
Hari yang ditunggu akhirnya tiba.
Pesta pernikahan mewah diadakan di rumah Arkan dengan tema pesta kebun. Dengan pelaminan dihiasi bunga-bunga cantik, di pinggir kolam renang.
Sejak pagi Alita sudah dirias oleh tiga orang.
Ia sampai tidak berani melihat hasilnya di cermin.
Saking gugup membayangkan akan menemui rekan bisnis Arkan yang pastinya dari kalangan atas.
Ia khawatir malah mempermalukan suaminya.
Pintu terbuka, Stacy menggunakan dress pesta merah, datang memastikan semua berjalan lancar.
Melihat Alita, ia terkagum-kagum. "Mbak Alita cantik banget."
Pipi Alita merona dipuji begitu. "Jam berapa mulai acaranya, Stacy?"
"Udah mau mulai. Aku disuruh jemput Mbak Alita. Yuk."
Sedikitpun Alita tidak berani melihat cermin. "Tapi aku udah cantik belum?"
"Cantik banget, Mbak. Dijamin deh Pak Arkan terpesona pake banget deh.." Stacy menuntun Alita keluar kamar.
***
Di pelaminan, Arkan sudah menunggu dengan jantung berdebar.
Meski ia sudah menikah dengan Alita, tetap saja ada rasa gugup kedua kalinya berada di pelaminan begini.
Dan ia ingin semua berjalan lancar. Bahkan demi menjaga keamanan, ia menugaskan sepuluh security.
CCTV dipasang di setiap sudut.
Menghindari empat orang yang dilarang hadir, tentu saja Lanni, Riga, Ergi, dan Zen.
Karena menghindari kekacauan khawatir Athena marah dan muncul lagi.
MC mengumumkan pengantin wanita akan datang membuat jantung Arkan makin nggak karuan.
Bahkan sampai berkeringat dingin.
Ketika Alita muncul mengenakan gaun pengantin berwarna peach, dengan tiara penuh berlian menghiasi kepalanya.
Arkan sampai tak kedip, tubuhnya terpaku, terkejut melihat istrinya yang tampak seperti bidadari.
Bukan hanya Arkan seisi ruangan hening melihat ratu dari Arkan Hutama.
Begitu mereka berdampingan di pelaminan, Arkan tak tahan ingin mencium Alita namun Alita menahannya.
"Arkan, banyak yang lihat," sergah Alita melihat tatapan gemas suaminya.
"Lagian istriku cantik banget, sedikit aja.."
"Nanti aja ah malu.."
__ADS_1
"Ayolah.."
"Ehmm .." suara berat menghentikan Arkan yang sudah kepalang nafsu tinggal satu senti di depan bibir Alita.
Alita jadi malu Faldo dan Veni muncul.
"Sabar napa, bro.. kayak pengantin baru aja, udah nikah berbulan-bulan juga," komentar Faldo membuat Arkan mendengus .
"Apaan sih lo?"
Veni memeluk Alita. "Selamat ya Al. Langgeng sampe tua, dan semoga kalian cepet punya anak."
Semua mengaminkan doa Veni.
Faldo berpelukan dengan Arkan. "Semoga ini jadi pernikahan lo yang terakhir, dan bisa menua sama istri lo."
"Aamiin. Thanks ya Do. Doa gue buat lo sama Veni juga."
Lalu satu per satu tamu undangan naik ke pelaminan mengucapkan selamat.
Alita yang semula gugup dan canggung, namun Arkan menguatkannya.
Sendi dan Naina orangtua Laudya dan Faldo, turut hadir.
Semenjak Laudya dan Arden meninggal, mereka tinggal di luar negeri agar Naina cepat move on dari trauma kehilangan anak perempuannya.
Tentu Faldo merahasiakan hal ini bahwa Alita alias Athena yang sudah mencelakai Laudya dan Arden.
Kalau tidak, orangtuanya bisa histeris lagi.
"Selamet ya," kata Andini tanpa melihat Arkan dan Alita.
"Terima kasih, Tante.."
"Kamu kan bisa cari yang lebih. Malah mantan ART kamu nikahin. Dia nggak ada sebanding dengan Lanni." Andini mulai dengan perkataan pedasnya.
Rian langsung maju.
Rian yang sudah dengar tentang perbuatan anak tirinya, jelas nggak membenarkan tindakan istrinya yang melampiaskan emosi pada Arkan.
"Jangan judes gitu dong, Ma. Kasih selamat nya yang ikhlas. Nggak perlu pake judes begitu bicaranya." Rian menepuk pundak Arkan. "Selamat ya, Arkan. Semoga kalian bahagia. Dan ini jadi pernikahan kamu yang terakhir. Maafin anak Papa ya."
Arkan mengangguk. Kalau dengan Rian, Arkan sudah menganggap sebagai Papa. Karena sejak dulu Rian yang selalu membelanya kalau sudah dipojokkan oleh Lanni dan Andini.
Rian menyayangkan Andini yang terlalu memanjakan Lanni hingga kurang aj*r pada Arkan meski Lanni jelas salah.
Lanni adalah anak dari Irman suami pertama Andini yang sudah lama berpisah.
Selama ini Rian dilarang ikut campur urusan perdebatan Lanni dan Andini.
Tapi mendengar mulut pedas istrinya sungguh membuatnya malu.
Andini belum puas memaki Alita, namun bergegas dibawa pergi oleh Rian.
"Nggak usah diambil hati ya sayang." Arkan memeluk bahu Alita yang hanya tersenyum kecil.
__ADS_1
"Iya nggak apa-apa kok sayang."
Para tamu undangan bergantian memberi selamat pada raja dan ratu sehari yang tampak memukau. Begitu serasi, yang pria begitu tampan, yang wanita cantik seperti bidadari.
Makin siang, Alita mulai kelelahan.
Arkan masih menyambut tamu.
Alita duduk sendirian di pelaminan karena Arkan sedang mengobrol dengan tamu.
"Eh tapi, kok kepalaku pusing?" Gumamnya tiba-tiba mengerjapkan mata.
Pandangannya buram, ia memegang kepalanya.
"Apa karena tiaranya cukup berat bikin kepalaku pusing?" Pikir Alita, berusaha melawan rasa sakit.
Malu pada tamu yang datang kalau dia tumbang di sini.
"Alita, kamu kenapa?" Veni menghampirinya yang makin pucat.
"Kepalaku pusing, Ven?" Alita menjatuhkan kepala di bahu Veni.
"Lho Alita... Al..."
***
Pintu kamar terbuka.
Dokter Rena keluar ruangan setelah memeriksa Alita.
"Gimana Ren? Kenapa Alita?" Tanya Arkan khawatir.
Rena tersenyum dan menepuk pundak Arkan. "Selamet Kan, istri kamu hamil."
Arkan terbelalak kaget. "Hamil? Bukannya dia...?"
"Aku emang bilang dia pernah keguguran, tapi aku nggak bilang lho dia nggak bisa hamil." Rena memperjelas pemahaman. Mungkin Arkan terlalu shock hingga bingung sendiri.
"Jadi, sekarang.. aku akan jadi ayah?" Arkan mulai berbinar.
Rena mengangguk. "Selamat ya Kan.."
Arkan mengucap syukur berkali-kali atas penantiannya selama ini.
"Jaga baik-baik ya Kan. Usia kehamilannya masih sangat muda. Nanti kalau Alita sudah membaik, kamu bawa dia ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut."
"Thanks ya Ren." Arkan tak sabar ingin melihat istrinya.
"Eh Kan, Inget lho. Dia lagi hamil muda. Jangan terlalu banyak diajak hubungan." Rena mengingatkan membuat Arkan cengar-cengir.
"Tapi boleh kan?"
Belum Rena menjawab, Arkan melambai tangan dan masuk kamar.
Rena geleng-geleng kepala dan bergegas pergi.
__ADS_1
***