RAHASIA ALITA

RAHASIA ALITA
Bab 33


__ADS_3

"Terima kasih kerjasama nya. Semua informasi akan kami selidiki."


Arkan bersalaman dengan polisi. "Baik, Pak."


Selama lebih satu jam Arkan di kantor polisi memberi keterangan kasus penyekapan. Termasuk rekaman percakapan Lanni yang menyuruh Alita datang dengan dalih ada yang mau mencelakai Arkan, dan memancingnya ke tempat terpencil.


Ini membuktikan Alita hanya membela diri karena dicelakai.


"Halo, Firas. Tolong lo handle urusan kantor. Hari ini gue mau jenguk Alita."


"Iya Kan. Lo yang sabar ya. Alita pasti sembuh."


Arkan tersenyum getir dan memutuskan telepon.


Ia masuk mobil dan bergegas menuju suatu tempat.


Sudah sebulan berlalu sejak kejadian naas itu.


Lanni, Riga, Zen, dan Ergi dirawat di rumah sakit karena luka cukup parah. Bahkan karena trauma, mereka mengakui perbuatannya pada Alita tiga tahun lalu.


Dan mereka siap menerima hukuman dengan kasus pem*rkosaan dan penculikan.


Alita dirawat di rumah sakit jiwa. Ia tidak bisa dihukum setelah medis menyatakan dia mengidap gangguan psikis. Menurut keterangan, dia tidak bersalah dan hanya membela diri. Faldo pun tidak mengajukan tuntutan atas kecelakaan maut kakaknya. Selain karena kakaknya bersalah saat itu, Alita tidak menyadari sudah dikuasai Athena dan bertindak gegabah.


Veni mendampinginya untuk terapi. Karena Alita selalu menangis tanpa tahu penyebabnya.


Ia hanya tahu dirinya sakit dan membahayakan. Dalam alam bawah sadarnya ia melakukan tindak kriminal. Mengetahui itu ia jadi ketakutan dan menangis.


Veni menjelaskan kondisi Alita bisa membaik jika didampingi orang yang menyayanginya. Membuatnya merasa dicintai. Perasaan itu dapat memicu sembuh dari gangguan psikis yang dideritanya selama ini.


Dan itu yang akan Arkan lakukan. Seperti janjinya pada Athena.


***


"Ini rasa strawberry. Kesukaan kamu. Sini aku suapin ya."


Alita menerima suapan es krim kesukaannya, dan tersenyum. "Makasih ya Tuan."


Arkan mencubit gemas hidungnya. "Jangan panggil Tuan lagi."


"Lho saya udah dipecat, Tuan?" Tanya Alita polos.


"Iya kamu udah aku pecat."


Alita jadi panik. "Jangan pecat saya Tuan. Saya harus kemana kalau... Hmmmppptt..."


Perkataannya terpotong begitu sesendok es krim disuap paksa memasuki mulutnya.


"Ya kamu tetep di rumahku."


Alita bingung. "Saya dipecat tapi masih tinggal di rumah Tuan?"


Arkan membersihkan sisa es krim di bibirnya. "Jangan panggil aku Tuan. Panggil aku Arkan."


"Hah? Duh masa' panggil majikan pake nama?" Keluh Alita membuat Arkan makin gemas wanita ini tidak mengerti juga kode yang diberikan.


"Kalau nggak mau, panggil aku sayang." Kata Arkan membuat Alita terbatuk-batuk.


"Apa? Sa-sayang?"


Arkan menyentuh pipinya dan menatap wajah pucat yang terlihat sangat cantik meski memakai baju pasien.


"Tuan apa maksudnya?" Alita jadi gugup.


Arkan jadi geram dan mencubit pipinya gemas. "Nggak ngerti juga."


"Tuan sakit dong.. Tuan..."

__ADS_1


Cup.. cup..


Alita kaget Arkan tiba-tiba mencium bibirnya. Dua kali berturut-turut.


"Tuan.."


Cup..


Lagi-lagi...


"Tu..." Alita diam begitu Arkan sudah siap menyerang bibirnya lagi.


"Sekali kamu manggil aku Tuan, satu kali cium."


Alita jadi panik sekaligus malu. "Malu ah banyak orang.."


Di sekeliling banyak pasien RSJ dan suster berseliweran.


"Makanya kamu cepet sembuh. Kita pulang. Aku tau kamu nggak nyaman di sini."


Alita mengangguk. "Iya Tu..." Ia terdiam dan menahan bibir Arkan yang sudah mau nyosor dengan jarinya.


"Padahal aku nunggu kamu kelepasan manggil Tuan."


"Kalau aku udah bukan ART, untuk apa aku tinggal di sana?" Tanya Alita. "Aku bukan disuruh jadi temen tidur aja kan?"


Arkan menangkup kedua pipi Alita yang terasa panas. Lalu menatapnya lekat.


"Aku sayang kamu."


DEG.


Alita menggigit bibir menahan tangis. "Bohong."


"Aku serius."


Arkan menghadapkan wajahnya lagi serius. "Siapa yang bilang begitu?"


"Arden." Alita mengingat perkataan merendahkan begitu ia meminta penjelasan hubungannya dengan Arden. Katanya tidak mungkin orang terhormat sepertinya bisa jatuh cinta dengan wanita rendahan pinggir jalan.


"Dia begitu karena nggak benar-benar mencintai kamu, Alita. Tapi aku.." Arkan menggenggam tangannya. "Aku bukan dia yang berpura-pura mencintai."


Alita membalas menatapnya, sayu. "Kenapa? Aku bukan wanita baik-baik."


"Kata siapa?" Arkan menatapnya lebih dekat. "Kamu wanita paling baik yang pernah kukenal. Dan satu-satunya wanita yang ingin aku jaga, aku lindungi seumur hidup."


"Aku udah kotor." Air mata Alita tidak tertahan.


Arkan menggeleng. "Nggak sama sekali."


"Aku nggak normal. Aku takut suatu saat nyakitin kamu."


"Aku nggak akan biarkan itu terjadi."


"Aku.."


Alita tidak sempat melanjutkan kata-katanya begitu Arkan membungkam bibirnya dengan ciuman lembut.


"Ngg.." Alita salah tingkah bingung harus berbuat apa.


"Kamu boleh kasih ribuan alasan, tapi itu nggak akan mengubah perasaanku. Aku sayang kamu. Dan aku ingin kita menikah."


Alita terbelalak lebar. "Menikah?"


"Aku akan tanya dokter kamu kapan boleh keluar rumah sakit. Kalau masih lama, kita nikah di sini. Hari ini juga."


"Tuan jangan bercanda ah..."

__ADS_1


Satu kecupan mendarat lagi di bibir Alita.


"Eh Arkan.. jangan gegabah gitu ngajak aku nikah.."


"Aku udah pikir-pikir dengan sangat matang, sayang. Kita menikah. Aku akan jadi suami yang baik dan menjaga kamu sampai kapanpun."


"Arkan kenapa nggak tanya keputusan aku dulu?" Alita mendadak panik.


Arkan tersenyum. Ia tidak perlu persetujuan karena ia sudah berjanji pada Athena untuk menjaga dan menyayangi Alita.


Lalu ia mengeluarkan kotak kecil cantik, dan berlutut di hadapan Alita.


"Maukah kamu jadi istriku?"


Alita berdebar tak karuan dalam situasi begini.


Apalagi begitu Arkan membuka kotak kecil itu dan tampak cincin berkilauan yang begitu indah.


Spontan Alita menutup mulutnya, tak percaya.


"Will you marry me, Alita?" Tanya Arkan sungguh-sungguh.


"Arkan jangan bercanda gini.." ia panik semua mata tertuju pada mereka berdua.


Para suster, dokter, pasien, bahkan pembesuk yang ada menyaksikan acara melamar ala drama Korea.


Bahkan beberapa pasien berteriak-teriak sambil loncat loncat menyuruh terima lamarannya.


"Aku nggak bercanda."


Datang beberapa orang, membuat Alita tambah kaget.


"Bagaimana, Pak? Bisa dimulai sekarang pernikahannya." Penghulu dan petugas KUA muncul.


Alita menganga lebar dan menatap Arkan yang tersenyum menyematkan cincin di jari manisnya.


"Ayo kita menikah sekarang."


***


Nggak terbayang pernikahan Arkan dan Alita harus diadakan di rumah sakit jiwa, dengan saksi para dokter dan suster.


Saking shock nya Alita sampai tidak berkutik digiring ke depan penghulu.


Begitu mereka sah menjadi suami istri, Arkan mencium kening Alita penuh sayang.


"Istriku.."


Alita benar-benar tidak menyangka terjebak di situasi pernikahan mendadak seperti ini.


Begitu Arkan berdiskusi dengan dokter dan menandatangani surat persetujuan keluar dari rumah sakit, Alita hanya bingung.


Dengan syarat Alita rutin check up dan dijaga emosinya.


Veni datang ke rumah sakit mendengar kabar Alita akan keluar setelah dokter melakukan pemeriksaan akhir.


"Veni, makasih ya udah ngerawat aku selama ini. Maaf ya bulan madu kamu sama Faldo jadi ketunda gara-gara ngerawat aku."


"Iya sama-sama Al. Pokoknya mulai sekarang, jangan pendam apapun sendirian. Kalau kamu nggak bisa bicara sama Arkan, bisa bicara sama aku sebagai temen kamu. Mulai sekarang, jangan anggap kamu sendirian. Banyak yang sayang sama kamu. Arkan, ada Firas, Faldo, aku. Kami semua ada untuk kamu."


Mendengar kata-kata Veni menghangatkan hati Alita hingga air mata menetes.


Semua penderitaannya selama ini hampir membuatnya putus asa ingin mengakhiri hidupnya. Tidak ada yang peduli padanya. Tidak ada yang menyayanginya.


Namun itu semua sirna karena kehadiran Arkan.


Arkan membuktikan ucapannya dengan menikahinya.

__ADS_1


***


__ADS_2