
"Ngapain kamu di sini?!" Sorot mata tajam menghujam marah.
Arkan tak percaya melihat Alita dalam sosok Athena dengan aura pembunuh yang penuh dendam, lipstik merah menyala membuat sosok Alita tersamarkan.
"Athena, udah cukup. Jangan memperburuk keadaan." Arkan memegang kedua bahunya berusaha meredakan emosinya.
Athena tertawa sinis dan menepis tangan Arkan. "Belum cukup. Mereka harus mati. Mereka nggak pantas hidup. Setelah membuat Alita menderita, mereka hidup tenang, tertawa, nggak ada merasa bersalah. Mereka bukan manusia!"
"Athena, aku tau kamu ingin melindungi Alita. Tapi dengan bunuh orang, kamu akan membuat Alita menderita seumur hidup karena rasa bersalah. Alita memang lemah, tapi dia juga pantas bahagia."
"Bahagia?" Athena tertawa pedih. "Nggak ada yang tersisa di dunia ini untuk Alita bisa bahagia. Semua cuma menyiksanya karena dia lemah. Padahal waktu kami berpisah, kami membuat janji, siapapun yang hidup harus hidup dengan baik. Tapi Alita, dia lemah dan teraniaya. Dia nggak bisa melawan ketika ditindas dan hanya diam menangis. Anak cengeng! Kalau dia lemah begitu untuk apa dia yang hidup! Harusnya aku, Athena. Kalau aku yang hidup, nggak ada yang bisa menindas. Karena dia takut, aku harus turun tangan bunuh semua orang yang berbuat nggak adil sama dia."
Arkan melihat aura yang berbanding terbalik dengan Alita yang lemah lembut.
"Mereka!" Teriak Athena menunjuk empat orang yang pingsan masih dengan tubuh terikat.
"Mereka itu binatang!! Aku bisa ngerasain yang Alita rasa. Mereka nggak peduli Alita teriak kesakitan memohon ampun, mereka cuma tertawa dan terus memp*rkosanya! Apa itu namanya manusia??" Athena mengepalkan tangan emosi.
"Lalu Arden, dia bilang Alita cuma peliharaan yang dia tampung untuk memberi makan tamu-tamu biadabnya! Dia benar-benar nggak layak hidup! Laudya? Wah.. dia bahkan menghakimi Alita tanpa peduli suaminya yang bersalah. Wanita itu nggak punya hati. Mereka berdua nggak pantas hidup!"
Arkan membiarkan Athena melepaskan semua emosinya. Hanya waspada wanita itu melakukan tindakan berbahaya.
"Ya. Aku memang sabotase mobil Arden, karena aku tau, dia mau pergi sama istrinya. Aku ngerasa kesempatan aja, aku rusak mesin mobilnya supaya mobil itu kecelakaan."
"Athena, kamu membahayakan Alita," kata Arkan pelan.
"Kamu mau laporin Alita? Silahkan! Aku yang akan jaga dia meski dia dipenjara seumur hidup!"
Arkan menggeleng. "Alita nggak salah. Kamu juga nggak salah. Kakakku yang salah."
Mereka terdiam beberapa saat. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
Athena buka suara lagi, mengingat setiap penderitaan Alita. "Tapi dalam diri Alita, ada aku. Yang nggak akan pernah bisa terima semua perlakuan nggak adil pada Alita. Kalau Alita nggak sanggup melawan, aku selalu ada. Orang-orang itu nggak layak hidup tenang setelah memperlakukan Alita seperti sampah!"
"Istri pria hidung belang itu!" Athena memainkan gunting di tangannya sambil tertawa sinis.
"Maksud kamu Bu Ina?"
"Jangan sebut namanya!" Bentak Athena membuat Arkan diam. "Dia juga nggak pantas hidup! Padahal tua bangka itu yang melecehkan Alita, tapi apa? Malah nenek lampir itu aniaya Alita sampai Alita sekarat. Dan dia harus bayar perlakuan itu dengan nyawanya. Dengan kasar dia jambak rambut Alita, dan harus dia bayar. Makanya aku potong rambutnya!" Athena gemetar menahan emosi mengingatnya.
"Alita nggak tau itu. Dia cuma ngira saat itu dia ketiduran ketika jualan. Padahal aku ambil alih tubuhnya untuk ngebunuh nenek lampir itu! Tapi taunya tua bangka itu nggak berhenti ngejar Alita. Dia target selanjutnya, tapi ternyata agak sulit aku singkirkan dia. Tua bangka gendut itu terlalu banyak penjaga. Kayaknya dia tau bakal aku bunuh. Makanya dia takut."
Athena menyambar sebotol minuman soda dingin dan meneguknya kasar.
Arkan hanya diam mendengarkan.
Athena terduduk sambil tertawa pedih dengan air mata bercucuran.
"Tapi sedikit keberuntungan Alita bisa bekerja di rumah kamu. Setidaknya aku bisa tenang karena kamu memperlakukan dia dengan baik. Sampai Alita jatuh cinta sama kamu."
***
Beberapa saat suasana hening. Hanya terdengar deru nafas kesakitan empat orang yang masih diikat.
Arkan duduk di sampingnya. "Karena itu kamu selalu datang malam-malam menemuiku?"
"Alita kasihan melihat kamu kesepian baru bercerai dengan mantan istri kamu. Dia ingin sekali bersama kamu. Tapi dia penakut. Dia takut kamu pecat dia. Alita itu lemah terlalu pengecut. Makanya aku gantikan dia menemani kamu malam-malam."
"Jadi selama ini aku tidur dengan Alita?" Arkan cemas mengingat mereka berhubungan intim tanpa alat pengaman. "Ini bahaya, Athena. Bagaimana kalau sampai Alita hamil anakku karena itu? Dan dia nggak tau sering tidur denganku. Gimana kalau...??"
"Kenapa kamu khawatir sama Alita??" Bentak Athena marah. "Bukannya kemarin kamu baru tidur sama dia! Kamu mau mainin dia kayak Arden?! Arden udah bikin dia terbuai dengan rayuan manisnya hingga Alita tertipu cinta palsunya. Karena dia takut kamu sama dengan kakaknya, aku yang harus turun tangan menggantikan dia."
Arkan terdiam, gelisah.
__ADS_1
Athena tersenyum sinis dan memainkan jarinya menelusuri dada Arkan. "Kalau Alita nggak bisa melanjutkan, dia bisa pergi. Aku bisa gantikan hidupnya."
"Jangan Athena.." Arkan memegang tangannya, memohon. "Jangan rusak hidup Alita. Dia pantas hidup dengan baik."
Air mata Athena mengalir pedih. "Hidupnya udah rusak, Arkan. Nggak ada satupun yang menyayangi dia. Setelah dendam terbalas, aku akan bawa dia bersamaku. Aku akan jaga dia agar dia selalu bahagia."
Athena berdiri mengambil pisau.
Arkan berdiri tegang. "Kamu mau apa?"
"Menurut kamu?" Athena menatapnya tajam dan membuka sedikit bajunya memperlihatkan luka di perut.
"Luka ini, tanda kami terpisah. Tapi sebenarnya, kami berdua hidup di satu tubuh. Hanya Alita yang dominan dikenal orang-orang. Orang-orang yang memandang dia sebelah mata. Yang bahkan nggak peduli dia kelaparan."
Arkan menahan tangan Athena. "Athena, sudahi dendam kamu. Aku akan pastikan semua orang ini mendapat ganjaran setimpal atas perbuatan mereka. Jangan kamu sakiti Alita. Aku yang akan jaga dia. Aku tulus mencintai dia. Dan kamu nggak perlu lagi muncul karena dendam. Aku pastikan nggak ada penderitaan lagi untuk Alita."
Air mata Athena mengalir pedih dan tertawa. "Gimana bisa aku yakin kamu tulus sama Alita?"
Arkan melepaskan pisau dari tangan Athena dan memeluknya erat. "Aku akan jaga dia. Tugas kamu menjaga Alita sudah selesai. Kamu cukup melihatnya bahagia, itu kan yang kamu butuhkan?"
Athena terisak dan membalas pelukan Arkan.
"Jangan kamu teruskan. Semua dendam kamu cukup sampai di sini. Mereka udah dapat ganjaran setimpal. Mereka nggak akan hidup tenang. Aku janji seujung kuku pun nggak akan aku biarkan Alita terluka. Dan setiap detik hidupnya, aku akan buat dia bahagia. Ini janjiku."
Arkan merasakan pegangan Athena melonggar, dan tubuhnya terkulai lemas, lalu hilang kesadaran. Ia tahu Athena sudah meninggalkan Alita.
Bertepatan dengan itu pintu terbuka, beberapa polisi menerobos masuk.
Lanni, Riga, Zen, dan Ergi diringkus tanpa perlawanan.
Arkan mengusap wajah Alita yang pingsan. "Aku cinta kamu, Alita." Lalu mengecup keningnya penuh sayang.
__ADS_1
***