


"Nggak, honey.. please jangan usir aku! Aku perlu itu.. kita cerai tanpa kamu kasih uang tunjangan sama aku. Sekarang aku cuma minta..."


"Stop! Nggak perlu kamu lanjutin!" Arkan makin tersulut emosi. "Pertama, kamu minta tunjangan? Kita aja nggak punya anak. Dan aku cuma wajib ngasih tunjangan kalau kita punya anak. Kedua, kita cerai bukan dengan baik-baik. Kamu lupa udah ngotorin ranjang kita dengan lelaki lain? Aku sih nggak pernah lupa hal itu."


Lanni belum bisa terima. "Tapi nggak bisa gitu dong, Kan. Kamu ceraikan aku tanpa kasih aku apa-apa."


"Iya lah Kan, lo harus kasih harta gono-gini sama Lanni," tambah Riga nggak tahu malu, membuat Arkan makin benci.


"Nggak ada harta gono-gini, semua harta gue yang dapetin. Dan lo nikmatin juga kan hasil kerja gue. Kalian berdua pakai uang gue buat seneng-seneng berdua. Kalian bikin gue jijik!"


"Tapi, honey.."


"Jangan panggil honey lagi gue jijik dengernya!!" Bentak Arkan keras.


"Dan lo..." Arkan menunjuk Riga. "Membusuk lo di penjara! Karena gue akan laporkan kasus percobaan p*rkosaan."


Ancaman Arkan disambut gelak tawa Riga dan Lanni.


"Lo nggak bakal bisa penjarain gue. Lagian, gue juga udah pernah kok nyicipin ART lo."


Emosi Arkan memuncak dan melayangkan pukulan keras di wajah Riga.


Duuuaaakkk..

__ADS_1


"Hon.."


"Diem lo!" Bentak Arkan habis sabar.


Beberapa polisi menggrebek mereka, Lanni dan Riga digiring polisi.


"Honey.. are you kidding? Kamu nggak mungkin tega penjarain aku!!??" Jerit Lanni.


"Kan, lo nggak bisa penjarain gue!!" Riga mencoba berontak.


"Berisik lo berdua!! Pak, bawa pergi!"


Mereka digiring polisi sambil menjerit-jerit.


Arkan mendekati Alita yang diikat di ranjang, masih dalam keadaan pingsan.


Bergegas ia membuka ikatan tangan, dan penutup mulut.


Ia memperhatikan kondisi Alita dan teringat kata-kata Riga barusan 'Lagian, gue juga udah pernah kok nyicipin ART lo.'


Apa Riga sudah berhasil memp*rkosa Alita?


Mengingat itu membuatnya merasa bersalah gagal menjaga orang yang bekerja dengannya.


Lalu ditariknya selimut menutupi tubuh Alita.


Luka apa ini?


Lukanya cukup besar seperti bekas sayatan pisau.


"Sepertinya dia bener-bener menderita selama ini."


***


Mata Alita mengerjap mendapatkan kesadaran nya kembali.


"Hah!!?? Aku! Aku... Dia...!!" Alita panik menyadari tubuhnya hampir tidak berpakaian. Berbalut selimut.


"Kamu udah sadar?"


Ia terlonjak begitu Arkan muncul.


"Tuan Arkan?" Ia lihat kanan kiri baru sadar sekarang ia ada di kamar majikannya.


"Barusan... Ada itu... Cowok jahat! Dia..." Alita nangis histeris mengingat barusan...

__ADS_1


"Kamu tenang aja. Dia belum sempat ngelakuin itu sama kamu. Aku keburu datang." Perkataan Arkan membuat tangis Alita terhenti dan merapatkan selimut.


"Mereka ngancem saya untuk memberitahu letak brankas Tuan." Alita masih gemetar.


"Dia mantan istri dan saudara tiri ku. Kamu kenal dia?"


"A-apa Tuan? Saudara tiri??" Alita kaget.


Kayaknya Alita juga kenal sama Riga, batin Arkan tak habis pikir.


"Kamu kenal dia?"


Alita menggeleng histeris. "Dia orang jahat!!"


Sepertinya Arkan akan sulit meminta keterangan melihat Alita begitu terguncang.


HP-nya berbunyi, Firas menelepon.


"Halo, Ras. Lanni dan Riga serang rumah gue. Mereka bongkar kamar nyari brankas. Bahkan Pak Adul diserang. Alita hampir dip*rkosa Riga. Gue harus pergi ke luar kota, lo yang urus mereka di kantor polisi. Untuk bukti, ada CCTV di rumah yang ngerekam kejadian mereka nerobos masuk rumah."


"Oke Kan, serahin sama gue. Gue udah gedek banget sama mereka. Terus Alita gimana? Kalo lo pergi, dia sendirian?"


Arkan menimbang sebentar, melihat Alita yang masih terisak ketakutan di ranjangnya.


"Alita gue bawa. Kayaknya dia pernah kenal sama Riga. Nanti biar gue tanya kalo dia udah tenang."


"Lo hati-hati."


Begitu telepon diputus, Arkan mendekati Alita yang sibuk merapatkan selimut.


"Kamu berkemas karena kita akan pergi."


Alita mengusap sisa air mata. "Pergi ke mana, Tuan?"


"Kita ke luar kota. Aku nggak bisa ninggalin kamu sendirian di sini."


Alita berusaha mencerna maksud majikannya.


Arkan sangat paham arti tatapan waspada. "Aku nggak akan macam-macam, hanya nggak tenang ninggalin kamu di rumah sendirian. Lagi pula aku mau tahu dari mana kamu kenal Riga."


Alita diam tak mampu membantah.


Arkan menghubungi sekretaris nya untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan Alita.


Terutama pakaian, karena ART nya terlihat cantik namun lusuh. Ia tidak mau dianggap memungut wanita lusuh jalanan.

__ADS_1


***


__ADS_2