
Sehabis belanja, Arkan mengajak Alita makan di restoran mewah.
Alita yang begitu cantik dan polos membuat Arkan lebih posesif, tidak membiarkannya lepas sebentar saja.
Mereka duduk berdampingan di meja bulat. Waitress membawakan buku menu.
Yang mana Alita langsung terbelalak lagi melihat harga yang mana masakan paling murah saja 200 ribu berupa kentang rebus.
"Nggak usah dilihat harganya. Kalau suka tinggal bilang, sayang." Arkan tersenyum gemas. Sungguh jalan dengan istrinya membuatnya bahagia melihat setiap tingkahnya.
Mungkin kasarnya tingkah istrinya terkesan kampungan. Tapi di mata Arkan, itu tingkah termanis. Polos. Tidak ada kebohongan. Apa adanya.
Alita masih ragu melihat buku menu. "Tapi.."
"Sekali lagi protes, sekali cium ya?" Ancam Arkan sambil mendekatkan kepalanya.
Alita menggeleng cepat. "Iya enggak protes lagi. Tapi bingung mau pesan apa. Ini beda masakannya sama waktu aku kerja jadi asisten chef."
"Ya udah aku pesenin yang paling mahal."
"Eh jangan. Aku mau ini aja deh, beef steak saus barbeque." Ia berusaha tutup mata karena harganya 750 ribu. Setidaknya lebih murah dibanding makanan lain yang di atas satu juta.
"Itu aja?"
"Iya, sayang."
"Pesen lagi. Kamu harus banyak makan."
Duuhh Arkan nih seneng bikin aku gemuk gara-gara banyak makan, batinnya. Daripada protes kena cium depan umum, ia melihat lagi.
"Aku mau ini." Alita menunjuk gambar karena nggak berani lihat harga.
"Chicken cream soup. Ada lagi?"
Alita menggeleng.
Begitu waitress mencatat semua pesanan, Alita lihat kanan kiri.
"Kenapa?" Tanya Arkan.
__ADS_1
"Ini pertama kalinya aku belanja di mal. Dulu cuma dateng lihat-lihat aja nggak bisa beli apa-apa."
Mendengar kesulitan istrinya di masa lalu membuatnya merinding.
Membayangkan Alita datang ke mal dengan wajah polos lihat-lihat barang yang diinginkan tanpa bisa membeli.
Sedikit menyesal kenapa ia tidak bertemu lebih awal dengan Alita agar ia bisa memberikan yang tidak dimiliki.
"Apa yang mau kamu beli, sayang? Bilang sama aku." Arkan mengelus kepala Alita lembut.
Alita jadi malu-malu membuat Arkan penasaran.
"Apa sih kok kamu malu-malu gitu?"
"Yakin mau tau aku pengen beli apa?"
Arkan mengangguk. "Bilang aja."
"Ngg... Aku kalo liat toko perlengkapan bayi, jadi ngekhayal aja seandainya punya bayi pasti lucu-lucu barangnya."
Arkan langsung tersenyum sumringah. "Jadi kamu pengen punya bayi?"
Sesuai dengan keinginan Arkan.
Alita juga ingin punya anak.
Arkan menekankan ini rumah tangga impian yang harus ia jaga.
"Kalo gitu nanti kita ke dokter kandungan untuk konsultasi dan kita bisa program hamil."
Alita agak murung mengingat masa lalunya dan teringat dia sudah dijamah beberapa pria.
"Hey sayang..." Arkan mendekatkan wajahnya hingga menatap lekat bola mata istrinya. "Jangan pikirin yang buat kamu sedih. Ada aku yang jaga kamu sekarang."
"Makasih ya udah terima aku apa adanya," kata Alita pelan membuat Arkan tersenyum.
"Kalau mau bilang makasih, nanti malem mau berapa ronde?"
Alita melotot dan mencubit hidung Arkan gemas. "Iihhh ..."
__ADS_1
"Pokoknya kamu jaga kesehatan. Biar kita bisa program. Jangan pikirin apapun yang bikin kamu sedih. Dan jangan pernah rahasiain apapun dari aku. Ada apapun kamu harus cerita."
"Iya sayang."
Pesanan datang membuat Alita menelan ludah melihat makanan yang begitu harum wanginya.
"Sayang, ini makannya harus pake pisau?" Alita bingung.
"Sini aku ajarin caranya." Arkan pindah berdiri di belakang Alita dan memegang kedua tangan dari belakang.
"Dagingnya ditusuk garpu. Terus kamu potong dagingnya kecil aja. Langsung makan."
Alita mengangguk angguk paham sambil mulai makan.
Arkan duduk kembali di sampingnya sambil tersenyum melihat istrinya lahap makan.
Entah kenapa dia merasa ada yang disembunyikan istrinya dan membuatnya gelisah walau ditutupi.
***
Hampir 30 menit Alita menghabiskan makanannya tanpa sisa. Ia begitu senang menikmati makanan lezat yang baru dilihatnya.
"Suka makanannya?" Arkan membersihkan sisa saus di bibirnya.
"Suka. Tapi jangan keseringan juga makan di sini. Boros."
Arkan tertawa kecil mendengarnya. "Iya sayang. Udah? Ada yang mau dibeli lagi?"
Alita menggeleng dan merajuk. "Aku mau pulang. Kekenyangan."
"Mau aku gendong ke basement?"
"Masih bisa jalan kok, sayang. Tapi pelan-pelan."
Alita memeluk lengan Arkan manja. Ia merasa bahagia begitu dimanjakan dan disayang.
Arkan mengelus rambut Alita penuh sayang.
Lalu mereka meninggalkan mal dengan hati bahagia.
__ADS_1
***