
Tiba di rumah, Alita langsung ke kamarnya untuk istirahat.
Badannya terasa remuk. Ia lelah sekali.
Barusan Arkan bilang ada urusan kantor jadi harus pergi.
Alita memanfaatkan waktu luang untuk istirahat saja.
Apalagi semalam ia sakit, tulang-tulangnya terasa linu teringat semalam ia kedinginan.
"Duh semalaman aku dipeluk Tuan Arkan." Alita memeluk guling, gemas sendiri.
Bahkan sentuhan hangat kulit Arkan masih terasa di tubuhnya.
"Aaarrggh... Tuan Arkan romantis banget sih.."
Mengingat tiga hari ini ia habiskan berdua dengan Arkan, membuatnya berbunga-bunga.
Arkan memperlakukannya dengan sopan.
Ciuman romantis di lift tidak bisa dilupakannya.
Pelukan hangat Arkan di bawah hujan.
Pelukan dari belakang tadi pagi.
Semua itu membuatnya merasa Arkan menaruh hati padanya.
Walau ia sempat kesal kebersamaan mereka diusik Clara.
Teringat tatapan takut Clara barusan padanya.
"Kenapa dia takut sama aku? Padahal aku aja nggak cari masalah sama dia."
***
"Gimana hasil investigasi lo, Do?"
Faldo menggeleng. "Dari analisa CCTV di seberang jalan, nggak ada tanda-tanda keberadaan Alita di lokasi terbunuhnya Bu Ina."
"Jadi Pak Burhan bohong?" Firas heran.
"Dia nggak sepenuhnya bohong. Karena Alita terlihat sekitar lokasi setelah pembunuhan terjadi. Dilihat dari jam nya, sesuai dengan kesaksian pemilik toko tepat jam 10 malam. Karena Alita menyewa lapak jualan sampai jam segitu. Alita lewat lokasi kejadian pukul 22.10. Sedangkan identifikasi polisi, Bu Ina tewas pukul 21.25."
Arkan makin bingung. "Bagaimana Bu Ina bisa tewas?"
__ADS_1
"Banyak luka sayat pisau di tubuhnya. Terutama di leher, rambut Bu Ina pun habis dipotong. Bahkan kepalanya terhantam benda tumpul. Dia dipukul tongkat."
"Kok aneh ya? Kenapa sampai rambutnya dipotong?"
Arkan teringat cerita Alita. "Ras, lo Inget Alita cerita dia dijambak dan dicakar. Apa ada orang yang nggak terima perbuatan Bu Ina dan balas dendam untuk Alita?"
Firas agak ragu. "Apa nggak terlalu aneh dugaan ke sana? Bisa jadi cuma kasus perampokan."
"Kan, gue cuma bisa menyimpulkan sekarang kalau Pak Burhan nggak punya alasan kuat ngejar Alita. Karena ada tersangka lain yang diduga pembunuhnya." Faldo memutar video di laptop.
Arkan dan Firas memperhatikan video dari CCTV jalan.
"Nggak ada video yang lebih jelas?" Arkan memicingkan mata bingung.
"Kejadian terjadi di gang sepi, dekat barang rongsokan. Satu-satunya CCTV yang ada hanya ini. Jangkauan gambar juga terbatas dan kurang jelas."
Di video terlihat jalanan cukup sepi. Bu Ina terlihat jalan masuk ke gang. Tak lama kemudian ada seorang bertopi berbaju hitam.
"Wait.. siapa dia?"
"Nggak bisa dilacak. Polisi nggak bisa nemuin dia."
"Dia dicurigain pembunuhnya?"
"Nggak bisa dipastikan wajahnya karena terhalang topi. Jangkauan CCTV juga menyulitkan mengidentifikasi wajah. Menurut CCTV, pukul 20.36 Bu Ina masuk gang. Orang misterius ini masuk pukul 20.40. Lalu dia keluar gang tepat pukul 21.00. Bu Ina ditemukan tewas pukul 21.25. Tongkat yang digunakan ditemukan di pintu masuk gang. Ada noda darah Bu Ina. Tapi nggak ditemukan sidik jari."
Arkan tercekat.
Athena??
Meski gambarnya kurang jelas, ia bisa mengenali dalam kegelapan, wanita berlipstik merah menyala itu Athena.
"Ras, itu yang namanya Athena." Arkan jadi bingung teka teki ini makin rumit.
"Athena yang bunuh Bu Ina?" Firas heran.
"Siapa Athena?" Tanya Faldo.
"Partner ranjang khayalan Arkan," jawab Firas.
"Khayalan?"
"Tiap dia dateng malem-malem ke kamar gue, paginya begitu gue bangun dia udah nggak ada." Arkan menjelaskan.
"Emang lo yakin dia ada?" Faldo memastikan temannya waras.
__ADS_1
"Tiap gue abis begitu sama Athena, di badan gue penuh sama lipstik."
Faldo terdiam dan saling pandang dengan Firas.
"Kesimpulannya, tuduhan Pak Burhan nggak beralasan. Tapi gue akan selidiki keberadaan Athena di sekitar Alita. Karena kalau bener, nggak aman untuk lo."
"Athena nggak bakal celakain gue. Dia itu tergila-gila sama gue."
"Bukannya lo yang tergila-gila sama dia sampe nggak fokus kerja."
Arkan mengibaskan tangan beralih topik pembicaraan. "Gimana dengan Riga dan Lanni?"
"Sesuai perintah lo, laporan dicabut. Dengan syarat Lanni tinggalin sanggar senam Zumba nya. Dan jangan pernah datang ke rumah dan perusahaan dengan modus apapun. Lanni dan Riga, harus ngaku ke orangtua mereka kalau mereka berdua selingkuh. No drama. Reality show."
"Bagus deh, itu juga kalo bener mereka nurutin syarat gue." Arkan melihat jam tangannya. "Gue balik dulu, Alita sendirian di rumah."
Baru Firas mau berdiri, Faldo menahannya.
"Mau ke mana lo?"
"Arkan mau balik."
"Anter gue ke bengkel mobil gue mogok." Faldo seperti memberi kode pada Firas.
Arkan memakai jaketnya. "Ras, bantuin Faldo ya. Gue balik duluan."
Begitu Arkan pergi, Firas menoleh bingung.
"Lo ngerasa ada yang aneh?" Tanya Faldo.
Firas mengusap dagunya. "Iya sih, tapi gue belum nemu titik anehnya."
"Gue curiga sama Alita sebenernya. Kalau bener ketika pembunuhan Bu Ina itu Athena pelakunya, gue curiga Athena masih sembunyi dan Alita yang sembunyiin."
"Masuk akal sih, dan mengenai Bang Arden.. dia.. " Firas menutup mulut, baru ingat Faldo belum tahu.
Mata Faldo menyipit. "Kenapa dengan Bang Arden?"
Setelah didesak, Firas angkat bicara.
"Alita itu wanita selingkuhan Bang Arden yang pernah diusir sama Laudya."
Faldo terkejut sampai menyenggol gelas di meja.
Pranggg...
__ADS_1
***