RAHASIA ALITA

RAHASIA ALITA
Bab 15


__ADS_3

Sudah pukul 22.25 ketika mobil tiba di hotel bintang lima di pusat kota Semarang ini.


Alita tertidur sepanjang jalan dari bandara. Ia terlalu lelah menceritakan semua kejadian miris yang dialaminya.


Melihat perlakuan Riga pada Alita, Arkan yakin ART nya ini tidak bohong.


"Al, bangun. Kita udah sampai." Arkan menepuk pundaknya pelan membuatnya membuka mata.


"Udah sampai, Tuan?"


Arkan keluar mobil disusul Alita. Petugas hotel sigap mengangkat dua koper dari bagasi.


Menunggu Arkan di resepsionis, Alita hanya duduk di lobi tunggu. Sambil menunduk karena orang lewat terutama pria melontarkan tatapan nakal melihatnya.


Padahal pakaiannya tertutup saja, tapi lekuk tubuhnya ternyata tak luput dari pandangan pria pria lapar.


Sekretaris Arkan yang bernama Stacy mengantarkan sekoper pakaian baru untuknya. Ia dilarang membawa pakaiannya yang biasa karena Arkan tidak ingin ia lusuh bersamanya.


Ia mengenakan blus lengan panjang dan celana panjang.


Ia teringat sudah sangat lama ia tidak membeli baju baru. Sejak ia pergi dari hidup Arden yang selalu memanjakannya dengan barang-barang mahal, ia harus bertahan tidak boros mengingat ia sendirian.


Muncul Arkan. "Alita, ayo ke atas."


Alita menurut dan mengikuti Arkan masuk lift.


Tiba di lantai 7, Arkan membuka pintu kamar nomor 705.


"Ini kamar kamu. Sebaiknya kamu segera istirahat. Kamarku di sebelah. 706."


Alita mengangguk saja lalu masuk kamar.


Begitu kamar Alita tertutup rapat, Arkan berbalik ke kamarnya sendiri.


Besok ia ada pertemuan dengan rekan bisnis.


Baru tiba di kamar, HP-nya berbunyi.


"Halo, Firas.."


"Lo udah nyampe?"


"Udah. Baru aja."


"Gue baru dari kantor polisi. Ada masalah baru, Kan. Bu Andini mantan mertua lo, maksa gue kasih tau nama hotel lo, dia mau nyusul lo ke Semarang."


"Mau apa lagi?"


"Ya mau apa lagi. Minta lo cabut laporan atas Lanni."


Arkan mendengus keras. "Dari dulu nggak berubah selalu aja libatin ibu mertua buat urusan rumah tangga. Pasti ribet deh kalo dia dateng."


Sejak dulu Bu Andini ibunya Lanni terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka. Hingga Lanni sering melawan Arkan karena hasutan ibunya.


"Mengenai Alita," kata Firas membuat Arkan terdiam. "Kenapa lo sampe segitunya bawa dia ke luar kota segala? Apa nggak berlebihan? Gimana kalo mantan istri lo gunain dia untuk pembelaan?"


Arkan terdiam. Dia tahu segimana liciknya Lanni. Benar kata Arkan, Lanni pintar memutarbalikkan fakta.

__ADS_1


"Gue belum cerita sama lo, mengenai Alita."


Lalu Arkan menceritakan tentang hubungan Alita dengan Arden. Alita yang polos tidak menyangka ditipu mentah-mentah oleh lelaki beristri.


Karena Alita tidak memiliki siapapun, ia menerima saja menjadi simpanan Arden.


Laudya melabrak Alita dan mengusirnya agar tidak mengganggu rumah tangga nya.


"Gue ngerasa Bang Arden emang salah dan nggak adil sama Alita. Makanya gue mau nebus kesalahan Bang Arden dengan ngejaga Alita." Jelas Arkan.


"Maksudnya lo mau nikahin dia?" Tanya Firas membuat Arkan kaget.


"Nggak sejauh itu. Gue baru aja cerai. Kayaknya gue butuh waktu buat bisa nikah lagi. Gue cuma jaga dia ngebayar apa yang udah Bang Arden lakuin sama dia."


"Lo yakin cuma itu? Gue rasa Bang Arden ngelakuin hal lain." Firas memang makhluk yang super sensitif. Tidak melewatkan sekecil apapun.


Arkan terdiam mengingat barusan Alita menangis sepanjang perjalanan di pesawat, menceritakan semua kejadian naas yang membuat kebencian pada Arden mendarah daging.


***


Sementara Alita terisak di kamarnya mengingat semua kejadian yang menimpanya.


Ia teringat malam sebelum ia diusir oleh Laudya.


#Flashback tiga tahun lalu..#


Alita diam saja begitu Arden datang membawa tiga lelaki untuk berpesta di apartemen.


Ia tidak punya pilihan menurut saja. Termasuk menggunakan dress ketat minim yang membuatnya risih.


Namun dia tidak punya kekuatan melawan perintah Arden.


Tanpa buang waktu, Alita ke dapur mengambil empat gelas wine dan sebotol red wine yang harganya ratusan ribu mungkin jutaan rupiah.


"Guys.. come on dance.." empat lelaki itu mulai berpesta sambil menyalakan musik keras-keras.


"Sayang, tuangin minumannya." Perintah Arden lagi.


Alita merasa sekarang dia malah jadi pembantu, melayani semua kebutuhan Arden yang membawa teman-temannya berpesta demi mendapat investor untuk menanamkan modalnya di perusahaan Arden yang sedang jatuh.


"Come on beauty.. let's dance.." seorang pria menarik tubuhnya mendekat membuat Alita kaget dan berusaha menghindar.


"Nggak apa-apa. Dia saudara tiri aku, sayang." Arden bukan membela Alita begitu Riga berusaha mendekati Alita.


Ya.


Riga sudah mengenalnya. Arden terpaksa menuruti yang Riga mau karena Riga mengetahui perselingkuhannya. Demi Riga tutup mulut, Riga ingin Alita untuk bermalam dengannya.


Sungguh Alita tidak bisa melupakan malam itu.


Dia dibius dan ditiduri oleh Riga, bergiliran dengan dua lainnya. Zen dan Ergi, dua pengusaha muda kawan Arden


Meski dalam kondisi setengah sadar, dia tidak akan melupakan wajah-wajah pria yang sudah memp*rkosanya.


Dan membenci Arden yang duduk saja santai meminum wine nya melihat dirinya diperlakukan seperti binatang, dip*rkosa bergantian.


Dia merasa sangat kotor, dan marah pada diri sendiri. Tidak bisa sedikit kuat untuk melawan.

__ADS_1


Dalam dirinya meneriakkan dendam, namun ia tidak memiliki keberanian.


Ia sungguh membenci orang-orang yang tidak adil padanya.


Terutama Arden yang menghancurkan hidupnya.


Tanpa rasa bersalah, Arden hanya tertawa melihat dirinya menangis kesakitan begitu sadar sepenuhnya.


"Memang kamu berharap apa sama aku?" Tanyanya membuat tangis Alita berhenti dan menatapnya penuh kebencian.


"Kamu cuma mainan. Inget itu. Kita cuma partner ranjang dan kamu harus nurutin. Karena apa, kamu bukan siapa-siapa. Cuma wanita jalanan yang aku pungut untuk aku pelihara. Dan jadi hidangan untuk tamu-tamu ku yang kelaparan itu."


Sungguh rasanya ingin Alita menancapkan benda tajam ke jantungnya.


Lelaki itu sudah menghancurkan hidupnya. Dan perkataannya sungguh kurang aj*r.


#flashback off#


Mengingat itu, setengah hati Alita belum puas karena Arden mati sebelum Alita yang membunuhnya.


Kebenciannya mendarah daging hingga ia begitu ingin membunuh Arden dengan tangannya.


Hanya saja belum sempat ia mengotori tangannya, Arden sudah tiada.


Sekarang satu per satu masa lalu nya muncul membuatnya makin terpuruk. Takut menghadapi mereka yang menyakitinya.


"Aku takut," lirih Alita gemetar.


Mendadak bagian perutnya sakit.


"Duuhh aku lupa kasih obat, moga aku nggak lupa bawa obatnya." Alita membongkar tas dan menemukan salep.


Ia ke kamar mandi dan bercermin.


Lalu membuka bajunya. Tampak luka di bagian pinggangnya.


Luka yang akhir akhir ini mengganggu pergerakannya.


Ia sendiri lupa bagaimana bisa ia terluka seperti disabet pisau.


Mungkin saking seringnya dia dianiaya orang.


Ia mengoleskan salep kulit pada luka sambil meringis kesakitan.


Seingatnya luka ini sudah lama. Tapi akhir-akhir ini sakit lagi.


#Jangan lemah! Waktu kamu tinggal sedikit!#


Ia tersentak dan lihat kanan kiri.


Seperti ada suara berteriak di kepalanya.


"Apa aku salah denger?"


Ia melihat TV hotel menyala. Menayangkan sinetron.


"Mungkin dari TV."

__ADS_1


Ia berusaha lebih santai menikmati liburan gratis dari majikannya.


***


__ADS_2