RAHASIA ALITA

RAHASIA ALITA
Bab 28


__ADS_3

Malam itu Alita gelisah Arkan belum pulang juga.


"Duuh Tuan ke mana sih?" Alita bolak-balik melihat ke jendela.


Udah beberapa hari ini Arkan sering pulang malam. Membuat Alita kerap menunggunya.


Bahkan Arkan pernah menguncinya di kamar. Ia bingung tumben Arkan segitu waspada. Sampai-sampai ia telat menyiapkan sarapan karena dikunciin di kamar.


Apa Arkan khawatir Alita akan melarikan diri?


Namun Arkan tidak menjelaskan apa-apa.


Bahkan ketika membereskan kamar Arkan, Alita menemukan banyak bekas lipstik merah di sarung bantal dan baju Arkan.


Ia sungguh tidak suka. Diam-diam Arkan membawa perempuan ke kamar dan bercinta sampai bekas lipstik nya belepotan kemana-mana.


"Siapa perempuan yang tidur dengan Tuan?" Alita ingin menangis.


Kenapa Arkan memperlakukannya segitu lembut membuatnya terbawa perasaan dan sudah jatuh cinta pada Arkan?


Tapi Arkan dekat dengan perempuan lain.


Ia ingat wanita yang dekat dengan Arkan.


Clara dan Lanni.


Dua-duanya bermake-up tebal dengan lipstik merah.


Apa salah satu dari mereka berdua yang tidur dengan Tuan Arkan? Batin Alita bertanya tanya mulai gelisah.


Terdengar suara mobil masuk.


"Eh Tuan udah pulang." Ia langsung membukakan pintu.


Muncul Arkan dengan Faldo dan Veni.


Melihat tatapan tajam Faldo membuat Alita sedikit takut, Veni bergegas memegang tangan Faldo memberi kode.


"Kamu udah masak?" Tanya Arkan.


Alita menggeleng. "Belum Tuan. Saya nggak tau Tuan pulang agak cepat dan belum makan."


"Ya sudah kamu masak makan malam."


"Baik, Tuan."


"Eh biar aku bantu." Veni menawarkan diri.


"Jangan Mbak. Nanti ngerepotin."

__ADS_1


"Nggak kok. Aku suka masak. Lagipula Arkan bilang masakan kamu itu enak. Boleh dong aku diajarin resepnya. Sebentar lagi kan aku nikah sama Faldo. Aku pengen masakin dia setiap hari," alasan Veni panjang lebar.


"Boleh. Ikut saya." Alita bergegas ke dapur diikuti Veni.


***


"Mbak bisa bantu potong sayurannya." Alita mengeluarkan bahan-bahan masakan dari kulkas.


"Nggak usah panggil Mbak. Panggil Veni aja. Kita seumuran kok." Veni mengambil wortel.


"Nggak enak lah. Mbak Veni kan temennya majikanku."


"Ya tapi aku bukan majikan kamu. Panggil Veni aja. Aku nggak mau kamu panggil Mbak. Berasa tua."


Alita agak canggung dan mengiyakan. "Iya deh.. Bisa tolong potong sayurannya."


"Kecil-kecil dipotongnya?"


"Iya."


"Ini mau masak apa sih?" Veni mulai mengiris-iris wortel.


"Sop buntut."


"Wah boleh tuh aku intip resepnya. Ajarin dong, Faldo suka sop buntut. Aku mau masakin dia."


"Iya kalo perlu nanti aku kasih tulisan resepnya."


"Alita, keluarga kamu di mana?" Pertanyaan Veni membuat Alita tersenyum getir sambil membuat adonan perkedel.


"Aku nggak punya keluarga, Ven. Aku yatim piatu."


"Kamu nggak tau asal usul kamu?"


Alita menggeleng. "Mama adopsi aku waktu bayi dari panti asuhan di Bandung. Tanteku pernah cerita waktu itu aku sakit, diantara bayi lain. Nggak ada yang mau adopsi, hanya Mama Reni yang mau adopsi dan rawat aku."


"Kamu sakit apa?"


"Aku juga nggak tau saat bayi aku sakit apa. Tapi katanya cukup parah sampai panti menggalang dana untuk biaya rumah sakit."


Veni mulai curiga mendengar cerita Alita.


"Kamu Inget nama panti asuhan kamu dulu? Atau nama rumah sakit waktu kamu dirawat?"


Alita berusaha mengingat. "Kalau nggak salah namanya panti asuhan Pelita Ibu. Eh udah ah kok jadi ngobrolin aku. Oh ya aku belum bikinin kopi buat Tuan. Kalo Mas Faldo suka kopi apa, Ven?" Alita menyiapkan dua cangkir.


"Faldo lagi kurangi kafein. Kasih dia teh hijau."


Alita sigap membuatkan secangkir kopi untuk Arkan dan secangkir teh hijau untuk Faldo.

__ADS_1


"Aku anter ini dulu." Alita membawa nampan menuju ruangan Arkan.


"Kesempatan nih." Veni mengirim pesan WhatsApp pada Faldo.


***


#Tahan Alita di ruangan selama mungkin. Aku akan geledah kamarnya.#


Pesan dari Veni membuat Faldo makin curiga.


Muncul Alita membawa dua cangkir minuman.


"Tuan ini kopinya. Dan ada teh hijau buat Mas Faldo." Alita meletakkan cangkir di meja.


"Alita, bisa duduk dulu. Ada yang mau saya tanya," kata Faldo.


Alita memandang Arkan yang mengangguk dan duduk di samping Alita.


"Alita, Faldo ini adiknya Laudya, istrinya Arden." Perkataan Arkan membuat Alita terkejut sampai gemetar mengingat Laudya pernah memukul dan menjambak rambutnya.


"Nggak usah takut. Saya nggak ada niat bikin perhitungan. Lagian saya tau kamu ditipu sama Bang Arden. Saya cuma mau tanya. Malam ketika kamu diusir dari apartemen, kamu pergi ke mana?"


Alita terdiam mencoba mengingat. "Saya langsung pergi ke Bogor."


"Yakin kamu langsung pergi?"


Alita mengusap kepalanya, bingung.


"Bilang aja. Karena bertepatan kamu pergi, besoknya mobil yang bawa Bang Arden dan Laudya kecelakaan."


"Saya... Saya nggak tau, Tuan.." Alita mendadak panik, ingatannya terombang-ambing mengingat kejadian buruk yang menimpanya.


"Saya cuma marah. Istri Arden mengusir saya ketika kondisi saya masih lemah sehabis kejadian itu. Saya nggak tau yang terjadi setelah itu."


Alita mulai menangis mengingat kejadian naas itu.


Arkan spontan memeluk bahunya berusaha menenangkan. "Udah Do, jangan ditanya lagi. Kasian Alita."


Faldo menyesal menginterogasi Alita sampai tertekan begini.


Tubuh Alita gemetar sampai berkeringat dingin.


"Alita.. hey.. Alita,.." Arkan menepuk pipinya, matanya putih menandakan kesadarannya hilang.


Kepalanya jatuh di bahu Arkan.


"Kan, dia pingsan."


"Gue bawa dia ke kamar gue." Arkan menggendong Alita menuju kamarnya.

__ADS_1


Sementara Faldo melanjutkan investigasi atas kecurigaan keterlibatan Alita atas kasus kecelakaan kakaknya.


***


__ADS_2