RAHASIA ALITA

RAHASIA ALITA
Bab 21


__ADS_3

Malamnya alih-alih pergi makan malam berdua, Alita malah meringkuk di balik selimut, menggigil hebat.


Arkan merawatnya dengan telaten di kamar hotel Alita, ia merasa bersalah karena meninggalkannya demi menemani Clara, Alita jadi begini.


Alita sudah berdandan sangat cantik untuknya, namun ia memilih pergi dengan Clara walau terpaksa, tentu saja Alita sedih. Hanya tidak menyangka sampai nekat begini.


Kalau begini, gue harus tunda kepulangan sampai Alita sehat, batin Arkan.


Ia berdiri namun mendadak tangannya digenggam erat.


"Tuan mau ke mana?" Tanya Alita pelan dengan bibir pucat.


Arkan duduk lagi di sisi ranjang dan mengusap kepala Alita lembut.


"Jangan pergi, Tuan. Saya takut ditinggal sendiri." Air mata Alita menetes pedih.


"Aku cuma ke kamarku mau ambil HP. Sebentar aja."


Alita menggeleng dan mempererat genggamannya. "Jangan pergi. Sebentarnya Tuan bikin saya takut Tuan pergi lagi seperti tadi."


Arkan terdiam. Kasihan melihat wanita yang tak berdaya.


"Tolong, Tuan.. jangan pergi." Alita mulai terisak.


"Al..." Arkan mengusap pipinya dan menggeleng. "Aku nggak kemana-mana, jangan nangis lagi. Aku di sini temenin kamu."


Alita mulai tersenyum meski wajah pucatnya cukup mengkhawatirkan.

__ADS_1


"Sekarang kamu tidur ya. Biar cepet sembuh." Arkan mengusap kepalanya lembut.


Alita menurut dan memejamkan mata. Tanpa melepaskan tangannya Arkan.


Perasaan Arkan jadi tak karuan, bingung dengan rasa di hatinya.


Ia merasa sudah sepenuhnya berubah.


Dulu ia sosok yang tegas, dingin, nggak banyak bicara.


Tapi sejak ada Alita, semua berubah. Ia jadi sosok yang lebih hangat.


Terutama karena penderitaan yang dialami Alita membuatnya kagum wanita itu masih bisa bertahan.


Kabur dari satu tempat ke tempat lain.


Ia salut pada ketegaran hati Alita. Dalam keputusasaan, normalnya jika mendapat perlakuan seperti yang didapat Alita, wanita sebayanya bisa jadi gila atau bunuh diri.


Arkan tidak ingin Alita menderita lagi. Melihat air matanya sungguh merobek hatinya.


Tiba-tiba Alita menggigil hebat, membuat Arkan kaget.


"Lho Alita, kamu kenapa?" Arkan lebih panik menyentuh tubuh Alita yang ternyata dingin sekali.


"Astaga.. Alita!"


Alita kedinginan hebat. Bibirnya bergetar giginya sampai berbunyi.

__ADS_1


"Alita,, Al kamu denger aku?" Arkan menepuk pipinya pelan, Alita bergeming.


"Duuhh gue harus ngapain?"


Memanggil dokter pun sulit di luar hujan makin deras.


Tiba-tiba ia teringat, dulu ketika ia kecil, ia pernah kedinginan seperti ini. Meta sang Mama memberi pertolongan dengan teknik skin to skin. Pertolongan pertama bagi pasien kedinginan.


Arkan jadi dilema.


"Tapi, apa gue harus? Gimana kalo dia malah salah paham ngira gue lecehin dia?"


Wajah Alita makin putih, bibirnya makin bergetar hebat.


"Gimana pun juga gue harus nolong dia. Bodo amat deh nanti dia marah atau gimana. Gue nggak bisa diem aja liat dia sakit begini." Arkan melepas kausnya.


Dengan bertelanjang dada, ia menyibakkan selimut dan berbaring di samping Alita.


Direngkuhnya tubuh Alita sehingga kulit mereka menempel. Rasa dingin menerpa kulitnya yang hangat.


Alita mendekap tubuhnya erat dan mengikis jarak antara mereka membuat hasrat lelaki Arkan terbit merasakan sentuhan lembut.


Gairahnya terpancing, sebisa mungkin ia menekan perasaan itu.


Tahan Kan, tahan.. jangan kelepasan.. kasian Alita, udah ketipu Bang Arden, dijebak Riga, masa' gue juga mau samaan gituin dia? Apa bedanya gue sama Abang dan sodara tiri itu?


Arkan mati-matian menahan jangan sampai menyakiti Alita.

__ADS_1


Meski sangat sulit apalagi dada Alita menempel padanya terhalang kaus yang dipakai.


***


__ADS_2