
Meeting hari ini bertepatan dengan jam makan siang. Arkan memutuskan pulang ke rumah untuk menemani Alita makan.
Begitu mobil melewati sekitar taman kompleks perumahan nya, matanya menangkap penjual permen kapas.
Baru teringat semalam Alita merengek ingin permen kapas. Dan itu gara-garanya ia sedang menonton film Korea, tokoh wanita buta dan si pria membawa permen kapas, mereka makan permen kapas berdua so sweet abis.
Akhirnya Alita kepengen permen kapas juga.
"Kebetulan tuh ada permen kapas. Alita pasti seneng." Ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan, dan membuka kaca mobil.
Baru mau memanggil, ia heran pedagang permen itu membuang semua dagangannya di tong sampah dan terburu-buru pergi.
"Kenapa dibuang? Permen masih banyak. Ada yang nggak beres nih."
Ia mengambil HP menelepon Alita.
"Halo?"
"Eh kok Bibi yang jawab? Istri saya mana?"
"Nyonya lagi jalan-jalan ke taman kompleks, Tuan. Nyonya nggak bawa HP katanya cuma sebentar."
"Kenapa dibiarin sendiri?"
"Bibi udah nawarin nemenin, Tuan. Nyonya yang ngelarang."
Mendadak perasaan Arkan tidak enak.
Ia memutuskan telepon dan segera turun dari mobil.
Diambilnya permen kapas yang dibungkus plastik dari tong sampah.
"Kenapa sama permen ini?" Ia mengamati setiap inci permen itu.
Matanya mengerjap melihat warna permen jadi menghitam terkena sinar matahari. Meski terhalang plastik.
"Jangan-jangan permennya beracun, makanya jadi hitam begini."
Tanpa buang waktu ia masuk taman mencari Alita. Ia curiga Alita membeli permen kapas itu.
Tak lama ia menemukan Alita duduk di bangku dekat air mancur.
"Sayang.."
Alita kaget melihatnya datang. "Lho sayang, kok ke sini?"
Arkan duduk di sampingnya dan memeluknya erat. "Kenapa kamu pergi sendirian sih? Aku kan udah bilang jangan pergi keluar rumah tanpa aku."
Alita mengusap punggungnya menenangkan. "Iya maaf sayang, nggak tau kenapa tadi aku kepengen jalan-jalan ke sini. Tapi suamiku masih sibuk kerja."
Arkan melirik tong sampah dekat mereka. Ada permen kapas yang masih dibungkus plastik.
__ADS_1
"Oh ya kemarin kamu bilang pengen permen kapas?" Arkan melepaskan pelukannya.
"Iya. Tadi aku udah beli. Ada yang jual ke sini. Tapi nggak aku makan."
"Kenapa?"
"Baunya aneh. Kayak ada bau obat gitu. Jadi aku buang aja. Mungkin pake obat pengawet. Bahaya kan buat kandunganku."
Diam-diam Arkan menghela nafas lega. Ia curiga ada yang ingin meracuni istrinya.
"Ya udah sayang, gimana kalau kita jalan-jalan?" Tawar Arkan.
"Mau ke mana? Kamu kan harus ke kantor."
"Ya udah kita ke kantor aja. Kamu bisa santai-santai di ruanganku sambil nunggu aku selesai kerja."
Alita mengerucutkan bibirnya. "Aku nggak ganggu nih?"
"Enggak lah sayang, kapan istriku ganggu. Kamu kan bosen di rumah. Ya udah kita jalan-jalan ke kantor aja. Sambil nunggu aku, pesen makanan yang banyak untuk kamu. Oke?"
Mendengar kata 'makanan' membuat Alita bersemangat.
"Yuk kita pulang dulu biar kamu ganti baju."
"Iya sayang."
Diam-diam Arkan lihat kanan kiri mencari barangkali ada CCTV.
***
"Iya Kan. What's up?"
"Gue perlu bantuan lo."
"Of course. Apa yang bisa gue bantu?"
Lalu Arkan menceritakan kejadian barusan di taman.
"Gue curiga sama pedagang permen kapas itu. Bisa lo selidiki? Gue kuatir ada yang niat jahat sama Alita."
"Oke Kan. Gue akan datang ke sana selidiki CCTV. Kalau emang bener, gue bakal usut ke polisi."
"Thanks ya Do."
Arkan memutuskan telepon dan memanggil Firas ke ruangannya.
Kembali ke ruangan, ia tersenyum melihat Alita duduk di sofa sambil menonton drama Korea. Mulutnya tak henti mengunyah puding pelangi yang dibuatkan Bi Endah barusan.
"Seru banget ya sayang?" Tanya Arkan sambil duduk di sampingnya.
"Seru lho sayang, liat deh tokohnya cantik banget. Cowoknya juga ganteng banget. Mereka tuh adik kakak. Tapi sebenernya Oppa (kakak laki-laki) aslinya udah mati. Ini Oppa palsunya malah jatuh cinta sama adik palsunya. So sweet...." Alita nyerocos menceritakan alur filmnya.
__ADS_1
"Mending film gini kan daripada film horor."
Alita mendelik jahil. "Tadinya pengen film itu-itu.."
Arkan mencubit pipinya gemas. "Godain aku lagi, nanti malem kamu nggak boleh tidur kita praktek sampai pagi."
Alita terkekeh. "Bercanda sayang. Nggak apa-apa kan aku di sini?"
"Iya nggak apa-apa. Enjoy aja. Ada perlu apa bilang aja sama Stacy. Aku kerja dulu ya sayang." Arkan mengelus kepala Alita yang hanya mengangguk dan serius nonton lagi.
Pintu diketuk.
"Masuk." Arkan memeriksa laporan dengan teliti.
Firas masuk ruangan. Surprise lihat istri bos sedang healing di kantor nonton drama Korea.
"Al, apa kabar?"
"Baik, Mas." Jawab Alita singkat karena sedang serius nonton.
"Ada apa nih Kan? Tumben lo bawa Alita ke kantor?" Tanya Firas pelan agar Alita nggak dengar.
Setahunya kalau perempuan hamil lebih sensitif. Bisa-bisa ngambek tu istri bos.
"Ada kejadian aneh tadi." Arkan menoleh ke istrinya. "Sayang, nggak apa-apa kalau volume TV nya gedein aja. Biar kamu nyaman nontonnya."
"Nggak ah nanti berisik," sahut Alita.
"Nggak kok sayang, gedein aja biar kedenger jelas."
"Oke sayang." Alita menambah volume TV sehingga fokus pada film.
"Ada apaan?" Tanya Firas.
"Barusan Alita jalan-jalan ke taman. Dia beli permen kapas. Terus gue papasan sama pedagang nya. Gue liat dia buang dagangannya ke tong sampah dan pergi. Waktu gue liat ada yang aneh sama permen kapas itu. Terus gue nyusulin Alita. Dia nggak makan permen kapas itu karena katanya ada bau aneh. Dia kira itu bau bahan pengawet. Tapi gue curiga ada yang sengaja mau celakain Alita."
"Memang mencurigakan."
"Makanya gue minta lo bawa ini ke lab." Arkan menyerahkan kantong berisi sebungkus permen kapas yang diambilnya dari tong sampah. Permen yang batal dimakan Alita.
"Ini permennya?" Firas mengamati dan mengangguk. "Gue pergi sekarang."
"Tolong ya."
"Sip."
Begitu Firas pergi, Arkan melihat Alita yang masih menonton.
Ada baiknya kamu nggak tau, sayang. Aku nggak mau bikin kamu takut, batinnya.
***
__ADS_1