
Sementara di kamar hotel lantai 9, Clara menunggu dengan resah karena Arkan belum datang.
Padahal ia sudah dandan habis-habisan demi menyambut Arkan.
Dress seksi dengan lipstik merah senada dengan bajunya.
Ia sudah bertekad akan tidur dengan Arkan malam ini dan harus bisa hamil anaknya agar Arkan mau menikahinya. (cewek s*nting)
Tapi Arkan nggak ada kabar. Ditunggu nggak datang juga.
Ia berkali-kali coba menghubungi HP-nya, menelepon kamarnya, tidak ada jawaban.
"Where are you, Arkan?" Ia begitu cemas dan penyakit hiperbolis plus overthinking nya kumat.
"Gimana kalo dia pingsan di kamarnya? Trus nggak ada yang tau. Oh no, aku harus ke sana. Dia pasti butuh bantuan aku.."
Tanpa buang waktu Clara turun ke kamar Arkan. Hanya menggunakan kimono untuk menutupi keseksian tubuhnya.
Ting tong.. Ting tong... Ting tong.. Ting tong...
Tanpa ampun ia memencet bel dengan barbar.
"Arkan.. are you okay?" Ia mengetuk pintu begitu berisik.
"Arkan.. Arkan.. jawab dong! Kamu di dalem kan? Kamu baik-baik aja?"
"Arkan!"
"Hey.. jawab!"
"Open the door, honey!"
Paniknya lebay jelas mengganggu ketenangan hingga tamu depan kamar Arkan melaporkan.
__ADS_1
Karena berisik, manajer hotel datang bersama security.
"Mohon maaf, Miss. Mohon tidak berisik di sini. Beberapa tamu terganggu dengan teriakan Miss."
"Saya nggak berisik. Ini pacar saya nggak jawab dari tadi saya pencet bel, makanya saya panggil."
"Mungkin sudah tidur."
Clara jadi panik. "Saya takut dia pingsan, Pak. Dia punya penyakit suka pingsan tiba-tiba. Saya minta kunci cadangan kamar ini. Saya cemas pacar saya di dalam."
Busyet dah Clara nih, ngaku-ngaku pacar sama ngatain Arkan punya penyakit suka pingsan. Emang cewek modus.
Karena Clara begitu berisik, sang manajer hotel bergegas menyuruh security mengambil kunci cadangan.
Biar ni cewek berhenti bikin keributan.
"Silahkan Miss. Ini kuncinya. Saya permisi. Sekali lagi mohon jaga ketenangan."
Suasana gelap.
"Arkan honey.. are you here?" Lampu dinyalakan.
"Lho? Ke mana Arkan?"
Dompet dan HP-nya pun ada di meja.
Clara mencari di kamar mandi tapi Arkan tidak di kamar.
Ia cemberut dan duduk di ranjang.
"Arkan ke mana ya? Aku tunggu di sini aja deh."
Clara berbaring di ranjang, namun teringat.
__ADS_1
"Mending aku matiin lampu. Biar surprise Arkan liat aku di sini. Lalu langsung... waw!"
Perfect plan!
Clara berencana menghabiskan malam dengan Arkan dan mendesaknya menikah. Karena Clara sudah terpikat sosok tampan Arkan sejak pertama bertemu.
Ia lebih kesengsem karena Arkan duda keren yang pastinya udah jago urusan ranjang.
Klek.
Pintu terbuka.
Clara tersenyum yakin Arkan senang melihatnya.
Terdengar langkah kaki mendekat.
"Surprise Arkan.. I'm here!" Clara menyalakan lampu meja, dan terdiam melihat sosok wanita berambut panjang di depannya.
"Siapa kamu?!!"
Wanita itu hanya memiringkan kepalanya melihat Clara dengan tatapan tajam menakutkan.
"Jauhi Arkan. Kamu tidak pantas untuk dia." Katanya pelan tapi nadanya menusuk membuat Clara mulai takut.
"Terserah aku dong. Siapa kamu berani ngelarang aku.. Arkan, Arkan .. pasti kamu di sini.."
Tiba-tiba wanita itu mengeluarkan pisau kecil dan memainkan dengan tangannya.
"Eh kamu mau apa?? Arkan.. Arkan tolong...."
Clara tidak sempat berteriak lagi ketika mulutnya dibekap cepat.
***
__ADS_1