
"Arkan!"
Teriakan yang cukup kuat membuat security turun tangan menahan perempuan berbaju seksi yang masuk restoran sambil menjerit-jerit.
Arkan yang sedang makan omelet sampai kaget ada yang teriak-teriak memanggil namanya.
"Lho? Itu Clara kan?" Ia bergegas mendekat.
"Pak, tolong lepas. Maaf sudah membuat keributan."
Begjtu Clara berhasil dilepas, wanita itu tampak frustasi.
"Clara, kamu kenapa?" Ia bingung Clara seperti ketakutan, gemetar lihat kanan kiri.
"Ada yang mau bunuh aku, Kan."
Arkan menuntun wanita seksi ini yang pucat gemetar.
"Minum dulu." Arkan memberikan segelas air.
Glek glek glek..
Dalam sekejap gelas kosong, Clara lebih tenang. Dan mengatur nafas yang memburu.
"Sekarang, cerita. Kamu kenapa?" Tanya Arkan heran.
"Ada wanita mau bunuh aku, Kan. Dia dateng ke kamar kamu semalam."
Arkan mengerutkan kening heran. "Kamarku?"
Clara mengangguk cepat. Dari ekspresi nya sepertinya wanita seksi blasteran ini tidak bohong. Air mukanya seperti ketakutan terancam. Wanita ini paling lemah berakting ketakutan. Ketahuan bohongnya.
__ADS_1
"Siapa yang datang? Semalam aku nggak ada di kamar. Aku meeting mendadak dengan klien sampai malam. Kamu datang ke kamarku?"
"Iya, Arkan.. aku nunggu kamu karena kamu nggak dateng ke kamarku. Aku coba telepon HP kamu nggak ada jawaban. Telepon ke kamar nggak ada jawaban juga. Aku kuatir kamu kenapa-kenapa di kamar. Jadi aku nyusul. Di kamar aku nunggu kamu. Tiba-tiba aja..." Ucapan Clara terhenti melihat wanita jalan mendekat membawa dua piring makanan.
"Tuan ini saya bawakan kue dan puding." Alita meletakkan piring di meja, baru sadar ada Clara yang menatapnya tegang.
"Ada apa ya Tuan?" Alita bingung.
Clara speechless dan mendadak takut.
"Alita, tolong bawakan teh hangat." Kata Arkan.
"Baik Tuan." Alita balik badan menuju meja minuman.
"Clara, ada apa?"
"Dia.." Clara memegang kuat tangan Arkan.
"Dia orangnya."
Arkan heran. "Dia? Kamu yakin?"
Clara agak bingung. "Eh iya bukan?" Sekilas seperti mirip, tapi sepertinya bukan.
Arkan menggeleng. "Dia bersamaku semalaman meeting bersama klienku. Nggak mungkin dia orangnya."
Lagipula semalaman ia dan Alita berpelukan di ranjang, mana mungkin Alita yang dimaksud Clara menyerangnya di kamar Arkan.
"Kamu diserang sama dia?" Tanya Arkan menilik penampilannya.
"Dia ancam mau bunuh aku pake pisau." Clara panik lagi.
__ADS_1
"Ada luka?"
Menyadari tubuhnya tidak terluka sama sekali, Arkan curiga ini hanya akal-akalan Clara.
"Kamu nggak ada luka. Kalau kamu bilang wanita itu coba bunuh kamu pasti dia serang kamu. Tapi kamu baik-baik aja."
Clara bingung menjelaskan, bagaimana wanita aneh itu mengintimidasinya menggunakan pisau. Wanita itu tidak melukainya, namun menakutinya. Tatapannya seperti ingin mencincangnya hidup-hidup.
"Nona ini teh nya." Muncul Alita membuat Clara tersentak. "Ini saya bawakan donat coklat, Nona sarapan dulu."
Clara menilik wajah Alita yang pucat dan kelihatan polos saja.
"Semalaman dia bersamaku. Bukan dia orangnya," kata Arkan.
Alita yang duduk di hadapan mereka, agak bingung. Namun tidak bertanya dan melanjutkan makan.
"Sepertinya memang bukan dia," kata Clara akhirnya. "Wanita yang semalam memakai lipstik merah menyala."
Arkan tercekat. Lipstik merah menyala?
Apa Athena?
Tapi.. kenapa Athena ada di sini?
Clara sudah mulai makan.
Sesekali Arkan mencuri pandang ke Alita yang makan dengan lahap.
Athena muncul ketika ia bersama Alita?
Kenapa begitu?
__ADS_1
***